Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

CERITA HALU 5

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3) 


Malam belum larut saat Fathur tiba di rumahnya. Seharian ini ia sudah menghadiri berbagai pertemuan dari beberapa komunitas. Sejak ia diskorsing, tak ada rutinitas yang menyita waktunya seperti yang biasa ia lakukan sehari-sehari sebelumnya. Namun akibat kasus yang ia alami malah banyak komunitas yang mengajaknya berdiskusi tentang seputaran kasusnya.

Pintu sudah terbuka sejak ia datang tadi. Sang Istri ternyata yang membukakan dan menunggu di depan pintu. 

Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu gerbang, ia masuk rumah diiringi sang istri yang seperti biasa mencium punggung tangannya terlebih dahulu.

"Anak-anak?" tanyanya singkat.

"Baru lelap mereka, Dion tadi nungguin lho, Pah. Mo nanyain pelajaran matematika katanya. Soal dari belajar online ada yang belum ia ngerti. Udah makan?" jawab Nikita, nama istri kesayangannya.

"Iya ya, aku telat pulang, abis tadi banyak diskusi ama kawan-kawan lain." jawab Fatur, ada nada penyesalan.

"Ini bawa nasi goreng, tadi sengaja kubeli untuk makan di rumah, makan bareng yuk!" ajaknya pada sang istri yang langsung mengiyakan dan segera mempersiapkan alat makan.

"Gimana, Mas? Kasusmu ada perkembangan?" tanya Nikita saat mereka duduk berhadapan sambil makan sepiring nasi goreng.

"Yah, masih tahap negosiasi antara perangkat organisasi dan pihak manajemen."

"Oh, belum ketahuan kapan selesainya ya, Mas?'

"Belum ...." 

Lalu keduanya asyik menyantap penganan khas dari negara Indonesia itu dalam diam. Dalam pikirannya masing-masing.

"Mah, aku mau tanya sesuatu," kata Fatur setelah menelan sebiji cabe rawit yang tadi tercampur di acar.
Istrinya hanya menatapnya, namun dari gerakan alis matanya, ia mengiyakan.

"Apa pendapatmu tentang kasus ku? Dengan kasus ini, kecenderungan di-PHK besar sekali, dengan pesangon tentunya."

"Terus?"

"Ya, aku minta pendapat, aku lawan atau terima begitu saja pesangonnya?"

Istrinya berpikir sejenak.

"Lawan!" sahutnya mantap.

"Lawan?"

"Iya, lawan! Kalo bisa sampai dipekerjakan kembali! Jangan mau di-PHK begitu saja. Mereka jahat sekali, Mas! Kasus kecil masa konsekuensinya harus di-PHK?!" Istrinya menjawab menggebu-gebu.

Fatur malah terkesima dengan jawaban dan sikap istrinya. Tak ia sangka, ternyata istrinya itu punya sikap perlawanan juga. "Apa mungkin ketularan aku?' pikirnya bangga.

Fatur mengangguk-angguk puas. Semangatnya bertambah dengan dukungan belahan jiwanya itu.

"Ya, itu juga yang aku pikirkan. Soale, jika aku terima tawaran mereka tentang pesangon, aku malah khawatir dengan kawan-kawan lain."

"Khawatir kenapa?"

"Begini, kau kan tau, apa jabatanku di organisasi, baik di dalam pabrik atau di luar pabrik. Posisiku cukup signifikan. Cukup berpengaruh lah  di organisasi. Nah, jika aku saja yang sudah di posisi ini, dengan mudah mereka PHK tanpa perlawanan, bagaimana dengan kawan lain yang tak punya pengaruh?"

Nikita tak menjawab.

"Begini-begini, ada rasa sayangku terhadap organisasi. Terutama di perusahaan yang pernah aku ikut besarkan dari awal. Sayang sekali jika harus dibubarkan karena anggota-anggotanya dengan mudah di-PHK seperti aku."

"Iya juga sih, Mas. Tapi, mungkin pabrik juga gak semudah itu mem-PHK pekerja, kali Mas? Mungkin berlaku hanya pada dirimu saja. Karena mereka lihat kamu sangat aktif, Mas," kata Nikita sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

"Dengan kondisi sekarang, apalagi dengan adanya undang-undang sialan, hal itu sangat mungkin terjadi."

"Undang-undang yang baru itu?"

"Iya, undang-undang SPOTAKER, berikut turunannya. Semakin mudah mereka ngerjainnya. Gak suka ama karyawan, tinggal cari kesalahan kecil saja, langsung eksekusi."

"Duh! Jahat banget, ya?"

"Yup! Memang jahat sekali. Makanya aku butuh dukunganmu menghadapi penjahat-penjahat itu."

Nikita memandang Fatur. Mata mereka saling bertautan. Nikita paham benar dengan perangai suaminya yang sudah belasan tahun ia dampingi.

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


"Aku, mendukung apapun langkah yang kamu ambil, Mas. Apa yang baik menurutmu, tentu baik untukku. Untuk keluarga kita. Lawan mereka, Mas!" Nikita menatap suaminya dengan tatapan penuh pengertian.

Mendengar kalimat itu. Fatur meraih tangan istrinya, ia kecup perlahan dengan bibirnya. 

Diperlakukan seperti itu, Nikita menggeser duduknya ke samping, dan menyandarkan kepala ke dada Fatur. Reflek, Fatur merengkuh kepala Nikita, dan mengecup lembut dahinya. Mata Fatur berkaca-kaca. Ia terharu dengan sikap istri yang sudah mengaruniai dua orang anak itu padanya.

Agak lama mereka berpelukan seperti itu. Sibuk dengan lamunan masing-masing. Namun yang jelas, jiwa mereka seperti kembali menyatu. 

"Mas." Nikita yang lebih dulu berkata.

"Hmm ...." Agak enggan Fatur menjawab, karena masih terbuai dengan perasaanya.

"Sebaiknya, kamu kabari orang tuamu, terutama ibumu. Minta pendapatnya, minta ridhonya," kata Nikita yang masih bersandar di dada Fatur.

"Sudah."

"Hah? Sudah? Kapan?" tanya Nikita sambil bangun dari sandarannya.

"Tadi sore. Dan kamu tau gak?"

"Apa? Kenapa?"

"Jawaban ibuku kurang lebih sama denganmu. Malah lebih tegas!" jawab Fatur sambil tersenyum.

"Tegas bagaimana?" Nikita semakin penasaran.

"Ibuku bilang, 'Lawan terus! Jangan sampe terima pesangon! Lawan sampai kau diterima kerja kembali! Berjuanglah hingga penghabisan!', begitu katanya."

"Wah, malah parahan ibu mertuaku ya!" 

"Hi hi ...." Fatur tertawa lirih.

Mereka berdua masih mengobrol hingga larut malam. Hingga akhirnya Fatur menyerah dengan kantuk yang menyerangnya. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk istirahat, karena esok pagi Fatur harus bertemu dengan perangkat organisasi untuk menyusun langkah berikutnya.

Fatur sempat menengok kedua anaknya yang sudah lelap. Mengecup dahi keduanya masing-masing, sebelum menyusul istrinya masuk ke peraduan.


++++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

Judul asli: CERITA HALU 5. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

komentar

Lebih baru Lebih lama