Sedikit Tentang Lyudmila Pavlichenko Battle for Sevastopol


Chris Kyle dinobatkan sebagai "the most lethal sniper in U.S. military history" dengan rekor lebih dari 160 orang terbunuh melalui bidikannya, ia juga dijuluki "The Legend", "Devil of Ramadi" dan seterusnya. Kisah Chris Kyle yang menjadi legenda bagi sebagian orang kemudian diabadikan dalam sebuah buku berjudul American Sniper, lalu oleh Clint Eastwood dibuat menjadi film yang tayang di bioskop-bioskop pada akhir 2014. Lebih lanjut mengenai Chris Kyle kita dapat membacanya di Wikipedia.

Selain fakta bahwa dia adalah tentara terlatih dari Navy Seal, menarik juga untuk membahas senjata yang digunakan oleh Chris Kyle dalam mencatat rekor tersebut. Senjata yang digunakan diantaranya Remington 700 Long Action rifle, McMillan TAC-338A rifle, .338 Lapua rifle dengan peluru .300 Winchester Magnum dilengkapi telescope Nightforce NXS 8-32x56 serta berbagai jenis perlengkapannya yang merupakan kombinasi senjata pembunuh mutakhir dan terbaik. Mengenai peralatan yang digunakan dibahas di SINI.

Sebagai anggota Navy Seal terlatih, dipersenjatai dengan senjata khusus untuk sniper mutakhir, peralatan presisi dan lain sebagainya itulah ia meraih rekor lebih dari 160 target dan banyak memboyong penghargaan. Lalu kemudian dengan film American Sniper (Action, Biography, Drama IMDB Ratings: 7.3/10) seakan-akan Amerika ingin memberitahu dunia bahwa mereka memiliki sniper terbaik dan terhebat di dunia (dengan segala kontroversinya).

Benarkah demikian?

Sedikit Tentang Lyudmila Pavlichenko Battle for SevastopolSedikit Tentang Lyudmila Pavlichenko Battle for Sevastopol

April 2015 sebuah film berjudul "Nezlamna" (Unbroken) atau Bitva za Sevastopol (Battle for Sevastopol) hadir, sebuah film biopic (biographical motion picture) (Biography, Drama, Romance IMDB Ratings: 7.2/10) yang juga mengisahkan tentang seorang sniper (penembak jitu), sebuah drama yang mengangkat kisah perjalanan hidup Lyudmila Pavlichenko ke layar lebar, seorang legenda penembak jitu perempuan dari Rusia yang menjadi pahlawan selama penyerbuan oleh tentara Nazi di Soviet pada tahun 1941-1942.

Apa yang menarik dari film Battle for Sevastopol dan Lyudmila Pavlichenko?


Biografi
Baik film American Sniper dan Battle for Sevastopol adalah film biografi, sama-sama film yang memotret kisah hidup seseorang. Saya menonton kedua film tersebut namun film Battle for Sevastopol lebih menarik bagi saya.

Perempuan
Lyudmila Pavlichenko adalah seorang perempuan yang pada saat ikut perang berusia 24 tahun, ia adalah salah satu dari sekitar 2000 perempuan sniper tentara merah dari divisi Chapeyevskaya (25th Guards Rifle Division).

Mahasiswi Fakultas Sejarah
Serangan Jerman membuatnya terpaksa meninggalkan kampus dan mendapat pendidikan sniper untuk relawan perang selama 6 bulan. Menurut film ia belum sempat menyelesaikan pendidikan sniper namun karena prestasi dan perang yang berkecamuk ia segera ditugaskan di garis depan sebagai sniper bersama kawan-kawannya.

Menembak 187 Musuh
Pertama kali terlibat dalam perang di Odessa, Lyudmila berhasil membunuh 187 tentara Jerman. Mendapatkan medali penghargaan "Medal For the Defence of Odessa". Dalam film Bitva za Sevastopol ia mendapat penghargaan berupa senapan SVT-40 "Tokarev Self-loading Rifle, Model of 1940" dari komandan 25th Rifle Division Major-General Ivan Yefimovich Petrov karena berhasil menghancurkan tank jerman dengan senapannya. Kemungkinan besar Lyudmila saat pertama perang menggunakan senapan Mosin-Nagant 1891/30.

