Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1) 


Kurniawan, sang direktur, dengan agak kikuk mempersilahkan pengacara itu duduk di depannya. Dari sikapnya, terlihat ia agak segan, karena ia tahu kepiawaian orang di depannya ini.

Sang Pengacara duduk perlahan, terlihat bersahaja dan percaya diri. Wajahnya datar saja, namun sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pandai bersiasat.

Beberapa saat ruangan kantor itu hening, seakan terbius oleh keberadaan pengacara itu. 

"Pak ...." Ranto memecahkan keheningan ruangan, memanggil atasannya yang malah terdiam.

Kurniawan sedikit terhenyak. Namun ia segera memulihkan kesadarannya. Sikapnya menjadi biasa lagi, sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan besar multinasional.

"Bagaimana perkembangan kasusnya, Pak? Apa hasil pertemuan kemaren dengan perangkat organisasi FSPGB?," tanyanya sopan.

"Ya, kemaren sudah saya sampaikan keberatan kita dengan sikap mereka." Pengacara itu menjawab santai.

"Lalu, bagaimana dengan somasi yang mereka berikan?."

"Ha ... Ha ... Somasi receh itu mudah saja. Kita somasi balik dengan isu pembohongan publik."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana sikap perangkat organisasinya?. Bisakah mereka kita ajak kerjasama?."

"Sangat bisa!," jawab Pengacara itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak berbeda, ada kelicikan di sana.

"Bisa bagaimana?. Mereka kan serikat yang sangat militan!. Mana mungkin mereka bisa diajak kongkalikong dengan kita."

"Dah, itu urusan saya nanti. Yang penting adalah kondisi di dalam. Bagaimana sikap anggota mereka?. Bisakah dikondisikan?"

"Itu malah lebih gampang, Pak!," jawab Kurniawan sambil tersenyum lebar.

"Gampang bagaimana?." Pak Benarudinawisata, si Pengacara penasaran.

Kurniawan memandang  Ranto sambil mengisyaratkan dengan kepalanya agar Ranto yang berbicara.

"Begini, Pak Benarudin, kami sudah punya beberapa orang yang sudah kami brainwash, dan mempunyai pengaruh besar di kalangan karyawan. Kita bisa memanfaatkan mereka, untuk mempengaruhi anggota serikat itu," kata Ranto dengan lancar.

Benarudinawisata manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang panjang hingga mencapai perut dengan tangannya yang besar-besar. 

Ranto yang memperhatikan sikap Pengacara itu dan tak berkata apapun melanjutkan.

"Kami gak begitu khawatir kondisi dalam perusahaan, yang kami khawatirkan hanya kawan-kawan mereka diluar. Serikat FSPGB ini kan salah satu serikat besar yang radikal!. Mereka militan, beberapa tahun lalu mereka sering menggempur pabrik-pabrik sekitar sini dengan massanya yang banyak." Ranto berhenti sebentar, mengambil nafas panjang, terlihat sekali ia sangat geram.

"Ha ... Ha ... Ha ...!." Pengacara itu tertawa terbahak-bahak. Saking gelinya, seluruh tubuhnya yang besar itu berguncang, jenggotnya ikut meliuk kanan kiri mengikuti guncangan tubuhnya.

Kurniawan dan Ranto yang sekarang heran dengan sikap si Pengacara. Benarudin malah semakin geli, suara tawanya semakin keras, memenuhi ruangan itu, mungkin mengalahkan suara musik ajep-ajep di diskotik.

Setelah puas tertawa, Pengacara itu kembali biasa lagi. Wajahnya kembali datar, hanya senyumnya yang berubah menjadi senyum mengejek.

"Itu dulu!. Dulu sekali. Sekarang mereka sudah gak ada apa-apanya, ha ... ha ....!" 

Kurniawan dan Ranto saling berpandangan. "Gak ada apa-apanya bagaimana?." Hampir serempak mereka berkata itu.

Pengacara itu tersenyum. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan kompak itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Narsih tergopoh-gopoh memasuki ruangan.

"Pak, maaf Pak, ini gawat!," serunya dengan nafas tersengal. Ia menghampiri meja pak Kurniawan, di mana ketiga orang tadi berkumpul.

"Ada apa Narsih?. Panik amat?," tanya Kurniawan heran dengan sikap bawahannya yang biasa santai.

"Ini, Boss! Lihat ini!." Narsih menyodorkan hapenya ke meja pak Kurniawan.

Kurniawan, Ranto dan si Pengacara serempak melihat ke arah layar hape.

++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


2 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama