Balada Terakhir untuk Kez: Kisah Cinta, Luka, dan Pengorbanan

Di tengah kehancuran Kez, Ragil hadir sebagai penopang dan berjanji untuk menyembuhkan jiwa yang kering itu, meski takdir akhirnya merenggut nyawanya

 

Balada Terakhir untuk Kez: Kisah Cinta, Luka, dan Pengorbanan

Saat ini dia ada di hadapan saya... Memainkan gitarnya dengan lembut, mengalunkan lagu balada romantis itu lagi..."You had to drive, look me in the eye, whisper 'don't cry'..." 

Saya hanya bisa menatapnya. Wajahnya tampak larut dalam lagu yang ia mainkan. Saya tahu itu adalah ungkapan hatinya yang paling dalam. 

Saya tak berkata apa-apa, hanya duduk di sampingnya menikmati lagu sedih itu, berharap untuknya.

Dia selalu datang di waktu yang tak terduga. Saat saya pikir dia telah mendapatkan kebahagiaannya, dia muncul di depan pintu, tak berkata apa-apa. Hanya menatap saya dengan sedih, dan saya tahu dia belum bahagia. Biasanya dia akan menerobos masuk ke kamar kosan yang sempit ini, meraih gitar di pojok kamar, dan memainkan balada sedih itu.

Saya tak pernah bertanya ada apa, hanya duduk menunggunya berbicara, dan biasanya ia akan bicara juga. 

Saya tak pernah menghiburnya, hanya mendengarkan ia bercerita, dan pada akhirnya dia akan ceria jug, karena dia memang ceria.

Lima belas tahun berlalu sejak pertama kali saya dan dia bertemu. 

Sosok penyendiri, namun penuh dengan senyum hangat dan mata mengkilat menunjukkan semangat. Saya sangat mencintainya. Begitu juga dia, dulu. 

Berdua kami bercita-cita, berdua kami bersumpah. Entah tangan takdir ataukah tangan kami sendiri, hingga sumpah itu tak membawa kami ke titik yang sama.

Lima belas tahun berlalu, saya masih sangat mencintainya. Tapi dia pun bukan dia yang dulu; senyum cerianya tidak sehangat itu, sinar matanya meredup, pudar bak prasasti luka dan kesedihan. 

Jiwanya begitu kering, dan saya pun merasa begitu kering.

Hening Pukul Tiga Pagi

"Huekkkk!" Kez meringis, meringkuk di kamar mandinya. Tubuh telanjangnya mulai terasa dingin, perutnya terasa kencang akibat muntah-muntah barusan. Huekk...!! 

Hening. Kepalanya berat bak puluhan godam tengah menghantam tengkuknya. 

Kontrakan tiga petaknya saat pukul tiga pagi terasa begitu hening. Sayup-sayup didengarnya suara burung hantu, sejak dulu Kez memang ingin sekali bertemu burung hantu.

Meringkuk dalam hening, Kez menatap kakinya yang terlihat pucat dan dingin. Batinnya mulai bertanya-tanya apa yang sedang ia lakukan di sini. Tubuhnya terasa lemah dan dingin, dipaksanya untuk bangkit. 

Tertatih-tatih, ia mulai merangkak keluar dari kamar mandi, mengambil handuk yang tersampir, lalu dengan rambut basah dan tubuh berbau muntah, Kez melangkah ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.

Bayang-Bayang Masa Lalu

"Nanti kalau kamu lulus SMA, kuliah aja. Dari sekarang mulai nabung ya..." 

Mas Gun berbicara padaku dengan nadanya yang bijak. Seperti biasa aku hanya mengangguk, terkagum-kagum dengan kata-katanya. Bagiku dia seperti pahlawan di dunia nyata. Kedatangannya sebagai suami kakakku di keluarga ini benar-benar menjadi penyemangat buatku. 