Menembak 36 Sniper Jerman
Nama Lyudmila semakin berkibar dan menjadi penyemangat juang tentara Soviet. Ia menjadi sasaran para sniper. Duel selalu dimenangkan Lyudmila berkat kesabarannya, salah satu duel yang ia ceritakan memakan waktu sampai 3 hari.

"Miss Pavlichenko"
Pada tahun 1946, Woody Guthrie seorang penyanyi anti fasis dari Amerika  membuat lagu "Miss Pavlichenko" untuk Lyudmila Pavlichenko. Lagu tersebut dapat didengar di SINI.

Penghargaan:   
Order of Lenin (dua kali)
Hero of the Soviet Union
Medal for Battle Merit
Medal "For the Defence of Odessa"
Medal "For the Defence of Sevastopol"
Medal "For the Victory over Germany in the Great Patriotic War 1941–1945"
Lyudmila Pavlichenko Battle for Sevastopol
Justice Robert Jackson, Lyudmila Pavlichenko and Eleanor Roosevelt (1942). Photo: Library of Congress
Film Bitva za Sevastopol atau Battle for Sevastopol (2015) ini merupakan film kerjasama Rusia dan Ukraina dan mulai shooting tahun 2012. Karena Lyudmila adalah pahlawan Rusia kelahiran Ukraina Lyudmila menjadi pahlawan nasional sebelum Uni Soviet terpecah sehingga memisahkan Rusia dan Ukraina menjadi negara berbeda. Menurut banyak berita, proses pembuatan film ini hampir terbengkalai akibat adanya konflik di Crimea yang melibatkan Rusia dan Ukraina. April 2015 film ini tayang dengan judul "Nezlamna" (Unbroken) di Ukraina dan Bitva za Sevastopol (Battle for Sevastopol) di Rusia.

Kontras dengan sederet prestasi dan keunggulan personal Lyudmila sebagai seorang mahasiswi/sipil dalam bidang militer, khususnya sebagai sniper yang dijuluki "Lady Death" oleh wartawan Amerika saat ia mengunjungi Amerika, film Battle for Sevastopol ini bukan sebuah film action. Adegan perang hanya sedikit mengisi film yang berdurasi 110 menit ini. Pada kehidupan nyata ia dikonfirmasi telah menembak 309 tentara Jerman, untuk yang tidak dikonfirmasi setidaknya dalam masa 2 tahun perang ia telah menembak mati sekitar 500 orang. Dalam film ini ia digambarkan sebagai perempuan biasa yang terpaksa memegang senjata demi membela negara dan orang-orang yang ia cintai.

Berbeda dengan film "American Sniper" yang "dicurigai" sebagai propaganda perang, film "Battle for Sevastopol" justru lebih banyak menampilkan sisi kemanusiaan dari Ludal, nama panggilan Lyudmila. Menurut saya film ini ingin menampilkan sisi seorang perempuan biasa, ia bisa sedih, marah, menangis bahkan frustasi. Dialog-dialog Lyudmila yang diperankan oleh Yulia Peresild dengan Eleanor Roosevelt yang diperankan oleh Joan Blackham banyak mengeksplorasi sisi perempuan Lyudmila.

Di sisi romantis, peran Makarov dan Kitsenko sebagai dua lelaki yang dicintai Lyudmila kurang banyak berperan, tidak banyak adegan yang dapat membangun karakter keduanya sehingga sisi romantis film ini kurang mengena. Tapi peran Borris bisa menambal kekurangan pada sisi romantis film ini.

Demi cintanya kepada Lyudmila, Borris banyak berkorban hingga berhasil mengeluarkan Lyudmila dari Sevastopol dengan kapal selam. Borris sebelumnya pernah melarang Lyudmila berperang di garis depan dan memintanya untuk membantu di garis belakang sebagai perawat, namun Lyudmila menolak dengan tegas dan pedas dengan menyatakan bahwa perang bukan untuk pengecut, sebagai jawaban atas kata-kata Borris yang menyatakan bahwa perang bukan untuk perempuan saat ia mencoba meluluhkan hati Lyudmila.

Bagian paling menyentuh dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan dan dialog-dialog Eleanor Roosevelt dengan Lyudmila, saya lebih menangkap pesan: begitu kejamnya perang sehingga membuat seorang perempuan sederhana menjadi sniper.

