![]() |
| Cublack Daeng Maro Test Gitar |
Awalnya saya tertarik dengan sebuah postingan grup jual beli Facebook. Ya awalnya cuma iseng scrol nyari gitar akustik bekas buat bahan gonjrengan santai kalau lagi pengen ngisi waktu luang. Tapi postingan itu malah memajang gitar Samick SS-51 bekas plus ampli gitar Threeal Orange 8 Inch seharga Rp1,6 juta. Kondisinya kelihatan masih mulus banget, padahal kalau cek harga barunya di toko online, paket sejenis masih berada di kisaran Rp2 jutaan.
Sempat ada keraguan khas orang yang sering baca cerita apes di media sosial. Maklum, pengalaman membeli gitar bekas lewat marketplace sosial media kadang penuh risiko. Pertanyaan yang muncul di kepala selalu sama: ini penjualnya beneran jujur atau cuma modus penipuan online bertopeng akun kloningan?
Saya memilih cara paling konvensional dan aman saat mau beli gitar second di Facebook: ajak COD, cek fisik langsung, coba suaranya, baru bayar di tempat.
Ternyata, keputusan sederhana itu malah berbuah manis. Gak ada drama aneh-aneh, gak ada cerita foto barang yang beda jauh dengan aslinya, dan penjualnya pun responsif tanpa keribetan. Dari pengalaman berburu gitar listrik pemula ini, saya jadi sadar bahwa di balik pekatnya isu penipuan di grup jual beli online, masih ada orang-orang yang berjualan barang bekas dengan jujur. Waspada itu wajib, tapi menghakimi semua penjual di Facebook sebagai penipu rasanya jelas tidak adil.
Jumat Sore Menuju Hartaco
Ceritanya bermula pada Jumat sore, 24 Juli 2026. Mumpung hari itu saya sedang WFH dan pekerjaan kantor kebetulan bisa disela sebentar untuk bernapas. Sebelum meluncur ke lokasi penjual, saya sempatkan ngopi santai dulu bareng teman-teman di Azzahrah Kopi Ratulangi. Suasananya ramai dan hangat, menemani sore bareng Bro Udin, Ispandy MTC Makassar, mantum Didik Iswanto, Billy AHTS, dan Alan Prasetyo PHTC, ngopi sore menemani mantum Didik Iswanto yang habis touring keliling Sulawesi, malamnya dia akan meniinggalkan makassar via laut.

Begitu majelis perkopian di warkop selesai, pikiran saya kembali melayang ke postingan gitar yang sudah tersimpan di bookmark Facebook sejak beberapa hari lalu. Saya sudah sempat kirim pesan ke penjualnya dan kami sepakat buat janjian test-drive barang di sekitaran Parangtambung dekat Hartaco Daeng Tata.
Biar makin mantap, saya mengajak Cublack Daeng Maro dan Selle Dila dari Hartaco Indah. Kami kumpul dulu di Daun Coffee sebelum konvoi menuju rumah si penjual. Sepanjang jalan, rasa penasaran beradu tipis dengan kewaspadaan. Membeli barang bekas itu tidak cukup hanya berpatokan pada foto profil yang dipajang. Apalagi yang dibeli adalah alat musik seperti gitar listrik.
Banyak detail gaib yang baru ketahuan setelah jemari kita memegang langsung instrumen tersebut:
- Neck kelihatan lurus di foto, tapi pas dipegang ternyata melengkung atau melintir (twisting).
- Fret kelihatan rapi di kamera HP, tapi pas dimainkan malah bikin suara senar berdengung (fret buzz).
- Elemen elektronik seperti pickup, potentiometer, dan jack output kelihatan bersih, tapi pas dicolok ampli malah bunyi gemerisik (kotor/junk noise) atau bahkan mati total.

Sampai di lokasi, ketakutan saya perlahan luntur. Gitar Samick SS-51 bekas yang ada bentuk fisiknya persis seperti yang ada di foto. Boleh dibilang tingkat kemulusannya masih menyentuh angka 90 persen. Lecet pemakaian minim sekali dan struktur kayu bodinya masih utuh.
