#4 berbukalah dengan yang tidak manis

 berbukalah dengan yang tidak manis

Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma segar) sebelum shalat, kalau tidak ada maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada, maka beliau meminum air putih, seteguk demi seteguk. (Hadits Riwayat Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah (3/277,278), Tirmidzi (93/70) dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih).

Berbicara soal kurma, saya paham apa yang selalu saya makan saat berbuka adalah sejenis kurma yang sudah diolah dengan ekstraksi gula sebagai pengawet atau sejenis manisan kurma. Salah satu cara mengawetkan makanan (umumnya makanan impor yang memerlukan waktu dalam proses perjalanan) adalah dengan membuatnya menjadi manisan. Fungsi gula sebagai pengawet karena sifat higroskopis atau "menyerap air" sehingga sel-sel bakteri akan dehidrasi dan akhirnya mati.

Silahkan pelajari juga mengenai kandungan kurma yang asli dan yang berbahan pengawet gula, juga pelajari tentang karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Gula ini adalah "karbohidrat sederhana" sedangkan kurma aslinya adalah buah bernutrisi tinggi namun masuk dalam golongan "karbohidrat kompleks" seperti nasi.

Mungkin anda sudah tahu apa akibat jelek jika kita berpuasa dan berbuka dengan yang manis-manis? Apa efek makanan/minuman yang mengandung karbohidrat sederhana/kandungan gula tinggi untuk berbuka puasa?

Karena kurma asli dan nasi adalah karbohidrat kompleks memerlukan waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi dan stabil, maka kecenderungan tubuh untuk "menabung" lemak juga rendah.

Puasa membuat kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah kurma tanpa bahan pengawet (dalam hal ini gula) sehingga masih berupa karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, kurma memerlukan proses sehingga memakan waktu. Sebaliknya, kalau makanan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik secara mendadak. Sangat tidak menyehatkan.

Ada yang namanya Glycemic Index (GI) atau indeks glikemik, yaitu laju proses perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh atau ukuran kecepatan makanan diserap menjadi gula darah. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu diubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respon insulin.

Jika perut kosong seharian karena berpuasa, lalu saat berbuka puasa langsung dibanjiri dengan yang manis-masnis atau mengandung gula tinggi (karbohidrat sederhana/indeks glikemik tinggi) maka respon insulin dalam tubuh langsung melonjak dan tidak stabil. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak dan menyebabkan peningkatan risiko diabetes. Tidak heran banyak teman yang setelah berpuasa akan menjadi lebih gemuk dari sebelumnya :)

Saya, walau tahu kurma yang saya makan saat berbuka puasa adalah kurma dengan kandungan gula yang tinggi, saya membatasinya dengan hanya memakan 2-5 butir, saya lebih mengutamakan air putih saat  berbuka puasa dan menghindari yang manis-manis. Cukup sudah mengacaukan stabilitas insulin dalam tubuh saya dengan 2-5 butir kurma, karena nantinya akan masuk lebih banyak gula dalam cangkir-cangkir kopi hingga larut malam :)

Heran yah kok saya bahas ini tapi tetap berbuka dengan kurma? Ya, 2-5 butir kurma sudah cukup, beda jika sudah makan kurma 5 butir ditambah lagi kolak, minum es teh manis plus kue-kue manis. Asupan gula yang berlebihan tidak dianjurkan khususnya buat saya yang sudah tidak muda lagi dan amat sangat menyukai kopi manis :)

Catatan hari ini, berbuka puasalah dengan air putih atau kurma (asli) yang rendah kalori. Jangan "terlalu banyak" berbuka dengan yang manis-manis, atau setidaknya jangan berlebihan mengkonsumsi takjil yang manis-manis.

 Salam
 4 Ramadhan 1437 (2016)

Klik untuk komentar