Senandika Seorang Pemimpi

Senandika Seorang Pemimpi

Dilahirkan dengan latar belakang keluarga yang sederhana dan hanya serba cukup apa adanya, membuat saya 1000 kali berpikir untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi untuk berani bermimpi mengejar sebuah cita-cita yang besar. Kisah hidup yang kelabu selalu saya rasakan dari kecil, kisah-kisah sulitnya perjuangan orang tua membesarkan saya membuat relung hati seperti terkoyak. Karenanya, menjadi anak bungsu dari 6 bersaudara membuat saya menjadi harapan terakhir untuk mengubah nasib keluarga, saya harus banyak belajar dari pengalaman kakak-kakak saya.

Mungkin ini sangat berat untuk dijalani seorang gadis seumuran saya, mencoba memahami susahnya kehidupan keluarga, belajar memahami bahwa semua yang saya inginkan tidak akan bisa dengan mudah didapatkan. Tapi, saya tidak pernah menyesal dilahirkan di keluarga ini, meski keadaan seperti menghimpit, tetapi saya tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang mereka. Memang ada beberapa yang mereka tidak ketahui tentang saya, termasuk cita-cita saya yang terlalu tinggi.

Menjadi anak gadis yang gemar menulis, bahkan menganggap hanya pena dan buku yang dapat menjadi teman baik saja, menghasilkan beberapa banyak tulisan, menjadikan saya bertekad untuk terus mengembangkan kegemaran ini untuk menjadi seorang penulis.

Dulu, ketika saya berpikiran bahwa keadaan tidak akan pernah mendukung saya untuk sampai pada mimpi ini. Kadang saya menangis di malam-malam yang panjang, berdoa untuk dimudahkan, dan terus mencoba tanpa henti. Tapi sayangnya, saya gagal. Waktu itu banyak orang meremehkan saya, menganggap saya hanya anak kecil yang tak mengerti apa-apa, menilai hanya dengan sebelah mata. Saya pun menyurutkan semangat untuk mengejar cita-cita ini, karena saya merasa tidak ada dukungan, atau kepercayaan pada kemampuan saya. Saya begitu tertekan, dan kemudian menghempaskan jauh-jauh harapan ini. Namun pada waktu-waktu tertentu saya masih tetap saja menulis untuk diri saya sendiri.


Saya menulis apa yang ingin saya tulis, dengan harapan besar bahwa suatu hari nanti tulisan-tulisan ini akan bisa mengubah arah kehidupan saya dan keluarga

Hingga suatu hari saya merasa bahwa tidak ada lagi yang menyayangi saya di dunia ini, tidak ada yang menyukai atau menginginkan keberadaan saya. Pada saat demikian itu, saya terus saja membaca dan menulis, walau alat yang saya punya hanya sekadar buku pelajaran di sekolah saja. Saya menulis apa yang ingin saya tulis, dengan harapan besar bahwa suatu hari nanti tulisan-tulisan ini akan bisa mengubah arah kehidupan saya dan keluarga. 

Dalam kondisi keadaan fisik yang tak dipandang baik oleh orang lain, membuat saya terus belajar menguatkan diri sendiri. Saya terus saja menulis dan menekuni kegiatan ini sampai berbulan-bulan, tapi ada hari di mana saya menyadari satu hal. Mengapa sampai saat itu tulisan saya belum juga diapresiasi banyak orang? Mengapa usaha saya belum juga menuai hasil? Kenapa orang-orang di sekeliling saya tidak ada yang melihat kemampuan saya? Dan lagi-lagi saya pun gagal untuk berjuang.


Senandika Seorang Pemimpi

Hari demi hari yang saya lewati, hasrat selalu mengajak saya untuk terus belajar, berjuang dan bermimpi, agar cita-cita ini bisa tercapai dengan mudah. Tapi saya tidak punya kemampuan, dan keberanian yang akan membawa saya pada cita-cita di masa depan, di mana saya mampu membuktikan apa yang orang lain ragukan. Kelak saya ingin berbagi kisah, bahwa di balik keberhasilan orang-orang sukses, ada kreativitas yang lahir dari himpitan keadaan serta berhasil karena tekad dan usaha yang tidak mengenal menyerah.


Bukan karena iri dengan rezeki dan keberhasilan orang lain, tapi karena saya mempercayai satu hal, setiap manusia dilahirkan memiliki kemampuan dan rezeki masing-masing. Oleh sebab itu, saya berpikir dan berusaha sekuat mungkin. Karena apapun yang akan menjadi takdir saya di masa depan maka saya sendiri yang akan mewujudkannya dan tidak akan pernah menjadi takdir orang lain.

Saya jatuh dan bangkit sendiri, berusaha lagi untuk mengubah kegagalan kemarin menjadi keberhasilan. Saya datangi dan mencoba mencari beberapa titik yang mungkin akan mendukung saya. Saya ceritakan mimpi ini dengan harapan agar mereka dapat membantu saya, dan di hari itu saya mendapat sebuah kabar baik. Saya dipercaya untuk menulis sebuah karya tulis hasil tangan saya sendiri, saya pun menerimanya.

Di hari itu saya menangis, bertanya-tanya apakah ini hanya sebuah mimpi? Dan ternyata itu nyata. Saya menulis dengan sebaik mungkin, saya berharap bahwa ini adalah awal yang baik untuk cita-cita saya. Saya hanya ingin didukung. Dan beberapa minggu kemudian saya pun mulai merasa bahwa kali ini tulisan saya sudah diketahui oleh sebagian kalangan. Ini adalah mimpi terindah yang menjadi sebuah kenyataan. Walau baru beberapa persen dari target yang saya miliki. Tapi Alhamdulillah, saya tetap bersyukur untuk hal ini.

"Semoga apapun yang saya doakan semoga Allah SWT membantu saya mencapainya, dengan atau tanpa dukungan orang lain."

Penulis juga manusia, yang bermimpi menjadi seorang penulis pun juga seorang manusia. Hanya mungkin bedanya, saya dan mereka di luar sana menekuni kegiatan ini dengan alasan yang berbeda-beda. Cita-cita ini adalah kegemaran yang berbuah. Kelak, saya hanya ingin mewujudkan mimpi selanjutnya, yaitu berhasil menerbitkan sebuah buku hasil tangan saya sendiri. Amiin. 



@FitriiIphii Senandika Seorang Pemimpi
@FitriiIphii
Penulis adalah warga Sembilangan
Baca Juga

Klik untuk komentar