Satu fakta unik yang saya baru tahu di lokasi: pemilik asli gitar ini ternyata seorang cewek. Entah kenapa, informasi kecil itu bikin saya makin yakin kalau instrumen ini dulunya dirawat dengan lumayan apik, bukan dipakai ugal-ugalan. Kekurangannya cuma satu yang kelihatan jelas, yaitu batang tremolo (whammy bar) bawaannya sudah sirna entah ke mana.
Buat saya pribadi, itu bukan masalah besar. Saya tidak sedang berniat menjadi gitaris rock era 80-an yang hobi memainkan teknik dive bomb atau atraksi whammy liar di panggung. Saya cuma butuh sebuah gitar yang nyaman untuk diajak belajar kembali. Setelah meneliti setiap sudut bodi dan mencobanya sebentar, transaksi pun beres tanpa hambatan. Gitar dan Three-al 8 Inch itu resmi berpindah tangan untuk saya boyong pulang ke rumah.
Samick SS-51: Gitar Murah yang Bikin Semangat Belajar Lagi
Saya katakan dari awal: saya bukan gitaris profesional atau pengamat alat musik jempolan. Jadi tulisan di blog ini jelas bukan bentuk review teknis yang sok paham gear. Ini murni cerita dari sudut pandang seorang amatir yang baru memegang gitar lagi setelah sekian lama vacuum.
Secara lembar spesifikasi bawaan pabrik, Samick SS-51 dibekali dengan konstruksi bolt-on yang kokoh. Bodinya menggunakan material kayu nyatoh, dipadu dengan neck Canadian hard maple yang presisi, serta fingerboard dari kayu sonokeling yang menampung 22 fret. Untuk bagian penangkap suara, gitar ini memasang konfigurasi dua pickup humbucker. Karakter dasar humbucker dikenal mampu menghasilkan karakter suara yang cukup tebal, padat, dan relatif bebas dari gangguan hum/noise.
Untuk kelas harganya yang ramah kantong, spesifikasi ini sudah lebih dari cukup buat diajak kompromi. Ada beberapa alasan kenapa gitar ini terasa langsung pas saat dipakai latihan:
- Neck yang Ramah Tangan: Profil kayu neck-nya tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Tangan saya tidak gampang pegal saat harus berpindah-pindah chord dari fret atas ke fret bawah.
- Karakter Suara Serbaguna: Konfigurasi dua humbucker membuat suaranya lumayan fleksibel. Mau dipakai memetik melodi pop, main ritme punk rock, atau bahkan sekadar mengulik melodi dangdut tipis-tipis, suaranya tetap masuk dan gurih.
- Sederhana dan Praktis: Cocok buat orang yang tidak mau pusing dengan urusan kenop dan switch kontrol yang rumit. Tinggal colok kabel ke ampli, atur volume secukupnya, dan langsung genjreng. Untuk proses belajar, kesederhanaan seperti ini justru bikin kita lebih fokus berlatih ketimbang sibuk mengotak-atik sound.
- Tuning Senar Cukup Stabil: Ini poin penting. Saya pernah memegang gitar murah yang senarnya gampang sekali fals hanya setelah beberapa kali dipetik keras atau dipakai bending. Di Samick SS-51 ini, pasokan tuner bawaannya masih bekerja lumayan baik menjaga presisi nada.
Tentu saja, gitar di rentang harga pemula tidak mungkin sempurna tanpa cela. Hal yang terasa agak mengganjal bagi saya adalah jarak ketinggian senar terhadap fretboard (action) yang terasa sedikit agak terlalu tinggi. Jemari butuh tekanan ekstra saat menekan senar di fret pertengahan.
Dari beberapa panduan tutorial yang saya tonton di YouTube, masalah action senar ini sebenarnya bisa diakali dengan menyetel ulang ketinggian bridge tremolo atau menambahkan per (spring) di bagian kompartemen belakang bodi. Tapi untuk saat ini, saya memilih jadi murid yang baik dulu dengan tekun menonton tutorial tanpa terburu-buru membongkarnya sendiri. Nanti kalau mental ngoprek sudah terkumpul, baru saya coba. Kalau berhasil ya syukur, kalau malah berantakan, paling tinggal nyari tutorial YouTube baru tentang "cara memperbaiki barang yang rusak akibat nonton tutorial." 😁
Ternyata Saya Membeli Gitar untuk Melatih Jari
Alasan utama saya akhirnya memutuskan memboyong gitar ini sebenarnya menyimpan cerita tersendiri. Sejak setahun belakangan, jari-jari tangan kiri saya mulai sering terasa kaku akibat gejala trigger finger. Dokter dan beberapa literatur menyarankan agar sendi jemari tetap aktif digerakkan lewat aktivitas fisik yang sifatnya ringan, berkala, dan tidak terlalu membebankan tekanan berlebih.
