Sedikit Tentang Asal Kata LEBARAN

Sedikit Tentang Asal Kata LEBARAN

Lebaran adalah kegiatan ritual dan sosial umat Islam di tiap tanggal 1 Syawal dan yang disebut juga Hari Raya IdulFitri.


Hari Raya Idul Fitri pertama kali dirayakan oleh umat Muslim pada tahun ke-2 Hijriah, yang sekaligus bertepatan dengan peristiwa Perang Badar, ketika kaum muslimin meraih kemenangan perang skala besar untuk pertama kalinya.


Peperangan yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 H tersebut terjadi karena aksi monopoli pasar dan blockade aktivitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap muslim Madinah. Pasukan yang dipimpin oleh Abu Jahal tersebut membawa pasukan besar sekitar 1.000 tentara lengkap dengan peralatan perang, sedangkan Nabi dari arah Madinah hanya membawa 300 sahabat yang kemudian menuju Badar.


Meski jumlah pasukan Nabi jauh lebih kecil dibandingkan kaum kafir tersebut, atas izin Allah kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan yang menakjubkan. Hal ini tentu saja memiliki makna yang sangat besar karena kaum muslimin yang selama ini sering menjadi sasaran cemooh berbalik mendapat kepercayaan diri dan kehormatan dari berbagai kalangan.


Makna kemenangannya pun memiliki dua perspektif, spiritual dan sosial


Pada perayaan Idul Fitri pertama ini, kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana yakni pencapaian ritual puasa Ramadhan setelah berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sekaligus juga keberhasilan dalam Perang Badar. Makna kemenangannya pun memiliki dua perspektif, spiritual dan sosial.


Namun sebetulnya, jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab sudah memiliki dua hari raya yakni Nairuz dan Mahrajan yang berasal dari zaman Persia Kuno. Mereka merayakannya dengan menggelar pesta pora.


Seiring dengan turunnya kewajiban menunaikan Ibadah puasa Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriah, turunlah hadis Nabi. “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.” [Hadis riwayat Abu Dawud dan An-nasa'i].


Makna Kata Lebaran


Lebaran secara etimologi, berasal dari kata dasar "Lebar" yang mendapat sufik "an" . Lebar artinya luas. Lebaran artinya keluasan hati untuk meminta maaf dan atau memaafkan atas segala kesalahan, yang dilakukan setelah berpuasa.


MA Salmun, seorang sastrawan dan budayawan Sunda yang dilahirkan di Rangkasbitung pada 23 April 1903 menjelaskan arti lebaran dalam satu artikelnya yang ditulis pada tahun 1954. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa asal usul lebaran berkaitan dengan tradisi Hindu yang bermakna "Selesai, Usai menjalankan puasa". Tradisi ini semisal dengan ajaran Islam, setelah selesai menjalankan Ibadah Puasa (Shaum) dengan yang disebut Idul Fitri. Lebaran ini sudah dijalankan sejak masa Wali Songo.


Tak ubahnya dengan sebutan Sembahyang berasal dari budaya Hindu yaitu menyembah Sanghyang Widhi Wasa, yang dalam ajaran Islam yang semisal dengan Sembahyang disebut Sholat. Sholat dalam Islam adalah kegiatan ritual yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat yang ditentukan.


Penulis: Syakiran Muaragembong  di Grup Facebook Wisata Sejarah Bekasi tanggal 24 Mei 2020.

Foto : dari www.sutrisnobudiharto.net


Lebaran menurut Wikipedia: adalah nama lain dari Hari Raya umat Islam, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha yang dirayakan setiap tahun atau setiap bulan Syawal setelah sebulan umat Muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Lebar-an dalam bahasa Jawa artinya Sudah-an/Setelah-an atau Sesudahnya/Setelahnya, dan kalimat ini sudah terbiasa digunakan dalam Islam ketika umat muslim Indonesia telah menyelesaikan kewajiban berpuasa, Lebaran dalam Islam yaitu Sesudah/Setelah melakukan kewajiban berpuasa dalam bulan Ramadhan, kaum muslim Indonesia lebih familiar dengan kalimat Lebaran dalam merayakan Hari Kemenangan.


Makna lain dari Lebaran adalah untuk meningkatkan tali silaturahmi di antara warga. Warga di sini tidak saja warga dalam trah keluarga besar, tetapi warga dalam pengertian yang jauh lebih besar.


Hal ini dapat kita lihat bahwa momentun untuk saling meningkatkan silaturahmi mengalami peningkatkan yang sangat tajam. Ketika pada hari biasa, maka tali silaturahmi menjadi jarang dilakukan karena faktor jarak. Jarak yang jauh menjadikan mereka jarang bersilaturahmi



komentar

Lebih baru Lebih lama