Menikmati Senja Makassar dan Catatan Kecil tentang Lirik Anging Mammiri

Menikmati Anging Mammiri versi Léna Lörincz, menemukan kejanggalan lirik, dan merenungkan AI serta pentingnya menjaga makna lagu daerah
Menikmati Senja Makassar dan Catatan Kecil tentang Lirik Anging Mammiri

Sore ini, suasananya terasa begitu menenangkan di teras rumah. Angin khas Kota Makassar berembus pelan, membawa kesejukan setelah seharian dilanda gerah. Sambil menunggu waktu magrib tiba, saya memilih duduk santai sembari menikmati secangkir kopi hangat.

Biasanya, waktu-waktu senggang seperti ini saya habiskan dengan menonton drama China pendek (short drama) di HP. Tapi, hari ini rasanya ingin menikmati sesuatu yang lebih syahdu.

Jari saya lantas membuka aplikasi musik dan memutar sebuah trek yang belakangan sering menemani waktu santai saya: lagu Anging Mammiri, karya Borra Daeng Ngirate, dalam versi Léna Lörincz. Sebagai seorang penikmat musik, saya ikut senang mengetahui ada yang membawakan (cover) lagu-lagu daerah Indonesia.

Rasanya seperti menikmati kopi yang sama, tetapi diracik oleh barista yang berbeda. Bahannya boleh sama, tetapi racikan, aroma, dan sensasi yang tertinggal di lidah bisa saja berbeda. Kalau perumpamaannya kurang tepat, ya, maafkan saya. Namanya juga sambil ngopi, sesekali boleh dong berlagak jadi filsuf. :)

Léna, yang mengaku sebagai penyanyi asal Hongaria, konon jatuh cinta pada budaya Nusantara lewat proyek Rempah Soundscape-nya di Yogyakarta. Ia mengemas lagu legendaris Makassar ini dengan sentuhan jazz pop dan bossa nova yang easy listening banget. Aransemennya terasa ringan, modern, dan menenangkan. Lagu yang sudah akrab di telinga saya itu seperti mendapat pakaian baru tanpa kehilangan pesona melodinya.

Namun, ada satu hal yang membuat saya penasaran. Saya menemukan adanya dugaan bahwa karya musik yang beredar dengan nama Léna Lörincz melibatkan kecerdasan buatan generatif (AI). Saya belum memiliki bukti yang cukup untuk memastikan sejauh mana AI digunakan dalam proses produksinya, apakah hanya untuk membantu aransemen, menghasilkan vokal, atau bahkan membuat sebagian besar lagunya.

Vokalnya terdengar lembut dan fasih, berpadu apik dengan petikan gitar akustik yang mengalun lambat. Saya sempat memejamkan mata, benar-benar tenggelam dalam melodi yang dihadirkan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan.

Di satu sisi, saya menikmati musiknya. Di sisi lain, saya mulai bertanya-tanya: jika ternyata suara yang begitu menyentuh ini dihasilkan oleh AI, bagaimana seharusnya saya memandang pengalaman mendengarkan lagu tersebut?

Pertanyaan itu bukan berarti saya menganggap musik yang melibatkan AI pasti kehilangan nilai seni. Saya hanya penasaran dengan hubungan antara teknologi, proses kreatif, dan perasaan yang muncul ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu.

Toh, perasaan yang saya alami tetap nyata, siapa pun atau apa pun yang menghasilkan suara tersebut. Hanya saja, ada perbedaan antara suara yang terdengar menyentuh dan kepastian bahwa orang di balik suara itu benar-benar mengalami perasaan yang sedang dinyanyikannya.

Pikiran saya pun kembali pada satu hal sederhana: siapa pun yang terlibat dalam proses pembuatan lagu, bukankah ketepatan lirik tetap penting, terlebih ketika yang dibawakan adalah karya budaya yang memiliki makna bagi masyarakat asalnya?

Momen Batin dan Kesalahan Kecil

Saat mendengar bait "Nalonglorang nalonglorang je'ne mato", ada kegelisahan kecil yang menggelitik benak saya.

