
Mpok Ani bergerak cekatan dari satu meja ke meja lain. Pesanan kopi, teh, gorengan, mie rebus, bergantian keluar dari dapur kecil. Seorang pegawai muda ikut membantu. Anak itu masih terlihat malu-malu setiap kali harus mengantar pesanan ke meja yang ramai. Kalau pelanggan mengajaknya bercanda, senyumnya muncul sebentar lalu buru-buru menghilang.
Di salah satu sudut, Adit duduk bersama Mak Sri, Bang Kadus Udin, dan Ki Somad. Kamera Adit tergeletak di samping gelas kopi. Bang Udin sedang menikmati kopinya dengan santai, tanpa membawa urusan sayuran atau pekerjaan di Pasar Babelan.
Obrolan dimulai ketika Adit bercerita tentang seseorang yang menurutnya terlalu mudah percaya kepada cerita orang lain.
“Kalau orang cerita, gue biasanya skeptis dulu,” kata Adit. “Gue enggak bisa langsung percaya.”
Mak Sri menoleh. “Terus orang jadi males cerita sama lu?”
“Kadang.”
Bang Udin mengangkat gelas. “Wajar. Orang cerita ke Adit mungkin berharap dikasih teh manis, eh malah ditanyain sumber datanya dari mana.”
Mereka tertawa.
Adit ikut tertawa, tetapi kemudian berkata, “Gue cuman enggak mau gampang dibohongin.”
Ki Somad yang sejak tadi diam akhirnya menyahut, “Bagus.”
Adit mengangguk.
“Tapi jangan sampai POV lu juga lu anggap sebagai kenyataan.”
Adit langsung menoleh.
“Nah, kalau itu gue enggak setuju, Ki.”
Suasana meja berubah sedikit.
Skeptis atau Terlalu Cepat Menilai?
Adit duduk lebih tegak. Menurutnya, skeptis bukan masalah. Justru di zaman sekarang, orang perlu skeptis. Berita bisa dipotong, video bisa diedit, cerita bisa dibumbui. Orang bisa menangis di depan kamera pagi ini lalu ketahuan berbohong malam harinya.
“Kalau semua cerita kita terima karena alasan ‘setiap orang punya perspektif’, bahaya juga, Ki,” kata Adit. “Orang bohong bisa dianggap cuma punya sudut pandang berbeda.”
Ki Somad mengangguk.
“Betul.”
“Jadi saya enggak salah dong?”
“Belum tentu.”
Adit tertawa kecil. “Nah, ini. Ki Somad kalau bilang ‘belum tentu’ biasanya mau bantah.”
Mak Sri hanya tersenyum.
Ki Somad tidak terpancing. Ia menyeruput kopi.
“Yang saya persoalkan bukan skeptisnya, Dit. Saya cuma khawatir lu lebih sibuk membuktikan orang salah daripada memahami kenapa dia sampai berpikir begitu.”
Adit langsung membalas.
“Lah, kalau ternyata dia memang salah?”
“Ya bilang salah.”
“Kalau bohong?”
“Cari buktinya.”
“Kalau manipulatif?”
“Jangan dipercaya.”
Adit mengangguk seperti baru menemukan titik temu.
“Nah, berarti kita sama.”
Ki Somad tersenyum tipis.
“Belum tentu juga.”
Bang Udin hampir tersedak kopi.
“Waduh. Belum tentu lagi.”
Tawa pecah, tetapi Adit belum puas.
“Terus yang Ki Somad mau tuh bagaimana? Semua orang didengerin, semua pendapat dipahami, tapi enggak boleh dinilai?”
Ki Somad menatap Adit.
“Saya enggak pernah bilang begitu.”
“Terus?”
“Jangan buru-buru merasa sudah melihat seluruh ceritanya.”
Adit diam.
Kalimat itu justru membuatnya kesal.
Sebab menurut Adit, masalahnya bukan hanya soal memahami orang. Ada kalanya seseorang memang harus dikritik.
Kalau terlalu sibuk memahami alasan seseorang berbuat salah, kita bisa lupa bahwa perbuatannya tetap salah.
“Kalau semua orang kita pahami terus, kapan kita tegasnya, Ki?”
Nada Adit mulai meninggi.
Mak Sri menatapnya, lalu melihat Ki Somad.
Ki Somad tetap tenang.
“Kalau lu sedang marah sama seseorang, Dit, yang lu lihat pertama kali biasanya apa?”
Adit mengernyit.
“Kesalahannya.”
“Nah.”
Ki Somad menunjuk ke meja.
“Karena lu sibuk mencari kesalahan.”
Satu Ruangan, Dua Pemandangan
Ki Somad lalu menunjuk ke ruangan kedai yang semakin ramai.
“Coba lihat meja sebelah.”
Adit melihat.
Ada dua anak muda sedang berbicara. Salah satunya tampak serius. Yang lain lebih banyak diam.
“Menurut lu, yang diam itu kenapa?”
Adit memperhatikan sebentar.
“Bisa jadi enggak nyaman.”
“Bisa.”
“Bisa juga marah.”
“Bisa.”
“Bisa juga memang pendiam.”
“Bisa.”
Ki Somad tersenyum.
“Nah. Lu baru lihat beberapa detik, tapi kepala lu sudah membuat beberapa cerita.”
Adit terdiam.
