-->

14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako

Saat Algernon Bertram Freeman- Mitford, Lord Redesdale pertama kali menerbitkan Tales of Old Japan pada tahun 1871, dia menghadirkan kepada para pembacanya salah satu cerita sejarah yang sangat dicintai di Jepang:" Insiden Ako", alias kisah 47 rōnin.
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Patung 47 Ronin di Ako Jepang.  
Kisah yang berdasarkan kejadian nyata itu dimulai dengan kisah seorang penguasa daimyo di masa feodal Jepang, Asano Naganori/Asano Takumi no Kami dari Ako. Pada 1701, Asano mendatangi kastil Shōgun di Edo (saat ini Tokyo), di sana ia bertemu dengan Kira Yoshinaka/Kira Kōzuke no Suke, salah satu pejabat protokoler senior yang mengejek serta menyinggung perasaan Asano

Detail kejadiannya kurang jelas. Kira bisa jadi cuma mencemooh Asano, ataupun ia bisa jadi menuntut upeti ilegal yang tidak bisa diterima oleh Asano. Singkat cerita, tersinggung oleh sikap Kira, Asano menghunus pisau (Wakizashi) miliknya dan menyerang serta berhasil melukai wajah Kira di Matsu no Ōrōka (tempat berkumpul daimyo) di dalam Istana Edo.

Asano lekas ditangkap karena menghunus senjata di Kastil Edo (kediaman Shōgun) adalah pelanggaran berat. Asano dihukum untuk melakukan seppuku: ritual bunuh diri dengan merobek perutnya. Asano dengan terhormat melaksanakan apa yang rezim perintahkan kepadanya. Kekuasaannya disita, serta keluarganya terusir dari Ako.
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Sisa-sisa Istana Ako peninggalan keluarga Asano.
Saat kematian Asano, 300 ksatria samurai yang setia kepadanya otomatis menjadi rōnin, samurai yang tak memiliki tuan. Dari 300 samurai itu, terdapat banyak ronin loyal yang tidak bisa menerima hukuman kepada tuannya, mereka berkeyakinan kalau Kira dibiarkan tanpa hukuman, maka itu sebuah ketidakadilan bagi mendiang tuan mereka. 
Motif inilah yang membuat mereka berniat untuk mengembalikan kehormatan atas nama Asano serta keluarganya.
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Sisa-sisa Istana Ako peninggalan keluarga Asano.
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Sisa-sisa Istana Ako peninggalan keluarga Asano.

Kira mengetahui dan khawatir akan pembalasan dendam ronin loyalis Asano sehingga memperketat keamanan dirinya. Para rōnin mantan samurai Asano berpencar, sebagian mengambil pekerjaan sebagai buruh sementara ada juga yang menjadi bhikkhu. 

Pemimpin mereka, Ōishi Kuranosuke, menetap di Kyoto, keputusasaan membuatnya terjerumus dalam dunia hitam: mabuk-mabukan, berjudi, serta berpesta malam demi malam dengan geisha di Ichiriki Chaya. Pernah seorang warga marah melihat Ōishi mabuk dan tersungkur di selokan sehingga ia memukul Ōishi serta meludahinya sebab gagal melindungi tuannya. Mata-mata Kira melaporkan seluruh kejadian ini, Kira berkesimpulan kalau para rōnin loyalis Asano sudah memulai kehidupan baru, sehingga ia bisa sedikit lega dan mengurangi pengawalan ketatnya. Sementara itu, beberapa rōnin berhasil menyamar sebagai pekerja di kediaman Kira. 

Saat datang waktu balas dendam yang tepat, Ōishi meninggalkan Kyoto dan mengumpulkan mantan anak buahnya untuk berkumpul dalam jamuan makan malam terakhir. Keesokan paginya, 30 Januari 1703, 47 ronin menyerbu kediaman Kira.

