salesman

sulitnya berteman dengan salesman

Sebagai seorang salesman yang baik, tentu mereka memahami betul apa arti menjual dan maknanya bagi pendapatannya.

seorang salesman yang profesional, mampu membuat seorang buyer atau calon buyer merasa nyaman dan membeli barang/jasa yang ditawarkannya dengan senang hati atau suka rela. Hal itu terjadi karena salesman profesional dapat memperlihatkan keperluan seorang buyer untuk membeli produknya, entah itu barang ataupun jasa.
Demand dan suply bersambutan, ada kebutuhan dan ada pemenuhan. Semua senang, masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan. Bukankah demikian idealnya hubungan antara seorang salesman dan buyer?

Lain halnya jika ada emosi yang terlibat dalam interaksi seorang salesman dan calon buyer.

Emosi yang paling umum adalah pertemanan atau mungkin persahabatan. Interaksi akan berjalan baik, manis dan makin mempererat emosi hubungan pertemanan. Ada kebutuhan dan pemenuhan yang memupuk dan memperkaya hubungan emosional. Jika saja interaksi itu memang berjalan normal, dalam artian, seorang buyer benar-benar membutuhkan produk dari temannya yang berprofesi sebagai salesman.

Bagaimana jika buyer atau calon buyer ini tidak membutuhkan produk yang ditawarkan seorang salesman yang kebetulan seorang teman atau sahabat?

Kita dapat berbicara secara teoritis dalam tataran ideal bahwa hubungan antara penjual dan pembeli adalah hubungan sederajat yang secara bebas berinteraksi dalam sebuah transaksi "take it or leave it". Tapi apakah kita mau menutup mata bahwa faktanya ada juga transaksi yang terjadi karena faktor lain dengan berbagai fariasinya.


Fakta yang sering terjadi, seorang buyer kadang merasa dibohongi saat mereka yakin telah dirugikan karena membeli sebuah produk (barang/jasa) yang tidak benar-benar mereka butuhkan, atau tidak terlalu mereka butuhkan menimbang skala prioritas yang mereka miliki. Ini akan berdampak pada hubungan interpersonal terhadap salesman yang juga temannya itu, dan bagi buyer sendiri akan berdampak pada berkurangnya rasa menghormati diri sendiri karena telah membiarkan dirinya dieksploitasi dengan alasan pertemanan.

Saat seorang salesman mengejar calon buyer demi produknya terjual melalui akses yang ia miliki karena pertemanan, sangat tidak gentle kalau ia tidak dapat menerima penolakan kemudian menyudutkan calon buyer sebagai teman yang tidak mau membantu atau seorang teman yang ingkar janji. Seharusnya para Master atau pengajar sales marketing mengajarkan bahwa dalam tatanan hubungan yang akrab, sebuah penolakan dapat diperhalus dengan penundaan dan pengalihan atau apapun yang secara tersirat menunjukkan ketidaktertarikan atau penolakan. apakah hal yang demikian terlalu sulit untuk dipahami? ataukah dunia bisnis jaman sekarang sudah demikian fulgar menjadikan hubungan akrab sebagai ajang tawar menawar?

Dari sudut pandang salesman, semua orang akan membutuhkan produknya, terbukti telah banyak orang yang membeli dan produk itu masih tetap laku dipasaran. Jadi cepat atau lambat, produk tersebut pasti akan dibutuhkan oleh siapapun termasuk temannya itu.

Benar sekali, cara pandang yang demikian tidak sepenuhnya salah, lagipula bukankah pemahaman seperti itulah yang ditanamkan secara priodik kepada para salesman dalam setiap acara yang dikemas dalam berbagai nama dan tema oleh perusahaan mereka?.

Namun sebagai teman cobalah pahami, kenali, apakah benar produk itu benar-benar yang diinginkan oleh seorang buyer, sebagai teman setidaknya dapat lebih mencoba berempati dengan memahami prioritas-prioritas yang dimiliki seorang buyer. Mungkin kehilangan teman bagi seorang salesman tidak terlalu menakutkan dibanding tidak tercapainya target penjualan, atau mungkin justru arti teman bagi seorang salesman adalah calon-calon buyer yang paling mudah untuk dijadikan ajang latihan menjual produk, sebelum menjualnya kepada orang lain yang mungkin akan lebih kritis meneliti produknya dan akan secara langsung menyatakan "ya" atau "tidak" tanpa penghalusan makna karena tidak perlu menjaga hubungan.

Pada akhirnya semua berpulang kepada masing-masing.
Idealnya mungkin seorang salesman dapat tetap menjalankan profesinya dengan lebih profesional dan dapat memenuhi target-target penjualannya, dilain pihak teman-teman yang menjadi buyer akan merasa lebih diuntungkan karena selain mendapatkan produk yang mereka butuhkan, juga memiliki teman yang selain dapat memahami kebutuhan dan prioritas dalam kehidupannya, juga dapat memberikan solusi melalui produk-produk yang dijualnya.


Pilihannya ada ditangan masing-masing.








Biar bagaimanapun, saya mungkin masih sangat terpengaruh dengan adat timur, sulit sekali mengatakan hal-hal yang sebenarnya kita ingin ungkap sebenarnya jika di hadapkan dengan hal-hal terkait persahabatan.

Seandainya saja saya tidak didesak dengan gentlement agreement dan mengaitkannya dengan keyakinan mungkin saya akan melupakan masalah ini. Tapi siapa yg tidak tersinggung jika permasalahan bisnis dikaitkan dgn perasaan, persahabatan, keyakinan?.

Jika demikian yang terjadi, saya sudah disudutkan, tidak ada pilihan lain kecuali mengatakan yang sebenarnya, bahwa saya tidak tertarik dengan bisnis anda.

Saya yang salah, karena saya mengira anda sahabat saya, ternyata anda tidak lebih dari seorang salesman yg tidak memiliki hubungan psikologis dengan saya, oleh karenanya, sindiran anda tentang gentlement agreement dan soal keyakinan saya tidak berarti apa-apa.

oh yah...
Maaf yah mas Salesman, saya tidak kenal anda.

Klik untuk komentar