Aku masih kelas lima SD saat dia dan kakakku menikah; gaya bicaranya yang mengayomi dan penuh dengan wawasan membuat aku merasa seolah dia satu-satunya yang paling mengerti diriku.

Aku bukan orang yang suka bermain-main layaknya anak sebayaku. Aku lebih suka menyendiri di rumah, membaca komik, novel, atau bahkan majalah sport milik kakakku. Saat teman sebayaku masih sibuk dengan permainan "ibu-ibuan"-nya, aku lebih suka duduk di samping radio milik bapakku sambil mendengarkan lagu-lagu tahun enampuluhan. 

Mas Gun sangat pintar, begitu menurut keluargaku, mungkin karena dia guru, maka keluargaku yang ekonominya pas-pasan ini selalu menganggapnya pintar, dan akupun sangat mengaguminya. Bayang-bayang kuliah di perguruan tinggi selalu jadi impian yang mengasyikkan, dan Mas Gun dengan segala nasihatnya seolah-olah menjadi malaikat penunjuk jalanku. Aku yang saat itu kelas satu SMP merasa sangat yakin akan masa depanku.

Malam itu aku merasa sangat letih. Sebagian besar keluargaku masih berkumpul di depan televisi, dan pukul delapan malam tubuhku sudah lelap tertidur. Sayup aku mendengar suara burung hantu, ah, begitu misterius, aku suka misteri seperti karya Agatha Christie dan Alfred Hitchcock, aku ingin melihat burung hantu. 

Tiba-tiba aku merasa sesuatu membasahi leherku. Ah, apa burung hantu punya lidah? Aku merasa letih sekali.

Aku mendengar suara tertawa, tawa siapa itu, sepertinya keluargaku menonton acara yang lucu sekali. Lagi-lagi aku merasa sesuatu membasahi kupingku, sesuatu yang basah seperti tadi. Apakah burung hantu itu datang lagi? 

Rasanya dia kembali membasahi leherku. Aku mau melihat burung hantu itu, tapi aku letih sekali, dan tubuhku terasa sangat berat. Berat, dan burung hantu itu masih membasahiku; ke leher, ke telingaku, ke keningku, ya Tuhan kini dia merayap ke balik bajuku. Tapi ini terasa sangat nyata, semakin nyata, begitu nyata... Mataku seketika terbelalak, tubuhku bergetar, jantungku berdegup kencang. 

Kulihat Mas Gun di atas tubuhku...

Pengakuan di Balik Petikan Gitar

Sudah sepuluh kali, saya menghitungnya sendiri... sudah sepuluh kali dia memainkan lagu balada sedih itu. Belum pernah saya melihat dia sesedih itu. Bahkan baladanya pun sudah tidak terdengar sesedih itu lagi. Seperti kata mereka, berteriaklah "I love you" berkali-kali pada orang yang kau cinta, maka kata-kata itu pun tak terdengar berarti lagi.

Saya ingin sekali bertanya, ingin sekali memeluk dan menghiburnya. Tapi dia terlihat begitu jauh, seolah-olah jiwanya tak di sini. 

"Apa yang terjadi?" Pertanyaan itu tak tertahankan keluar dari mulut saya. Dia hanya terus bermain gitar sambil matanya terpejam. 

"Akhirnya dia bener-bener ninggalin gue, Gil." Dia adalah lelaki itu. Yang merenggut dia dari saya, yang membuat dia dan saya menuju ke sudut yang berbeda.

"Dia bilang dia gak pernah bahagia sama gue. Dia bilang dia bertahan sama gue cuma karena bersalah udah ML ama gue. Gue kan udah gak perawan, Gil. Ngapain sih dia ngerasa bersalah terus maksa-maksa bertahan sama gue...?" Saya menunggu. 

"Bulan depan dia mau nikah. Sama cewek alim itu, yang dia bilang cuma sahabatnya. Padahal mereka udah pacaran diam-diam sejak satu tahun lalu. Dia bilang, dia butuh waktu untuk ngomong ini ke gue..." Saya tetap menunggu. 