Saya jelas tidak sedang menjadikan aktivitas bermain gitar ini sebagai pengganti pengobatan medis resmi, dan saya juga tidak menyarankan siapapun menjadikan alat musik sebagai terapi tunggal medis. Namun buat diri saya pribadi, gitar menjadi instrumen taktil yang sangat menyenangkan untuk memaksa jemari tangan kiri tetap bergerak dinamis setiap hari.
Awalnya niat saya sederhana: nyari gitar akustik bekas biar praktis, tinggal ambil dari gantungan dinding lalu dimainkan tanpa perlu repot colok listrik. Tapi pas melihat postingan Samick SS-51 ini, benak saya tergelitik. Kenapa gak sekalian coba gitar listrik aja? Toh ini bisa jadi momentum buat mempelajari hal baru yang belum pernah saya dalami sebelumnya.
Ternyata pilihan itu tidak salah. Bermain gitar listrik memberikan pengalaman yang lumayan berbeda dibanding gitar akustik:
- Gitar Akustik: Punya keunggulan pada kepraktisan dan kehangatan suara kayu alami. Cocok buat dibawa nongkrong luar ruangan atau sekadar menemani bernyanyi santai.
- Gitar Listrik: Buka ruang eksplorasi yang jauh lebih luas. Karena tekanan senarnya cenderung lebih empuk dibanding senar kawat gitar akustik, saya jadi berani mencoba menelusuri fret-fret tinggi di atas posisi fret 12, mempelajari teknik sliding, hingga mencoba ulikan melodi lagu-lagu favorit yang selama ini cuma bisa saya dengarkan dari speaker HP.
Ampli Three-al yang Menemani Latihan Jari di Rumah
Memiliki gitar listrik tentu kurang afdal kalau tidak ada amplifier yang menampung suaranya. Beruntung, dalam paket pembelian bekas di Facebook kemarin, si penjual sudah menyertakan satu unit ampli gitar Three-al Orange 8 Inch.
Secara bentuk fisik, ampli ini punya dimensi yang relatif imut dan hemat tempat, sekitar 35 x 33 x 20 cm. Di dalamnya tertanam speaker berukuran 8 inci dengan keluaran daya sekitar 15 watt. Buat ukuran kamar tidur atau ruang tamu rumah tinggal, daya 15 watt itu sudah lebih dari cukup memekakkan telinga. Kalau volumenya dibuka penuh, bukan cuma saya yang belajar main gitar, satu kompleks perumahan bisa ikut dipaksa belajar mendengarkan melodi mentah saya. 😁
Fitur-fitur dasar yang ditawarkan ampli lokal ini terbilang lumayan lengkap buat penunjang latihan harian:
- Dual Channel (Clean & Overdrive): Bisa menyajikan suara petikan bening (clean) maupun suara efek distorsi gahar untuk latihan lagu-lagu rock.
- Equalizer Dasar: Tersedia knop pengaturan Bass, Middle, dan Treble untuk membentuk karakter suara sesuai selera telinga.
- Port AUX IN: Ini fitur yang paling sering saya pakai! Lewat colokan AUX IN ini, saya tinggal menyambungkan kabel dari HP buat memutar lagu atau backing track drum/bass. Saya bisa latihan melodi mengiringi musik yang sedang diputar secara bersamaan lewat speaker ampli.
Sebagai ampli entry-level buatan lokal, tentu kita tidak bisa menuntut kualitas suara dramatis layaknya ampli tabung mahal seharga puluhan juta. Karakter efek overdrive/distorsinya tergolong sederhana, serta belum dilengkapi fitur modern seperti koneksi Bluetooth, efek Reverb internal, atau Delay bawaan. Tapi buat skala kebutuhan belajar di rumah, keterbatasan itu sama sekali bukan kendala. Justru kehadiran ampli lokal ekonomis seperti ini sangat membantu pemula buat memulai hobi tanpa harus menguras tabungan.
