Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Judul: Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini.
Penulis: Endra Kusnawan
Penerbit: Herya Media Depok
Genre / Kategori: Sejarah
ISBN: 9786021032640
Tahun Terbit & Cetakan: April 2016/1
Tebal Buku: xvi + 468 hlm. Ukuran 15x23 cm. 
Harga: 110.000.

Kalau selama ini kita sering disuguhkan sejarah Bekasi hanya sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), maka buku ini merangkum banyak fakta sejarah lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 SM sampai 130 M saat Peradaban Buni dipercaya hidup di daerah Bekasi. 

Setelah kata pengantar dari penulis yang menjelaskan latar belakang dan sistematika penulisan, buku tebal ini kemudian dibuka dengan pembahasan mengenai Toponimi Bekasi. Bagi saya ini pembukaan yang menarik, karena untuk mengetahui asal usul penamaan Bekasi mau tidak mau kita harus menyelami sejarahnya.

Toponimi Bekasi

Toponimi adalah pembahasan mengenai tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari bahasa Yunani tópos yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma yang berarti nama.

Asal-usul penggunaan nama Bekasi dalam buku ini dirangkum dalam 5 halaman disertai foto-foto peta dan lain-lain. Versi penamaan Bekasi yang dibahas dalam buku ini adalah versi dari Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (1884-1964) yang memang merupakan pendapat paling ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. 

Poerbatjaraka adalah seorang cendekiawan tidak bertanding soal naskah kuno, seorang putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden Belanda bidang Sastra Jawa pada tahun 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara). Setelah masa kemerdekaan beliau menjadi profesor di sejumlah kampus ternama dan beliau mendirikan Fakultas Sastra di Universitas Udayana Bali. 

Poerbatjaraka berpendapat kata Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, kesimpulan ini berdasarkan apa yang tertulis di Prasasti Tugu di Cilincing. Chandrabhaga adalah nama sungai yang digali pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara yang bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. 
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati yang dilakukan Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Transkrip Prasasti Tugu:
Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti “bulan” dan Bhaga yang bermakna; "bagian". Diterangkan juga teori bagaimana kata Chandrabhaga kemudian menjadi Bhagasasi, kata "candradalam bahasa Sansekerta berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut "sasi" atau "wulan". 

Perubahan penyebutan dari Chandrabhaga menjadi Bhagasasi menurut buku ini akibat pengaruh bahasa Melayu yang tersebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang juga menguasai sebagian pulau Jawa termasuk Bekasi. 

Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia saat ini bersifat DM (Diterangkan Menerangkan), berbeda dengan bahasa Sansekerta yang bersifat MD (Menerangkan Diterangkan) seperti bahasa Inggris. Kemudian juga sedikit dijelaskan bagaimana dari penyebutan Bhagasasi menjadi Bhagasi, Bekassi hingga akhirnya menjadi Bekasi
Selain itu peninggalan budaya Melayu dari Sriwijaya yang masih mengakar adalah budaya berbalas pantun berima yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Sistematika penulisan buku sejarah ini diurutkan berdasarkan pada masa kekuasaan para penguasa di wilayah Bekasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sejak lengsernya kerajaan Tarumanagara, di wilayah Bekasi tidak ada lagi kekuasaan yang secara langsung memerintah sehingga menjadi wilayah semi otonom karena jauh dari pusat-pusat kekuasaan atau pun pusat pemerintahan. 

Jauh setelah itu barulah hadir kekuasaan tradisional yang kental di Bekasi dalam bentuk kekuasaan para tuan tanah partikelir melalui para mandor. Ini pun sebenarnya kekuasaan yang bermotif ekonomi, bukan kekuasaan kedaulatan seperti kekuasaan kerajaan di daerah lain di nusantara.

Secara lengkap sistematika pembahasan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini menggunakan periodisasi atau garis waktu sebagai berikut:
  1. Peradaban Buni (1000 SM-130) 
  2. Kerajaan Salakanagara (130-358) 
  3. Kerajaan Tarumanagara (358-686) 
  4. Kerajaan Sriwijaya (686-932) 
  5. Kerajaan Sunda (932-1579) 
  6. Kerajaan Sumedanglarang (1579-1620) 
  7. Kesultanan Mataram (1620-1652) 
  8. VOC (1652-1799) 
  9. Kerajaan Prancis (1800-1811) 
  10. Kerajaan Inggris (1811-1816) 
  11. Kerajaan Belanda (1816-1942) 
  12. Republik Indonesia (Perang Revolusi) (1945-1948) 
  13. Negara Pasundan (1948-1949) 
  14. Republik Indonesia Serikat (1949-1950) 
  15. Republik Indonesia (Orde Lama) (1950-1966) 
  16. Republik Indonesia (Orde Baru) (1966-1998) 
  17. Republik Indonesia (Reformasi) (1998-Sekarang)

Peradaban Buni (1000 SM-130)

Salah satu fakta sejarah adalah artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil buatan tangan manusia, seperti candi, patung, perkakas dan sejenisnya. Selain itu artefak juga dapat menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak batu dari Peradaban Buni. 

Mata kapak dari batu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari bentuk dan modelnya maka kapak batu dapat berfungsi juga sebagai fakta sosial peradaban masa itu, dan jika menempatkan kapak batu serta manik-manik tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masa itu, maka artefak tersebut juga disebut fakta mental.

Pembahasan Peradaban Buni dilengkapi dengan foto-foto artefak berupa gelang, kapak batu, manik-manik dan lain-lain, yang walaupun tidak berwarna setidaknya cukup menambah kuat penjelasan sehingga lebih memudahkan pembahasan. Tidak terlalu banyak pembahasan mengenai Peradaban Buni dalam buku ini, hanya 12 halaman dengan diisi gambar-gambar penjelasan.