Kala mereka berhasil menguasai kediaman Kira, dengan hormat Oishi memperlakukan Kira sebagai pejabat senior shogun, ia menerangkan tujuan untuk membalas dendam tuan mereka. Ōishi mempersilahkan Kira untuk melakukan seppuku, namun ketika Kira menolak, Oishi tanpa ragu memenggal kepala Kira, mencucinya, kemudian membawanya untuk diletakkan di kuburan Asano di kuil Sengaku-ji. Oishi juga telah membayar para biksu kuil untuk urusan pemakaman dirinya dan rekan-rekannya sebelum mereka menyerahkan diri kepada pejabat shōgun. Akhirnya mereka semua dihukum untuk melaksanakan seppuku pada 4 Februari 1703.
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Patung Oishi di salah satu kuil di Ako. 
Kala kisah ini melegenda dan menjadi" Chūshingura", ataupun Treasury of Loyal Retainers, kisah ini berkembang dengan berbagai ragam versi. Dalam sebagian besar versi, tokoh Terasaka Kichiemon, peringkat terendah dari 47 ronin, tidak menyerahkan dirinya kepada pihak berwenang, namun ditugaskan untuk menyampaikan pesan kepada adik Asano kalau pembalasan dari para ronin untuk kehormatan keluarga Asano sudah tertunaikan. Dalam versi lain, Terasaka dikisahkan melarikan diri dari pertempuran, adapula yang menceritakan ia tersesat dan terpisah dari rombongan. 

Perjuangan dan pengorbanan kelompok ronin loyalis Asano untuk mengembalikan kehormatan tuan mereka ini dipuji bagaikan perwujudan bushido (kode kesetiaan serta kehormatan samurai). Yang terjadi pada Terasaka Kichiemon menjadi pembicaraan. Ia diampuni oleh shōgun, serta hidup hingga umur 80-an.

Para rōnin yang melaksanakan seppuku seluruhnya dimakamkan di kuil Sengaku-ji di sebelah makam Asano, makam mereka dengan cepat menjadi tempat ziarah. Konon laki- laki dari Satsuma yang pernah meludahi Ōishi di Kyoto mendatangi makamnya serta meminta pengampunan, setelah itu bunuh diri di sana.

Kuil Sengaku-ji masih menyimpan pakaian tempur para rōnin, serta catatan serah terima kepala Kira. Adapun kepala Kira telah dipulangkan oleh para biksu ke keluarganya dan tidak disemayamkan di kuil tersebut. 
Setiap tahun pada tanggal 14 Desember, Kuil Sengaku-ji mengadakan festival peringatan untuk menghormati para ronin ini. 
Cerita ini juga sudah dikisahkan kembali dalam berbagai pertunjukan seni, drama, novel serta film baik di Jepang dan luar Jepang, Hollywood setidaknya sudah 2 kali membuat film dengan tema ini. 
14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako
Adegan film 47 Ronin: Keanu Reeves (Kai) saat bergabung dengan pasukan ronin di bawah pimpinan Oishi. 
Kisah ini mengingatkan saya akan loyalitas dan kesetiaan I Manindori Karaeng Tojeng Karaeng Galesong Tumenanga ri Tappa'na beserta sekian prajurit setianya. "Tumenanga ri Tappa'na" adalah gelar anumerta kepada Karaeng Galesong yang bermakna "raja atau orang yang wafat dalam keyakinannya".

Karaeng Galesong adalah putra sulung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin dari istri keempatnya, I Hatijah I Lo’mo Tobo, dari Bonto Majannang (saat ini berada di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan). Diperkirakan lahir pada tahun 1655. Ia terlahir dengan nama I Manindori Kare Tojeng. I Manindori saat itu adalah pemuda belia lulusan Akademi Kelautan Kerajaan Gowa. Kemudian diangkat sebagai Karaeng (raja) di Galesong (saat ini Galesong adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan) oleh ayahnya karena kecakapannya yang mumpuni hasil didikan laksamana-laksamana laut senior Kerajaan Gowa. Tak jarang ia ditunjuk langsung oleh Sultan Hasanuddin untuk jadi panglima perang Kerajaan Gowa. 

