Kecerdasan Qur'ani

Setelah begitu lama mengenal dan memahami apa itu IQ (Intelligence Quotient) lahirlah EQ (Emotional Quotient) yang katanya dari berbagai hasil penelitian terbukti memiliki peran lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak barulah merupakan syarat minimal untuk meraih keberhasilan, kecerdasan emosilah yang sesungguhnya menghantarkan menuju puncak prestasi.
seperti apasih makhluk yg namanya EQ ini (sambil membayangkan film ET [Extra Terrestial] yg ngetop saat saya SD karena bisa bikin sepeda terbang kelangit).
tidak berhenti sampai disitu, belum lama kenalan sama EQ,...eh lahir lagi konsep SQ (Spiritual Quotient)


SQ lahir, katanya, bahwa ternyata puncak prestasi yang dicapai dengan EQ itu, hanyalah puncak-puncak bukit prestasi, bukan puncak-puncak gunung prestasi (wekk...???). Akibatnya, ditengah-tengah kesuksesan yang didapatkannya, sang pemilik dua kecerdasan yang ada, mengalami keruntuhan pada dirinya sendiri. Nafsunya menginginkan menuju ke puncak gunung prestasi, tapi bekalnya hanya mampu membawa kepada puncak bukit prestasi.


so bagaimana dung bro?????


Manusia pun tergerak menemukan teori baru, tolok ukur baru. Bekal apa kiranya yang dapat membawa kepada puncak gunung prestasi? 

Danah Zohar dan Ian Marshall dari Harvard University dan Oxford University, menggagas perlunya tolok ukur ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient atau SQ) tahun 2000 berbasis riset Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan V.S. Ramachandran dan timnya dari California University pada tahun 1997, yang menemukan eksistensi God-Spot (Titik Tuhan) dalam otak manusia. 
God-Spot ini sudah built in sebagai pusat spiritual yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. (help I'm lost in here...wkkkkk), untung ada bukunya Mas Ary Ginanjar Agustian yang membahas itu secara lebih dalamyang menurutnya belum atau bahkan tidak menjangkau ketuhanan.
dari sebuah file Presentasi saya menemukan istilah baru QQ (Quranic Quotient) sebuah karya yang bagus dan saya gak tahu siapa yg membuatnya, jadi kepada pemilik karya tersebut dengan hormat mohon ijin untuk dishare kepada warga bloger Indonesia.


well my bro, dalam presentasi itu tertulis:


Dalam hal ini, khusus menyangkut hubungan IQ, EQ, dan SQ penulis memiliki pemahaman tersendiri dikaitkan dengan konsep Al Qur’an hasil dari tadabbur terhadap Al-Qur’an. Untuk itu ijinkanlah penulis memunculkan istilah tersendiri yaitu QQ (Qur’anic Quotient), artinya Kecerdasan Qur’ani.


kemudian dibahas mengenai Piranti Kecerdasan, setidak-tidaknya, manusia memiliki tiga piranti kecerdasan. Piranti kecerdasan itu adalah otak, hati, dan ruh. kecerdasan otak berkaitan dengan Intelligence Quotient (IQ). 

kecerdasan hati berhubungan dengan Emotional Quotient (EQ). Sedangkan piranti kecerdasan ruh berjalinan dengan SQ (Spiritual Quotient).
lompat kehubungan antara IQ, EQ dan SQ, maka Kecerdasan otak berguna untuk memecahkan masalah-masalah (problem solving) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan hati berguna untuk mensikapi pengaruh eksternal terhadap kenyamanan diri kita. Adapun kecerdasan ruh berguna untuk mensikapi pengaruh internal terhadap ketentraman diri kita. 


Kenyamanan dari pengaruh eksternal yang ditimbulkan oleh kecerdasan hati (EQ), dan ketentraman dari pengaruh internal yang dihasilkan oleh kecerdasan ruh (SQ), akan mengoptimalkan proses problem solving yang dilakukan oleh kecerdasan otak (IQ). Setelah kita mengenal piranti-piranti kecerdasan dan memahami gambaran ketiga jenis kecerdasan, maka kini saatnya kita memahami bagaimana cara membangun kecerdasan.

Listen Bro, this is the best part...
slides berikutnya dimulai dengan pertanyaan yang cerdas yaitu; Apakah kecerdasan itu harus kita bangun dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan hati (EQ), hingga sampai kecerdasan ruh(SQ) ? Atau sebaliknya? (Selanjutnya kata2 IQ, SQ, dan QQ di beri warna yang berbeda)

Proposal Nabi Ibrahim A.S. "Ya Tuhan kami, bangkitkan di kalangan mereka rasul dari kalangan mereka yang membacakan atas mereka ayat-ayat Engkau dan yang mengajarkan kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". QS Al Baqoroh ayat ke 129. Keterangan: SQ, IQ, dan EQ