"Apa gue gak pantas dicintai, Gil??" 

Matanya menatap mata saya. Dari jendela jiwa itu saya melihat begitu banyak perih. Dan saya merasa begitu perih.

Kehancuran dan Secercah Harapan

Kez menggigil di dalam selimut. Aroma muntah itu sudah menjadi sahabatnya sejak minggu belakangan ini, sejak ia kehilangan orang yang paling dicintainya, dan bahkan mungkin paling mencintainya sejak calon suaminya meninggal sehari sebelum pernikahan mereka. 

Kez yang frustrasi pun memilih pergi dari rumah dan tinggal di rumah tiga petak yang sempit itu. Berbotol-botol minuman ditenggaknya; terbangun di kamar mandi atau di lantai dapur hampir jadi kebiasaannya.

Kez marah pada Tuhan, pada nasib, dan pada takdir. Kez muak pada dirinya karena hidup seperti ini, tapi tak punya cukup keberanian untuk mengakhiri hidup. Kez marah pada keluarganya yang memaksanya membunuh bayi itu, merasa malu bila ia melahirkan tanpa suami. 

Tapi Kez lebih marah terhadap dirinya karena tak mampu menjaga nyawa di dalam perutnya, dengan memberinya suplai gizi, dan bukannya rokok atau alkohol. Kez begitu putus asa, begitu kering dan perih.

Suara burung hantu itu terdengar. Kez merasa semakin menggigil. Dari balik selimut, ia tatap tubuhnya yang telanjang; perutnya tampak menggembung. 

Tiba-tiba secercah perasaan aneh hinggap. Ia mengelus perutnya. Kuat sekali makhluk ini, tidak mati, meski ia sering meracuninya. 

Kez kembali tertidur.

Toko Buku dan Kamera Obscura

Aku menatap pria yang sangat kukenal itu. Hampir lima belas tahun aku mengenalnya, lima belas tahun aku hidup bersamanya. Ia tampak asyik bercengkerama dengan wanita murahan itu. Tertawa-tawa sambil sesekali menciumnya, seolah-olah tidak sadar bahwa mal ini adalah tempat umum. 

Wanita murahan itu! Sepuluh kalipun dia tak akan sanggup menyamai keanggunan ibuku. Ingin sekali aku menjambaknya dan berteriak, bahwa bapakku itu hanya supir, gak bakal punya duit untuk dia peloroti. Dan pria yang biasa kusebut bapak itu, seolah tidak ingat bahwa di rumahnya ada wanita yang dengan setia menunggunya dan telah melahirkan lima anak untuknya.

Ragil menggandengku dan mengajakku berlalu dari tempat itu. Dibawanya aku ke toko buku, tempat favoritku. Dia tak berkata apa-apa, hanya mengandengku dengan erat. Tangannya seolah-olah memberi kekuatan padaku. 

Tears of Affairs milik Camera Obscura berkumandang di toko buku. Lagu balada sedih itu terasa sangat mengenal di hatiku. Ini adalah lagu favoritku, demikian kuputuskan saat itu.

Langkah Baru di Pagi Hari

Suara ayam membangunkan Kez. Dan Kez mengalami perasaan aneh itu; dia mengelus perutnya. Samar-samar Kez mengingat hari itu, saat almarhum calon suaminya menatapnya dengan sungguh-sungguh dan berkata, "Nikahlah sama gue, Kez! Biar gue yang hapus semua luka itu... Biar gue yang menghapus perih dan luka loe. Biar gue yang akan membasahi jiwa loe yang kering itu..."

Samar-samar kata-katanya membuat Kez terjaga. Biasanya Kez hanya akan terbangun saat alarmnya berteriak berkali-kali mengingatkannya untuk bekerja. Tapi minggu pagi ini pukul enam, Kez merasa ada tenaga luar biasa yang memaksanya bangun. 

