Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


"Sial! Anak itu semakin menjadi-jadi saja!," kata seorang pria di sebuah ruangan kantor berpendingin. Di hadapannya ada dua orang staff kepercayaannya. 

"Maklum, Pak. Dia kan aktif di luar pabrik. Lumayan terkenal, sih!," kata Ranto, salah satu staff HRD di depannya.

"Tapi, Boss pengennya serikat yang satu ini dibelenggu! Kalo perlu dihancurkan! Kemarin, Ketua mereka sudah kita habisin! Dan dia kooperatif tuh, mau nerima duit pesangon. Kenapa yang ini bebal sekali?."

Kedua orang di hadapannya hanya terdiam menunduk. Narsih, staff wanitanya sibuk memilin ujung baju kerjanya. Dia mahfum, karena kenal baik dengan Fatur, karyawan yang dimaksud oleh atasannya itu.

Fatur, yang ia tahu, punya idealisme tinggi terhadap organisasinya. Bahkan ia sering mendengar jika Fatur sering berbeda pandangan dengan kawan-kawannya di dalam pabrik, meski mereka masih satu wadah organisasi.

"Kok, kalian diam saja?. Bantu saya memecahkan masalah orang satu ini, dong!," kata pria itu lagi.

"Kita main di absensi saja, pak! Kan kemarin dia keluar pabrik dengan teman-teman serikatnya. Kita tuduh saja dia sebagai pembohong! Berbohong pada perusahaan kan termasuk dosa besar lho pak! Bisa masuk neraka!," kata Ranto menggebu-gebu.

"Hah!? Masuk neraka?." Terheran pria itu dengernya. Penulis juga ikut heran.

"Iya, Pak!. Masuk neraka!. Makanya daripada merugikan perusahaan, mending langsung saja dikeluarin surat PHK-nya!." Ranto semakin bersemangat. 

"Bagus!. Kamu benar-benar jenius!. Kita pakai saja cara itu!." Pria itu ikut semangat, matanya berbinar-binar mendengar ide cemerlang dari staffnya.

"Narsih! Langsung kamu buat surat PHKnya, panggil si Fatur, minta tanda tangan!. Kalo dia gak mau, kirim saja lewat email!." Perintah si Pria dengan gagah.

Giliran Narsih yang bingung. Neraka?. Absen?. Apa hubungannya?. Cuman karena ia hanya bawahan, ia hanya mengangguk,. " Baik, Pak. Saya bikin sekarang."

Kemudian Narsih meninggalkan ruangan itu dan segera mengerjakan tugasnya.

"Dan kamu Ranto, segera hubungin pengacara kita, bikin statement di media massa, bahwa si Fatur itu membuat berita palsu!. Bikin somasi!. Kalo perlu sebelum di kirim ke neraka, kita kirim dulu ke penjara!," dengan geram si Pria membuat instruksi.

"Dan kamu coba cari tahu, kawan-kawan pengurus serikat di pabrik, ada yang bisa kita ajak kerjasama, gak? Kalo perlu kita iming-imingi mereka dengan bonus tambahan, bagi yang mau bekerja sama dengan kita!," lanjutnya.

Ranto mengangguk, lalu dengan tergopoh-gopoh ia meninggalkan ruangan. Di luar, ia membayangkan kenaikkan jabatan jika berhasil dalam misi ini. Tak sadar, lidahnya menjulur keluar, liurnya menetes, bayangan bonus besar yang bakal ia dapatkan nanti terbayang di matanya.

--------------------

 "Tuk ... Tuk ... Tuk ...!" Ranto tergesa mengetuk pintu kantor atasannya.

"Masuk!." Terdengar suara dari dalam.

Bergegas Ranto memasuki ruangan, senyumnya mengembang, matanya berbinar-binar.

"Ada apa, To? Seneng banget nampaknya?," tanya Pria atasannya heran.

Dengan gesit, Ranto mengambil posisi duduk berhadapan dengan atasannya.

"Ternyata gampang sekali, Pak!," katanya dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, sehingga suaranya terdengar sengau.

"Gampang apanya?."

"Untuk mengeliminasi si Fatur itu lho!."

"Eliminasi?."

"Iya, Pak. Eliminasi!."

"Lah, emang si Fatur ikut Indonesia Idol?."