JAWABAN Allah SWT "Sebagaimana telah kami utus pada kalian seorang rasul dari kalangan kalian yang membacakan atas kalian ayat-ayat kami dan mensucikan kalian serta mengajarkan kepada kalian al-kitab dan hikmah dan mengajarkan kalian apa-apa yang kalian tidak ketahui QS Al Baqoroh ayat ke 151. Keterangan: SQ, EQ, dan IQ.

pointnya. Nabi Ibrahim AS memproposalkan pencerdasan umat dengan metode SQ-IQ-EQ, namun dijawab Allah dengan metode: SQ-EQ-IQ.
adakah ayat lain berbicara ttg ini pula, tentu saja ada dan tentu saja konsisten, buka –QS Ali Imron ayat ke 164: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan hikmah, Sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” SQ-EQ-IQ.

hanya itu???. masih ada bro dan juga konsisten, buka QS Al Jumu'ah ayat ke 2: "Dia-lah yang membangkitkan di kalangan orang yang buta huruf seorang rasul dari mereka yang membacakan atas mereka ayat-ayat-Nya, dan mensucikan mereka, serta mengajarkan mereka kitab dan hikmah dan mereka itu sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” masih metode SQ-EQ-IQ.(Well I got the point now).

tapi sebentar bro, ada interupsi. bagaimana atau mengapa "membacakan...dst" dihubungkan dengan SQ? 

nah kalo ini jawabannya filosofis, mari buka QS Asy Syura ayat ke-52.“Dan demikianlah kami turunkan ruh (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Qur’an dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” jadi dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Al Qur’an merupakan sumber ruh terpenting, walaupun terdapat sumber lainnya, yaitu ibadah-ibadah ritual dan amal shalih.

Kedimensian ruh pada Al Qur’an diperkuat dengan dimensi sang pembawa Al Qur’an ke bumi, yaitu Malaikat Jibril, yang kita kenal dengan nama Ruh Al Amin atau Ruh Al Qudus. melaluinya pulalah hati kita dapat menerima Al-Quran.

kesimpulannya, Sudah semestinya kita membangun kecerdasan dengan membangun SQ terlebih dahulu, kemudian sambil terus dibangun SQ kita bangun EQ-nya, dan sambil membangun SQ dan EQ kita bangun IQ-nya. itulah QQ.

bagaimana mengukur QQ?
QQ sebagai suatu quotient memang dapat diukur sebagaimana IQ. Hanya saja bedanya, IQ diukur dengan menjawab suatu pertanyaan-pertanyaan apa adanya, sedangkan QQ diukur dengan menjawab suatu pertanyaan-pertanyaan yang HARUS dijawab dengan JUJUR.
 

Apa yang diukur dalam QQ?
Yang diukur dalam QQ ada 2 (dua) yaitu tingkat kesabaran dan tingkat kesyukuran. Mengapa? Karena KESABARAN dan KESYUKURAN merupakan KEAJAIBAN bagi manusia. Dan keajaiban itu hanya MILIK MUKMIN.


Dari Abu Yahya Syu’aib bin Sinan r.a. dia berkata Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh ajaib perkara orang mukmin itu, seluruh perkaranya baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang baik dia bersyukur, maka itu baik buat dirinya. Dan bila ia ditimpa mudharat, dia bersikap shabar, maka itu baik pula baginya.” (HR Muslim).

ehm....sekarang ini juga sudah dikenal AQ (Adversity Quotient) diperkenalkan oleh ilmuwan Amrik yang bernama Paul G. Stoltz, Ph.D. Menurutnya, salah satu kunci untuk mendapatkan kesuksesan adalah bila seseorang memiliki kemampuan untuk menghadapi kesulitan yang menghalangi, itulah AQ. bisakah QQ dihubungkan dengan Quotient yang paling mutakhir ini?

menurut saya AQ merupakan separuh bagian dari QQ, karena yang diukur hanyalah kemampuan menghadapi kesulitan atau yang dalam QQ diukur dalam ukuran tingkat kesabaran seseorang. itulah pengertian sabar yang benar, bukan sabar dalam pengertian pasrah atau nerimo yang sering disingkat NIP (Nrimo Ing Pandum).

Presentasi ditutup dengan kalimat bijak.
Hanya kepada Allah SWT kita semua berserah diri. Sesungguhnya ilmu yang kita miliki sangat-sangat tidak mencukupi dibandingkan ilmu Allah SWT yang Maha Luas.

doa saya semoga ilmu ini bermanfaat dan kiranya pahala bagi pembuatnya tidak akan terputus selama pengetahuan ini digunakan dan mengantar kita lebih dekat kepada-Nya. Amin.

dideskripsikan dengan penuh kekurangan dan canda(maaf) oleh saya semoga tdk mengurangi nilai dari presentasi ini.

Jumat, 16 Juni 2006




So kurang lengkap kalo gw gak share sekalian presentasinya.
Silahkan DOWNLOAD (KLIK DI SINI)
File QQ.rar - QQ.chm (2MB)

Klik untuk komentar