Gula-Gula Batavia En Ommelanden

Gula-Gula Batavia En Ommelanden
"Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah Anda dapatkan, sampai Anda benar-benar membutuhkannya" kata seorang komedian. 

Berbicara soal pengalaman sama saja dengan membicarakan apa-apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Ketika pengalaman pribadi saja sering dikunci dalam kotak masa lalu dan diabaikan, apalagi pengalaman sosial dalam ingatan kolektif. Karena ingatan kolektif lebih sering diabaikan, disadari atau tidak kita seperti orang-orang yang menderita amnesia sejarah. 

Ibarat pohon kita lupa siapa yang menanam, di mana kita tumbuh, akar tidak menyentuh tanah dan seperti tumbuhan air yang ikut ke mana arus diarahkan.

Seperti remaja tanpa pengalaman yang disodorkan narasi-narasi indah, tanpa perlu paksaan, secara sukarela kita akan melakukan apa saja atas nama "pengalaman". Peringatan dari yang sudah paham dianggap angin, kalaupun terdengar, lebih seperti larangan seorang ibu ketika anaknya membeli permen. Walau dengan penuh cinta dan logika sudah diperingatkan permen itu tidak baik untuk gigi dan lain-lain, si anak tetap saja membeli dan memakannya. Orang tua mana paham enaknya gula-gula masa kini?.

"Gula-gula" itu sekarang bentuknya bermacam-macam. Dikemas dengan narasi mutakhir dan imajinasi yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan instan. Ditawarkan 24 jam melalui semua indera, selama otak bisa bekerja, selama itu pula plasebo yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit itu disodorkan. Kunci surga yang sedang menanti untuk diambil.

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

15 Agustus 1950 itu belum lama, masih ada orang-orang yang paham mengapa Bekasi memisahkan diri dari Kabupaten Jatinegara, yang berarti lepas dari Jakarta dan masuk ke Provinsi Jawa Barat sebagai kabupaten yang setara dengan Kabupaten Jatinegara walau beda provinsi. 

Latar belakang perpisahan ini juga bukan hanya persoalan administratif naiknya status dari kewedanan menjadi kabupaten dan kotamadya (Kota) seperti sekarang, tapi soal pernyataan sikap dan semangat kemandirian para pejuang di Bekasi yang bertekad untuk menentukan nasib daerahnya sendiri sebagaimana dikenal sebagai Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi.  [Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini hal. 403]
Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi
Harian umum Pemandangan 1 Februari 1950, memuat berita peristiwa di alun-alun Bekasi tentang rapat raksasa
Semangat kemandirian yang harusnya terpatri dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat Bekasi sampai kapan pun. Tapi kalau pengalaman dan sejarah itu tidak bermanfaat, silakan masukkan ke dalam kotak masa lalu dan abaikan.

Kalau sekarang Bekasi dianggap tertinggal dari daerah tetangga-tetangganya, menurut saya itu lebih karena faktor pengelolaan yang belum profesional yang bisa disebabkan banyak faktor, mungkin salah satunya masalah anggaran yang sering dijadikan alasan pamungkas, tapi apapun itu, saya kira bergabung kembali ke DKI bukan solusinya

Ya tentu saja kalau Bekasi bergabung dengan Jakarta maka Bekasi menjadi tidak relevan lagi dibandingkan-bandingkan dengan Jakarta. Bekasi tidak bisa lagi dikatakan lebih tertinggal dari Jakarta karena Bekasi sudah bagian dari Jakarta itu sendiri, tapi apa gunanya status itu untuk kesejahteraan warganya?.

Perbincangan mengenai perpindahan Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara ini pada akhirnya menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat untuk menentukan, namun narasi yang berkembang di masyarakat rupanya tidak selesai sampai di situ. 

Polarisasi setuju dan tidak bukan hanya sebatas pro dan kontra, tapi sudah berkembang ke mana-mana. Pro dan kontra pada dasarnya bagus selama masih dalam koridor konstruktif, lain daripada itu sebaiknya dikembalikan ke forum silaturahmi dan persaudaraan.

Bekasi sudah mengalami banyak macam perpindahan administrasi daerah, kalau tidak ada nilai lebihnya bagi masyarakat lalu untuk apa pengalaman seperti itu diulangi lagi? jangan sampai menjadi petualangan yang buang-buang waktu dan biaya. 

Saya saat ini masih melihat-lihat saja, tidak mendukung dan cenderung menolak, tapi apalah gunanya? saya hanya warga kabupaten Bekasi yang keadaanya tidak sebaik Kota Bekasi. Jelas saya tidak akan pernah setuju kalau Kabupaten Bekasi ikut-ikutan latah ingin menjadi bagian dari DKI :)

Terlepas dari itu semua, diskusi kita sebagai masyarakat tentang perpindahan administrasi Kota Bekasi yang akan kembali menjadi Batavia En Ommelanden ini cukupkan di "setuju atau tidak saja". Apapun alasannya patut dihargai. Selebihnya serahkan hal seperti ini kepada para wakil rakyat dan pimpinan daerah, mereka memang digaji untuk memikirkan hal-hal seperti ini, ya kan?.


Klik untuk komentar