Kez beranjak mandi, mengenakan sweater dan training-nya. 

Dengan langkah santai, Kez keluar rumah dan menuju taman kota. Seorang ibu yang setiap pagi ia temui, tapi tak pernah disapanya, menatapnya dengan heran. Dan Kez tersenyum padanya. 

Pagi ini Kez hanya ingin tersenyum.

Janji Suci yang Tak Kesampaian

Saya mencintainya, masih dan akan selalu sangat mencintainya. 

Malam itu, saat kesedihannya begitu menusuk jiwa saya, saat matanya yang tidak menangis itu menunjukkan jiwanya yang telah berulang kali patah, saat lagu balada sedihnya mengisyaratkan jiwanya yang kering, saya berjanji untuk selalu di sampingnya. Untuk benar-benar berada di sampingnya, menghapus lukanya, dan membasahi jiwanya yang kering itu.

Sudah lima belas tahun saya mengenalnya. Saat dia hanya seorang penyendiri, saya selalu menatapnya dari rumah saya. Saat kakak iparnya memperkosa di umurnya yang 11 tahun, saya di sana mendengarkan tangisnya. Saat ayahnya mencumbu wanita selain ibunya, saya di sana menggandeng tangannya. Saat pria itu merenggut hatinya dari sisi saya, saya di sini menanti dan mengharapkan kebahagiaannya. Dan saat pria itu meninggalkannya dengan satu nyawa tertanam di perutnya, dia akan menikah dengan saya.

Demikianlah. Besok saya akan menikah dengannya. Mencoba melindunginya dari prahara hidup yang membuatnya perih, mencoba memberi air pada jiwa yang kering bak pasir itu, mencoba memberi air pada jiwa saya sendiri yang juga merasa kering. 

Semoga pada akhirnya, satu jiwa lain tumbuh dari pasir yang awalnya kering itu. Saya mencintainya

Dering Ponsel di Penghujung Bahagia

Aku menatap wajahku di cermin. Begitu cantik dan bahagia. Tak pernah kusangka bahagia seperti ini akan menjadi milikku. Besok aku akan menikah dengan Ragil, pria yang lima belas tahun ini selalu berada di sampingku. 

Bayi ini akan menjadi milik kami berdua, Ragil berjanji akan hal itu. Ragil akan selalu berada di sampingku, tak akan membiarkanku terluka lagi, begitu katanya. Dan aku percaya, karena dia memang selalu berada di sini.

...Tunggu, suara apa itu? Sepertinya ada burung hantu di luar kamarku. Haruskah aku melihatnya? Sejak dulu aku selalu ingin melihat burung hantu.

Refrain Tears of Affairs terdengar dari ponselku. Satu nomor yang kukenal terpampang di layar: "Ragil's Home". 

"Hallo..." Aku menjawab mesra. "Kez...?" Ini bukan suara Ragil. Sepertinya suara ibunya, tapi terdengar sangat sedih. 

"Iya... Kenapa, Bu?" "Kez, Ragil kecelakaan motor. Sekarang dia di rumah sakit." 

Aku terdiam. Dunia seperti beku. Dan aku merasakan kering itu lagi. "Kez, Ragil sudah gak ada..."

Warisan Kasih Abadi

Segelas susu dihabiskannya. Tujuh bulan sudah. Dua bulan lagi, satu jiwa baru akan datang. Keluarganya mengerti keputusannya; tidak, anak ini bukan anak haram, dan ia tidak butuh bapak biologis. 

Bapaknya cuma satu, yang sekarang terbaring tenang di bawah tanah.

Kez memandang foto Ragil, dan mengelus perutnya sambil tersenyum, "Ini bapakmu, Nak! Dia ada di surga, dan dia selalu mencintaimu, mencintai ibumu..."


Kyd - Senin, 12 February 2007 

Posting Komentar

No Spam, Please.