Memainkan Not Belum Tentu Membuat Melodi Hidup
Setelah gitar dan ampli terpasang rapi di sudut ruang, kebiasaan waktu senggang saya perlahan bergeser. Kalau biasanya jam istirahat diisi dengan scrolling media sosial tanpa arah, sekarang saya lebih sering membuka aplikasi YouTube untuk berburu video tutorial gitar.
Satu judul lagu saja bisa punya belasan versi tutorial dari creator yang berbeda-beda. Uniknya, pendekatan mereka dalam mengeksekusi tangga nada lagu yang sama bisa sangat bervariasi:
- Ada gitaris yang mengeksekusi tinggian nada memakai teknik bending (menarik senar ke atas).
- Ada yang memilih teknik slide (menggeser jari antar-fret) karena terasa lebih halus.
- Ada pula yang memakai pilihan posisi fret unik yang buat jemari pemula justru terasa seperti senam jari yang membingungkan.
Biasanya saya menonton 3 sampai 4 video tutorial berbeda dulu sebelum mulai memegang gitar. Niatnya bukan buat mencari siapa yang paling benar atau paling jago, melainkan mencari teknik mana yang paling masuk akal untuk dieksekusi oleh kondisi jari saya saat ini. Karena teknik bending senar saya masih kaku dan sering bikin nada terdengar sumbang seperti senar yang sedang protes, saya lebih banyak mengandalkan teknik slide untuk menyambung antar-not melodi.
Lalu, saya mencoba satu kebiasaan baru yang cukup membuka mata: merekam permainan gitar sendiri.
Prosedurnya sederhana. Saya buka backing track lagu di YouTube, lalu saya mainkan melodi yang baru dipelajari sambil merekam suaranya menggunakan rekaman HP. Begitu selesai, rekaman itu saya dengarkan kembali pakai earphone. Nah, di sinilah momen "penampar" itu sering terjadi.
Saat jari sedang menari di atas fretboard, rasanya permainan saya sudah lumayan rapi dan keren. Tapi begitu didengarkan ulang lewat rekaman audio mentah... dugh, kenyataannya beda jauh! Suara nada yang keluar terasa kaku, patah-patah, dan sangat kering. Posisi fret dan ketukan notnya mungkin sudah benar secara teori, tapi melodi yang dihasilkan sama sekali belum bernyawa.
Dari eksperimen sederhana itu saya mengambil pelajaran berharga: memainkan musik ternyata bukan sekadar urusan memencet kolom fret yang tepat di waktu yang pas. Di sana ada dinamika tekanan jari, panjang-pendeknya alunan not (sustain), artikulasi petikan, jeda bernapas antar-frasa, hingga vibrato yang memberi jiwa pada sebuah nada. Saya coba mengulang bagian frasa melodi yang sama berulang-ulang, merekamnya kembali, lalu mendengarkannya lagi. Kadang ada peningkatan tipis, tapi sering kali pas didengar keesokan harinya, tetap saja masih terasa ada yang kurang.
Mungkin memang begitulah sunatullah dalam proses belajar apapun. Kita sering baru bisa melihat kekurangan diri secara jujur setelah berani melihat atau mendengarkan kembali hasil karya yang kita buat sendiri. Dan anehnya, kesadaran bahwa permainan gitar saya masih jauh dari kata bagus justru tidak membuat saya patah semangat. Malah ada rasa penasaran yang memicu saya untuk terus mencoba lagi di sore berikutnya.
![]() |
| Gitar Samick SS-51 second |
Gitar Bekas Itu Mengajarkan Saya Tentang Kesabaran
Perlahan tapi pasti, rasa sayang saya pada instrumen tua ini mulai tumbuh. Bukan karena gitar Samick SS-51 bekas ini adalah gitar terbaik atau termahal yang pernah ada di dunia, melainkan karena gitar ini hadir di momen kehidupan yang sangat tepat. Ia datang saat saya sedang membutuhkan media sederhana untuk belajar melepas penat, mengolah gerak jemari, serta membangun kebiasaan positif di luar rutinitas pekerjaan harian.
