My Boss, My Coach, My Friend

Untuk tulisan random kedua ini saya pilih Tema chemistry antara pemimpin dan bawahannya request dari Kak Evi Yuniati.
My Boss, My Coach, My Friend
Kalo soal topik hubungan antar atasan dengan bawahan, yang masih segar diingatan saya adalah "Managing Your Boss" dari Pak Handry Satriago CEO General Electric Indonesia. Tanggal 18 November 2016 tahun lalu saya beruntung bisa ikut "kelas sharing" berjudul "My Boss, My Coach, My Friend" dari beliau.

Mendengarkan pemaparan dari beliau ini bagi saya seperti memasuki kebun dengan ragam buah pengalaman, semua buah pengalamannya sekian tahun dipaparkan gamblang, sayangnya... waktu 3 jam menjadi sedemikian cepat berlalu sebelum beliau tuntas mengupas segala jenis buah yang ada. Sejak saat itu hingga sampai saat ini masih ada beberapa hal yang masih teringat dan belum mengendap. Soal "Managing Your Boss" juga saya musti kembali ke blognya di www.handry-satriago.com agar kembali ingat apa-apa yang beliau sampaikan saat itu.

Chemistry antara pemimpin dan bawahan ini topik yang sangat luas, bisa dikupas dari 2 sisi, dari sisi pemimpin atau dari sisi bawahan, sesuai pesanan, saya sedikit "menggoreng" dari sudut pandang bawahan.

Sebagai bawahan kita sering kali tidak bisa memilih siapa atasan atau pemimpin kita, maka sikap pertama yang kita ambil adalah "me-manage" diri kita sendiri sebelum "dealing with your boss", sebelum mencoba "mengatur" bos kita, maka yang pertama kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita dahulu.

Pada postingan sebelumnya saya ngoceh soal fakta dan non-fakta, kaitannya di sini adalah: Bos yang baik dan bos yang jelek itu adalah opini subyektif, maka mari kita coba mengenali fakta-fakta obyektif terlebih dahulu.

Kita semua tentunya memiliki konsep "kepemimpinan yang baik" versi kita, saat opini tentang "pemimpin atau bos yang baik" berbeda dengan kenyataan yang ada maka muncul "gap" atau jarak. Jarak inilah yang menciptakan opini tentang pemimpin yang baik dan pemimpin yang tidak baik. Ini mirip dengan teori Hukum bahwa masalah adalah jarak antara das-sollen dan das-sein. Jarak antara cita-cita ideal dengan kenyataan.

Sebagai bawahan maka kita wajib berprasangka baik dahulu, lalu mulai membuat list mengenainya. Banyak caranya, tanyakan pada anak buahnya terdahulu atau tanyakan langsung pada bos Anda. Minimal kita harus tahu bagaimana cara dia berkomunikasi, ini berguna untuk modal awal bagaimana membangun komunikasi yang baik. Sesuatu yang baik akan sulit diterima jika komunikasinya gak nyambung kan? 

Soal ini memang terkait dengan pribadinya, ada yang suka dengan komunikasi langsung dan formal, ada juga yang tidak, masing-masing orang (termasuk si bos) punya karakternya sendiri-sendiri. Tugas kita sebagai bawahan untuk mengetahui hal ini terlebih dahulu. Cari informasi sebanyak-banyaknya terkait anak buah seperti apa yang ia sukai, cara kerja seperti apa yang ia inginkan. You don't mark your boss as bad or good just because they are not like what you want. Try to know them first.

Kalau kita sudah memiliki list mengenai persepsi dan cara kerja bos kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan refleksi diri. Ask honestly to yourself : "Can I deal with these gaps? Can I make some changes on my side?", dst. Tetap ada beberapa hal prinsip yang tidak bisa kita toleransi, misalnya soal integritas dan terkait pelanggaran hukum dlsb. Tapi kalau konteksnya hanya perbedaan cara kerja, cara ngomong, cara bersikap, maka terimalah perbedaan itu dan mulailah belajar.

Seberapa pun buruknya seorang pemimpin, jika Anda adalah "permata", maka Anda tetap akan bersinar. Jika keburukan itu bersifat kompleks dan terorganisasi, maka organisasi lain yang akan melihat cahaya Anda.

Jadi kesimpulan dumelan di atas; 1. Kenali dan pahami bos Anda terlebih dahulu, 2. Introspeksi diri, 3. Berkomunikasi, 4. Tetap berprestasi dan belajar. Be Profesional + Keep Learning.

Bagaimana kalau pemimpin kita sudah baik?
Alhamdulillah jika demikian, namun rumus 4 langkah di atas tadi masih tetap berlaku. Bos yang baik adalah pemimpin yang mengapresiasi keinginan belajar kita, dia ingin kita maju seperti dia, dia akan memberi kita "panggung" untuk tampil dan berprestasi, agar orang lain tahu bahwa kita siap menggantikannya. Intinya tetap sama... Be Profesional + Keep Learning.

Itu baru dari sisi bawahan, dari sisi atasan akan panjang lagi, karena atasan yang baik membutuhkan bawahan yang baik, yang tidak selalu setuju dengan pendapatnya, namun memiliki argumentasi dan data dalam setiap pendapatnya.

Itu dulu yah ;)

Artikel ini memiliki 4 Komentar

  1. Sukak sekali dgn gambaran singkat ini, om. Membangun chemistry dgn atasan itu amat tdk mudah dan butuh proses yg tidak sebentar. Kesalahan konyol yg bisa merusak chemistry ga akan bisa memaafkan diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalan ke blog Pak Handry deh, pemimpin yang baik tidak alergi dgn kesalahan anak buahnya, dari situ ia bisa mengukur sejauh apa kemajuan dan daya tahan belajar kita. Pun jika diungkit kembali kesalahan kita, kita bisa menunjukkan kemajuan yg telah kita dapat dari sejak kesalahan itu terjadi. :)
      Keep learning.

      Hapus
  2. jadi orang baik di negeri ini susah kali, orang ni semua pada kemauannya sendiri saja, padahal ya itu untuk mereka juga, yaahh maunya korupsi wae kerjaannya, tak terlihat kerja nyatanya ,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga istiqomah dalam kebaikan :)

      Hapus