Ki Somad melanjutkan, “Sekarang bayangin orang yang sudah hidup puluhan tahun. Dia membawa pengalaman dari rumahnya, nilai yang dia pegang, hal-hal yang dulu membuat dia dipuji, dan hal-hal yang pernah menyakitinya. Semua itu secara gak sadar ikut bekerja ketika dia melihat sebuah kejadian.”
Mak Sri mengangguk pelan.
“Jadi dua orang bisa melihat kejadian yang sama, tetapi menangkap hal yang berbeda.”
“Iya.”
Orang yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjaga kerapian mungkin melihat kamar berantakan sebagai masalah besar. Orang lain melihatnya biasa saja. Satu orang memperhatikan pakaian berserakan, yang lain justru memperhatikan wajah orang yang sedang murung di sudut ruangan.
Bukan karena salah satu matanya rusak, tapi perhatiannya yang berbeda.
Otak manusia memang tidak menangkap seluruh informasi sekaligus. Ia memilih apa yang dianggap penting. Pengalaman kemudian membuat pilihan itu semakin terbiasa.
Orang yang pernah dikhianati mungkin lebih cepat mencium kebohongan. Orang yang pernah dipermalukan bisa lebih peka terhadap nada bicara. Orang yang terbiasa menjaga perasaan orang lain mungkin lebih cepat melihat perubahan ekspresi.
Adit masih belum sepenuhnya menerima.
“Berarti kalau orang punya trauma, kita maklumin semua?”
Ki Somad menggeleng.
“Enggak.”
“Terus?”
“Lu pahami alasannya. Bukan berarti lu harus membenarkan tindakannya.”
Adit terdiam lebih lama kali ini.
Jendela yang Berbeda
Ki Somad mengambil gelas kopi kosong lalu meletakkannya di antara mereka.
“Bayangin kita berdiri di dua rumah berbeda. Jalannya sama. Orang lewat sama. Pohon yang dilihat sama. Tapi jendelanya beda.”
Adit memperhatikan.
“Dari jendela lu mungkin kelihatan orang sedang berlari. Dari jendela orang lain mungkin kelihatan orang yang mengejar anaknya. Informasinya belum lengkap, tapi dua-duanya merasa melihat kejadian yang nyata.”
Adit tersenyum tipis.
“Terus siapa yang benar?”
Ki Somad mengangkat bahu.
“Mungkin dua-duanya cuman melihat sebagian.”
Bang Udin menyeruput kopi.
“Kalau jendela saya menghadap kedai, saya lihat kopi.”
Mpok Ani dari jauh langsung menyahut, “Dari tadi juga yang abang lihat cuma kopi!”
Semua tertawa.
Ketegangan yang tadi muncul perlahan mencair.
Ki Somad kembali kepada Adit.
“Makanya saya bukan menyuruh lu berhenti skeptis.”
Adit menunggu.
“Saya cuma bilang, sebelum mengoreksi orang, coba tanya satu hal.”
“Apa?”
“Apa yang dia lihat yang enggak saya lihat?”
Adit tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu tidak membatalkan sikap skeptisnya. Tidak juga membuat semua pendapat menjadi benar. Tetapi ada ruang kecil yang sebelumnya mungkin tidak tersedia: ruang untuk mencari tahu sebelum menghakimi.
Sore yang Pulang Bersama Pikiran
Mendekati magrib, Kedai Dakalea semakin ramai. Anak-anak muda masih berdatangan. Pegawai muda yang tadi malu-malu mulai sedikit lebih berani bercanda dengan pelanggan. Mpok Ani tetap bergerak cepat, seolah kedai tidak pernah mengenal istilah istirahat.
Bang Udin masih menikmati kopi terakhirnya.
Adit memasukkan kamera ke tas.
“Ki.”
“Hm?”
“Gue tetap skeptis.”
Ki Somad tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi mungkin gue perlu lebih sering nanya sebelum nyimpulin.”
Ki Somad hanya mengangguk.
Tidak ada kemenangan. Tidak ada pihak yang benar-benar kalah.
Barangkali memang bukan itu tujuan sebuah percakapan.
Kita sering mengira perbedaan pendapat harus berakhir dengan seseorang mengakui bahwa dirinya salah. Padahal kadang percakapan yang baik justru membuat kita pulang dengan pertanyaan baru.
Kita membawa pengalaman masing-masing seperti membawa kaca di depan mata. Dari sana dunia terlihat masuk akal menurut kita. Masalahnya, kaca itu tidak pernah memperlihatkan seluruh pemandangan.
Mungkin karena itu kita mudah marah kepada orang yang melihat sesuatu secara berbeda. Kita lupa bahwa dia juga sedang berdiri di sebuah jendela. Jendelanya berbeda. Pemandangannya mungkin berbeda.
Dan mungkin, sebelum sibuk memaksa orang lain melihat dari jendela kita, ada baiknya sesekali kita bergeser beberapa langkah. Bukan untuk meninggalkan keyakinan. Bukan untuk menganggap semua orang benar.
Hanya untuk memastikan bahwa yang selama ini kita sebut sebagai kenyataan memang sudah kita lihat dari lebih dari satu sisi.
Sebab bisa jadi orang lain memang salah. Tapi bisa juga ada sesuatu yang dia lihat, sementara kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita benar sampai lupa melihatnya.
Dan mungkin, di situlah kedewasaan mulai tumbuh: bukan ketika kita berhenti berbeda, melainkan ketika kita mampu tetap berbeda tanpa merasa harus menjadi satu-satunya orang yang benar.