Namun, alur cerita menjadi berubah ketika sang ayah terpaksa tunduk kepada Belanda di perjanjian Bongaya. Perjanjian Bungaya (sering juga disebut Bongaya atau Bongaja) adalah perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 ketika Sultan Hasanuddin berhasil dikalahkan oleh VOC.

Karaeng Galesong memiliki keyakinan yang berbeda mengenai Perjanjian Bongaya. Setelah perjanjian Bongaya, dalam dokumen lontara tercatat, Karaeng Galesong menyampaikan tekadnya, "Yang menyerah hanya Raja Gowa, itu tidak berarti peperangan melawan VOC sudah berakhir". 

Pada tahun 1669, ia berhasil lolos meninggalkan wilayah Kerajaan Gowa dengan mengelabui VOC melalui penyamaran ekspedisi ke Australia. Alih-alih ke Australia Karaeng Galesong dan teman-temannya justru mengarungi lautan menuju Jawa. Dalam perjalanan itu dikisahkan beliau sempat singgah di Bima dan Madura. Sejumlah peristiwa menyertainya. Hingga pada akhirnya bergabung dengan laskar Trunojoyo di Kediri.

Trunojoyo menikahkan putrinya, Raden Ayu Suraretna (Potre Koneng) dengan Karaeng Galesong. Salah satu tujuannya untuk memperkuat aliansi kerja sama. Setelah itu dipimpin oleh Trunojoyo, laskar Madura dan laskar Makassar dengan mendapat banyak dukungan dari pemimpin daerah lainnya menyerang Mataram dan melawan VOC.

47 ronin, Karaeng Galesong dan Trunojoyo paham, melawan berarti mati, tapi mereka tetap melakukannya demi menegakkan harga diri dan keadilan yang mereka yakini.


Sumber bacaan: 
https://www.telegraph.co.uk/news/2018/02/04/day-1703-47-ronin-avenge-masters-death-legendary-tale-samurai/ 
https://tirto.id/aksi-trunojoyo-melawan-mataram-dan-dihukum-mati-cD7T 
http://ngalam.id/read/1231/perlawanan-karaeng-galesong-dan-trunajaya-di-malang/
http://www.pedomankarya.co.id/2017/10/i-manindori-dan-semangat-sumpah-pemuda.html

Foto credit: 
http://kyabaat.blogspot.com/ 
https://www.thecodeiszeek.com/



Artikel Lainnya:

4 komentar

  1. Aku pernah nonton tayangan dokumenternya pertama kali. Saat disajikan informasi mengenai kepala para ronin sempat bingung. Kenapa sampe kepalanya dipajang?

    Barulah pas baca novelnya Junichiro Tanizaki terjawab. Saat bahas mengenai Musashi dan ternyata, kepala para samurai yang dianggap berjasa akan dirawat dengan sangat apik dan dipajang sebagai pengingat.

    Baca ini, jadi pengen mendalami lagi kisah 47 ronin yang fenomenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya sejarah Nusantara direkam dengan berbagai bentuknya mungkin masih banyak peninggalan-peninggalan yang akan mengingatkan kita akan kegigihan para pendahulu melawan penjajahan :)

      Hapus
  2. Jadi nyambung saya nih. Saat dinas di Lombok waktu ke Bima di sana bertemu banyak orang yang bercerita mereka berdarah dari sulawesi selatan. Apa mereka adalah keluarga dari Karaeng Galesong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi bang, apalagi NTB yang letaknya gak begitu jauh dari sulawesi, yang jauh aja banyak warga pesisirnya yang orang sulawesi :)

      Hapus

Posting Komentar

Berlangganan Via Email