Namun Lyudmila memiliki alasan sendiri memilih menjadi sniper di garis depan daripada menjadi perawat di garis belakang. Ia meyakini bahwa dengan membunuh sebanyak-banyaknya tentara fasis Nazi berarti dia menyelamatkan orang-orang yang ia cintai. "Tentara fasis tidak berbahaya hanya saat setelah ia mati". “Every Nazi's who remains alive will kill women, children and old folks, dead Germans are harmless. Therefore, if I kill a German, I am saving lives.” jelasnya di salah satu wawancara.

Buat pencinta sejarah, film ini lumayan karena menekankan plot cerita tidak terlalu melenceng dari catatan sejarah sehingga dapat memperkaya wawasan perang dunia ke-2. Untuk pencinta genre action, film ini berada di bawah kisah sniper Vasily Zaitsev dalam film Enemy at the Gates (2000) yang pada bagian akhir film diisi fiksi tentang duel.

Karena postingannya sudah panjang, saya tutup dengan skor aja deh, biar kayak tulisan-tulisan tentang review film hehehe. Karena saya suka film drama, saya kasih 7/10.  :)

Bagaimana dengan Chris Kyle? Lupakan saja, dia seorang tentara yang memang dilatih militer dengan bantuan peralatan perang yang canggih, saya pun setuju atas kecurigaan banyak pihak bahwa film Chris Kyle adalah propaganda perang Amerika yang kontroversial dan film Battle for Sevastopol ini adalah respon Rusia atas film itu.

NB: film ini mengindikasikan perang urat syaraf antara Amerika dan Rusia di bidang film (propaganda), entah ke depan dua negara besar ini akan perang seperti apa.

Selamat malam, selamat berburu film yah :)


Artikel ini memiliki 10 Komentar

  1. wah bang ulasannya menarik sekali, saya setuju dengan opininya. menurut saya film battle for sevastopol lebih menarik ketimbang american sniper. bukannya mau sentimen dengan US, cuma dari segi cerita, BfS lebih ngena, (mungkin tokoh utamanya sniper cewek) yang notabene "senapan bukan pegangan mereka", jadi lebih berasa badass namun tetap memiliki sisi wanitanya. selain itu saya juga dengan gaya penceritaannya, dikemas dengan bagus melalui part2 dialog lyuda dengan eleanor yang menyambung pada kejadian yang dialami lyuda saat perang. dan satu lagi, karena saya suka drama romance, jadi film ini gak kerasa hambar dan ngena di hati karena bumbu2 cintanya kuat *hyaaahhh.
    sekian bang, terima kasih wawasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang gak tau nih film, sayang banget, ini film bagus hanya kurang promosi :)

      Yah jatuhnya drama romance dengan latar belakang perang nih film. trims dah mampir dan berinteraksi mas :)

      Hapus
  2. american snipper dah nonton dan lumayan bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maz film ini rekomended deh, tapi selera orang beda-beda juga sih hehehe.

      Hapus
  3. Akhirnya nemu blog film renyah kembali.. nice review gan

    film2 Russia memang g klah ciamik dibanding Barat n kadang mlh lbh maknyuss. American sniper bagus jg tp kurang mendalam disisi drama, dari ntn cuplikan film ny di yutub ane bs langsung nebak klo ini pelem bener2 mengeklporasi sisi manusiawi manusia ketika perang berkecamuk.

    visualisasinya pun keren bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film bagus kayak gini sayang kalau dilewatkan, menyangkut sejarah pula :)

      Hapus
  4. nice thread gan
    update terus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiiip terima kasih sudah mampir, insya Allah kalau ada film yang menarik lagi akan saya review :)

      Hapus
  5. Barusan kelar nonton ni film, memang benar2 keren ceritanya. alurnya pun tidak terlalu berat dan gampang untuk dicerna. btw, boleh lah kasih aku saran film2 dgn cerita nyata apa lagi yg harus saya tonton, hehe soalnya memang lebih suka dengan film2 seperti itu. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah jarnag review film karena sudah banyak temnan blogger yang reviewnya keren-kren :) Coba film Darkest Hour drama sejarah perang Britania Raya dengan latar belajang invasi Jerman ke Belgia dan Belanda :) BTW terima kasih sudah mampir

      Hapus