Duh! Ranto garuk-garuk kepala. Tak ia sangka, atasannya yang berperawakan seperti Ladusing di serial kartun tv itu ternyata tololnya bukan main.

"Bukan Indonesia Idol, Pak!. Di-eliminasi dari perusahaan, gitu lho!. Dikeluarkan!. Di-PHK!. Ngarti?"

"Lho, kok kamu marah-marah ke saya?." 

"Abis, bapaknya ngese—". Tak ia selesaikan ucapannya, saat melihat mata pak Ladus... Eh, atasannya melotot sangar.

"Begini, Pak." Akhirnya Ranto mulai berbicara dengan tenang.

"Ternyata, kondisi serikat di sini gak solid-solid amat, lho!."

Atasannya hanya diam, menyimak. Melihat sikap atasannya, Ranto melanjutkan.

"Para pengurus serikat yang lain, banyak yang ragu-ragu. Demikian juga anggota mereka. Mereka gamang. Lagian, rata-rata sudah pada berumur, dengan masa kerja belasan tahun. Pasti mereka akan berpikir untuk diri sendiri, dong!."

"Hmm, kamu tahu dari mana kalo pengurus yang lain gak solid?."

"Tau lah, Pak! Kan, saya banyak punya mata-mata!," kata Ranto sambil nyengir nyebelin.

"Apa mata-matamu bilang?."

"Info mereka, tempo hari saat ada rapat pengurus, dari sebelas hanya setengahnya yang hadir, itu menunjukkan tanda-tanda ke-tidak solid-an mereka."

"Ya, belum tentu! Siapa tau yang lain ada acara lain."

"Wah, Pak, sepenting-pentingnya acara mereka, jika solid, pasti mengusahakan untuk datang, tapi ini enggak, jadi bisa dipastikan mereka gak solid!."

Pria atasan Ranto itu manggut-manggut. "Kemungkinan itu masuk akal, terus apalagi infonya?"

"Lalu, jumlah anggota mereka juga tak terlalu banyak, dibandingkan seluruh karyawan yang kita punya, belum lagi Serikat Pekerja yang kita bina sendiri juga tak merespon apapun atas kasus si Fatur ini."

"Memangnya, apa nama serikat pekerja si Fatur ini?"

"Bapak gimana, sih! Masa lupa!." Ranto menggerutu.

"Lah!. Mana ingat aku!. Saking banyaknya serikat pekerja aneh-aneh!. Dan kamu jangan menggerutu seperti itu!. Ingat! Aku ini Kurniawan!. Atasanmu!." Teriak Pria yang ternyata bernama Kurniawan itu, marah dia.

Ranto membenarkan sikapnya, lalu ia berkata dengan hati-hati.
"Di perusahaan kita ada dua kubu, Pak. Yang satu namanya FSPGB, tempat si Fatur bernaung. Satu lagi SPBP, gitu Pak."

"FSPGB? Apaan tuh?."

"Federasi Serikat Pekerja Gokil Banget, cukup terkenal kok, mereka kabarnya sangat militan, solidaritas tinggi, dan reaksioner. Cuman di perusahaan kita, hal itu gak terlalu pengaruh."

"Hmm... Agak aneh juga nama serikatnya ... Terus, SPBP?. Apaan lagi?."

"Serikat Pekerja Binaan Pengusaha, di kita jumlah mereka lumayan banyak lho pak, lebih banyak dari FSPGB, dan anggota mereka itu hanya anak-anak manis semua, lho!."

Kurniawan kembali manggut-manggut, puas nampaknya.

"Terus, gimana kabar lawyer kita?. Apa sarannya?." tanyanya setelah berdiam beberapa saat.

"Oh, pak Benarudinawisata? Beliau ada di luar pak, menunggu giliran ketemu bapak," jawab Ranto santai.

"Oh, ada di luar? Suruh masuk saja, kita diskusi sekarang untuk kelanjutan kasus ini," kata Kurniawan sambil memberi isyarat ke arah pintu dengan tangannya.

"Baik, Pak." Ratno dengan sigap langsung ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali masuk. Di belakangnya mengikuti seseorang, yang berperawakan besar seperti binaragawan Ade Rai, dengan jenggot panjang melambai mencapai perut.

Sang Pengacara!


----------


Judul asli: CERITA HALU
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


komentar

Lebih baru Lebih lama