Pembahasan Peradaban Buni ini singkat dan padat, merangkum banyak "kata kunci" dari berbagai sumber yang bisa menjadi pembuka pintu-pintu pembahasan lain sesuai minat pembaca atau penulis lainnya. 

Saya pernah mengunjungi rumah alm Kong Sakih di Kampung Pasir Mas Desa Buni Bakti Babelan saat beliau masih hidup. Saya melihat pecahan-pecahan gerabah dan berbagai benda yang ia kumpulkan dari sekitar rumahnya. 

Saat itu saya kurang begitu paham apa gunanya sisa-sisa artefak-artefak itu beliau kumpulkan. Sekarang sedikit paham, bahwa berawal dari artefak itu banyak fakta lain yang bisa terungkap dan memiliki kedudukan penting sebagai sumber dalam penelitian kesejarahan.

***

Cara penulisan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dibagi dalam sub-sub judul yang kaya akan informasi dan referensi sumber. Contoh saat pembahasan Bab Kerajaan Belanda ada sub bab tentang Lahirnya Provinsi Jawa Barat yang diatur oleh Belanda dalam Staatsblad 1924 No. 78.

Bagi kita yang tidak berkecimpung dalam kesejarahan ini merupakan informasi baru yang menarik. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ibu kota Provinsi Jawa Barat saat itu adalah Batavia (Jakarta) diatur berdasarkan Staatsblad 14 Agustus 1925 No. 378 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 1926. 22 tahun kemudian, setelah kemerdekaan barulah Jakarta menjadi Kotapraja yang terpisah dan kedudukan walikotanya sejajar dengan Gubernur Jawa Barat melalui UU Nomor 22 tahun 1948.

Banyak hal menarik yang diungkap oleh buku ini. Saya juga membacanya tidak teratur dari awal sampai akhir, tapi hanya membuka-buka untuk melihat-lihat gambar-gambar atau foto, membaca sub-sub judul lalu kemudian membacanya kalau sub judulnya menarik perhatian saya. 

Membaca buku ini akan lebih mudah dengan membayangkan Endra Kusnawan yang sedang bercerita sebagaimana sering saya dengar langsung baik saat dia sedang menjadi narasumber atau sedang diskusi dan ngobrol bareng. Kalau ditanyakan kepadanya tentang motivasi membuat buku ini, dia akan kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari buku sejarah Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dan seterusnya seperti yang dijelaskan pada kata pengantar buku ini. 

Ada 1 hal yang cukup penting, yaitu gaya bahasa yang digunakan. Mendengarkan dia bicara dan membaca tulisannya, saya tetap menemukan kemudahan mencerna ceritanya yang menggunakan bahasa semi formal dengan banyak pengandaian atau perbandingan.

Pembahasan yang sangat luas dengan rentang waktu yang panjang wajar membuat buku ini menjadi tebal hingga 468 halaman. Itupun sebenarnya tidak banyak topik yang dikupas secara tuntas, cukup sebagai pengetahuan umum sebagai pengantar pengetahuan kesejarahan atau pengenalan mengenai sejarah Bekasi secara umum.

Pemuda zaman now bukan tidak mau mempelajari sejarah, tapi akses untuk mempelajari sejarah itu yang sulit. Jika pun ada, sumber-sumber pengetahuan sejarah terkesan eksklusif dengan narasi formal dan baku serta menyebutkan berbagai referensi yang aksesnya juga susah, dan beberapa sebab lainnya. 

Untunglah ada Majalah Historia yang tersedia secara online dan menyajikan sejarah dengan cita rasa kekinian. Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dari pemilihan judulnya saja sudah menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab dengan orang kebanyakan. Demikian juga gaya bercerita dan penggunaan gaya bahasa yang mengisi buku ini, ringan tapi padat, cepat tercerna dan dapat dipahami awam.

Mudah-mudahan jika ada cetakan berikutnya ada pula halaman tambahan berisi tanggapan atau kritik dan testimoni yang dapat memperkaya buku ini. Karena biar bagaimanapun sejarah tidak bersifat baku dan selalu terbuka untuk direvisi dengan adanya bukti baru yang terungkap atau ditemukan fakta baru.

Tentang Penulis

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Endra Kusnawan yang saya tahu adalah seorang pendiri dan penggiat di Komunitas Historika BekasiEndra giat dalam diskusi dan kegiatan kesejarahan karena hobi dan passion. Sedangkan profesinya sepanjang yang saya tahu adalah konsultan CSR pada perusahaan swasta. 

Selain sering menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sejarah dia juga sering mengisi acara-acara motivasi sebagai motivator. Terakhir yang saya tahu dari status Facebooknya per Desember 2018 ia resmi memegang sertifikasi trainer/instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pesannya kepada saya: "Sejarah itu bersifat dinamis. Dia akan terus bergerak selama ada temuan baru. Buku tsb melengkapi buku-buku sejarah Bekasi sebelumnya. Karena banyak temuan baru yang layak untuk dianalisis lebih lanjut."
***

Artikel ini memiliki 4 Komentar

  1. Jadi tau sejarah Bekasi yang sering disebut orang-orang planet Bekasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D susah emang nyari persamaan dengan daerah lain, Bekasi tipikal industri tapi sawah dan tambak ada, punya pantai tapi ada dataran tinggi, kota tapi banyak daerah kumuh juga. Komplit, miniatur Indonesia :D

      Hapus
  2. Penulisnya itu masih muda! Andaikata setiap wilayah juga ada penulis muda yang menulis sejarah daerahnya sejak masa-masa lampau. Jadi ingat dulu ada yang pakai nama Bhagasi :D

    BalasHapus