Pengalaman ini juga mengubah cara pandang saya terhadap barang bekas. Membeli barang second-hand tidak selamanya berarti kita mendapatkan barang buangan yang sudah kehilangan nilai guna. Kadang-kadang, barang bekas justru menyimpan jejak cerita yang unik.
Gitar ini dulunya pernah dimiliki orang lain, pernah dipetik di kamar yang berbeda, menyimpan riwayat pemakaian masa lalu, hingga akhirnya berpindah tangan menempati sudut ruang tamu saya. Ada sedikit goresan halus di bodinya, ada tremolo arm yang sudah hilang, dan ada beberapa setelan teknis yang masih harus saya rapikan pelan-pelan. Justru lewat ketidaksempurnaan itulah saya merasa membangun ikatan emosional yang hangat dengan instrumen ini. Saya tidak sedang membeli sebuah barang sempurna buatan pabrik yang dingin; saya membeli sebuah alat kerja kreatif yang bisa saya rawat dan kembangkan bertahap.
Hal itu terasa sangat paralel dengan proses belajar saya sendiri:
- Saya juga figur yang jauh dari kata sempurna dalam bermusik.
- Otot jemari kiri masih sering kaku saat berpindah chord rumit.
- Eksekusi teknik bending senar masih sering fals tak berarah.
- Suara petikan melodi masih terasa kering dan belum mengalir halus.
Namun pada akhirnya, tidak pernah ada jalan pintas yang betul-betul instan untuk menguasai keterampilan baru. Setiap detail kecil butuh pengulangan, butuh waktu, dan yang paling utama: butuh kesabaran untuk menikmati proses yang tidak selalu mulus.
Solilokui di Ujung Sore
Pengalaman memboyong gitar Samick SS-51 bekas dan ampli gitar Threeal dari sebuah postingan jual beli di Facebook ini pada akhirnya bukan sekadar transaksi mendapatkan barang murah. Lebih dari itu, saya seperti mendapatkan kembali potongan kesenangan sederhana yang sempat lama terkubur di tengah hiruk-pikuk kesibukan dewasa.
Saya tidak membeli gitar ini dengan ambisi gagah-gagahan agar terlihat keren di mata orang lain. Saya tidak membelinya karena ingin menjelma menjadi gitaris panggung yang dipuja penonton. Bahkan saat awal membuka aplikasi Facebook, saya sama sekali tidak pernah berencana untuk membeli sebuah gitar listrik lengkap dengan amplinya. Saya cuma seorang pria yang rindu pada sensasi memetik senar dan ingin kembali menikmati rasanya menjadi seorang murid yang sedang belajar.
Ternyata, dari sebuah interaksi singkat di grup Facebook lokal, uang Rp1,6 juta yang saya keluarkan tidak cuma berganti menjadi kayu, kawat senar, dan sirkuit elektronik ampli. Ia berganti menjadi alasan baru untuk menikmati sore hari dengan cara yang berbeda. Di hadapan sebuah Samick SS-51 yang sederhana, raungan tipis dari ampli Threeal 8 inci, dan barisan video tutorial YouTube yang diputar berulang kali, saya menemukan ruang kecil untuk berdialog jujur dengan diri sendiri.
Kalau sore ini nada petikan saya masih terdengar kaku dan kering, ya tidak apa-apa... besok sore saya coba ulik lagi.
Kalau tebakan fret melodi masih sering meleset dan terdengar sumbang, ya tinggal disetrikakan lagi lewat pengulangan.
Kalau satu frasa lagu belum mampu saya mainkan dengan rapi sampai malam larut, itu cuma pertanda positif bahwa proses belajar saya memang belum selesai.
Sebab pada akhirnya saya menyadari satu hal penting: gitar bekas ini bukan tentang seberapa hebat atau seberapa mahir saya mampu memainkannya di depan orang lain. Ini tentang bagaimana sebuah instrumen sederhana bisa membuat saya kembali menghargai setiap langkah kecil dari sebuah proses. Dan untuk saat ini, kesadaran sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hati terasa tenang.

