Ramadan di Masa Pandemi Coronavirus


Ramadan di Masa Pandemi Coronavirus


Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang ditunggu oleh milyaran umat muslim di dunia. Adalah bulan di mana umat muslim melaksanakan puasa selama 29 hari atau 30 hari ke depan. Semua berlomba-lomba menuju kebaikan, melaksanakan ibadah dengan khusyu dan menjaga diri. Ramadhan bulan yang penuh ampunan, bulan suci yang dikhususkan agar manusia bisa mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ini hanya terjadi satu bulan dalam satu tahun sekali, di mana kita beramai-ramai senang menyambut kedatangannya.

17 tahun saya hidup di bumi, mungkin hanya ramadan tahun ini saya merasa banyak yang hilang. Tidak menemukan keramaian, sambutan yang sorak menyorak, suara tadarus di setiap masjid dan mushola, tim pembangun sahur yang heboh, ngabuburit dengan semangat, sholat tarawih berjamaah, bahkan membaca niat puasa bersama-sama. 

Tahun ini saya, kamu, dia, dan kita semua merasakan kehampaan. Bagaimana mungkin kita bisa meninggalkan kegiatan-kegiatan yang sering kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya begitu saja?. Di awal tahun ini sudah terlalu banyak kewajiban yang terpaksa dihentikan, berbagai titik daerah di dunia terpaksa harus berdiam diri di dalam rumah.

"Ya Allah. Kami termenung, meneteskan air mata dalam keadaan mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya, lalu berdoa dan mengucapkan kata aamiin kepada-Mu. Sudahi musibah ini, maafkan kesombongan kami, maafkan sikap zalim kami. Beberapa kewajiban kami terpaksa ditiadakan, suasana ini benar-benar membuat keadaan berbeda dari biasanya, kami merasakan kesunyian, kami seperti tak punya lingkungan yang menyenangkan. Kami mohon sudahi. Aamiin"

Milyaran manusia berharap pandemi coronavirus ini cepat berlalu, dan akan berganti dengan hari baru yang mungkin memungkinkan semua akan kembali baik-baik saja. Kembali menemukan suasana yang kemarin sempat dirindukan, menjalankan kewajiban seperti sediakala, tak memiliki batas untuk bergerak, tak ada larangan untuk keluar rumah dengan tujuan yang baik. 

Saat ini tidur adalah peluang kita untuk bermimpi, dan bangun untuk berjuang melawan situasi. Tidak untuk mengeluh, hanya saja ini yang sedang kita rasakan. Kita tetap menjalankan kewajiban meski, dengan cara yang sedikit berbeda. Yang menghilangkan bagian-bagian penting dari hal ini. Saya tak menentang aturan yang ada, atau seakan-akan menolaknya. Karena saya juga punya rasa takut, tapi memang sebenarnya ini yang saya rasakan dan mungkin mereka merasakan hal yang sama.

Saya bersyukur masih tetap bernafas sampai detik ini, kembali menemukan bulan ramadhan dalam keadaan sehat, tetap berkumpul dengan keluarga, dan berpuasa dengan semestinya. Karena saya dan kita semua tahu, ibadah tidak diukur di mana kita melaksanakannya. Melainkan, seberapa kuat kita melakukannya dengan keadaan yang sempit. Semoga harapan dan doa-doa baik yang bulan lalu, minggu lalu, satu hari yang lalu, satu jam yang lalu, satu menit yang lalu, dan satu detik yang lalu kita panjatkan, Allah mendengarnya.

Memang tidak mudah mengerjakan segalanya dengan serba keterbatasan, namun saya percaya satu hal, Allah tidak akan pernah tega melihat manusia terus menerus memohon tanpa memberikan peluang. Dengan memberikan keikhlasan, tak berhenti dan putus asa sampai disini, semua akan berlalu. Ramadhan akan kita jalani seperti tahun-tahun lalu, kita berkumpul, bersilaturahim, dan saling memaafkan di hari fitri. Yang sepi akan kembali ramai, kita aminkan saja agar segera terkabulkan.

komentar

Lebih baru Lebih lama