Lho, kok, rasanya berbeda, ya?

Mungkin saja pendengaran saya yang keliru. Saya pun mengulang bagian tersebut beberapa kali untuk memastikan. Setelah didengarkan berulang-ulang, sepertinya memang begitu bunyi pelafalannya.

Meski bukan penutur asli bahasa Makassar dan tentu masih banyak yang tidak saya ketahui, saya cukup yakin bahwa bagian lirik yang saya kenal bukanlah "je'ne mato", melainkan "nalo'lorang je'ne mata", dengan kemungkinan variasi penulisan atau pelafalan yang perlu dikonfirmasi kepada penutur yang lebih memahami bahasa Makassar.

Bagi sebagian orang, perubahan satu vokal mungkin terdengar sepele. Toh, cuma berbeda antara huruf a dan o. Tidak sampai membuat lagunya berubah menjadi lagu lain, bukan?

Tetapi, entah mengapa, bagi saya perubahan itu terasa mengganggu. Kata mata dalam konteks lirik tersebut berhubungan dengan air mata, sesuatu yang sangat dekat dengan gambaran kerinduan dan kesedihan. Ketika bunyinya berubah menjadi mato, ada rasa yang sedikit bergeser. Bahkan, sesaat saya merasa seperti mendengar nuansa bahasa lain menyelip di tengah lagu Makassar.

Mungkin ini terdengar berlebihan. Namanya juga orang sedang menikmati lagu, tiba-tiba malah sibuk mengurusi satu huruf. Kopi belum habis, pikiran sudah ke mana-mana. :)

Lalu, apakah saya harus marah? Apakah ini kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan? Haruskah saya langsung menuliskan kritik tajam dan menyimpulkan bahwa penyanyinya tidak menghargai budaya kita?

Ah, tentu saja tidak.

Kalau dipikir-pikir, buat apa juga saya bersikap reaktif atau merasa paling benar? Saya sendiri bukan ahli bahasa Makassar. Pengetahuan saya pun tidak cukup untuk memastikan setiap variasi lirik dan pengucapannya. Ada baiknya saya menyisakan ruang untuk kemungkinan bahwa saya juga bisa keliru.

Léna berasal dari Hongaria, sebuah negeri yang tentu memiliki bahasa dan kebiasaan pengucapan berbeda dari bahasa Makassar. Jika memang ia menyanyikan lagu ini dengan pelafalan yang kurang tepat, hal itu bisa dimaklumi, terutama apabila ia sedang mempelajari bahasa dan budaya yang bukan berasal dari lingkungan kesehariannya.

Saya justru senang ketika ada orang dari negara lain yang tertarik mempelajari dan memperkenalkan musik Indonesia. Tidak setiap orang asing mau meluangkan perhatian untuk mengenal lagu daerah kita. Karena itu, ketidaksempurnaan dalam sebuah upaya tidak serta-merta harus menenggelamkan nilai positif yang dibawanya.

Saya membayangkan, mungkin ada pendengar lain yang juga menyadari perbedaan pelafalan tersebut, tetapi memilih untuk tetap menikmati lagunya. Musiknya memang enak didengar. Aransemennya menenangkan, dan melodinya masih mampu membangkitkan perasaan tertentu.

Namun, setelah memikirkan persoalan itu lebih jauh, saya menyadari bahwa ada hal lain yang sebenarnya lebih menarik daripada sekadar memperdebatkan benar atau salahnya satu pengucapan.

Bagaimana jika suara yang begitu lembut dan menyentuh perasaan itu memang dihasilkan oleh kecerdasan buatan?

Di situlah persoalannya mulai terasa berbeda.

Kalau seorang manusia salah melafalkan lirik, kita bisa membayangkan ia sedang belajar, gugup, atau belum terbiasa dengan bahasa yang dinyanyikannya. Kita bisa memaklumi keterbatasannya sebagai manusia.

Tetapi, ketika sebuah lagu diduga dihasilkan oleh AI, muncul pertanyaan lain. Jika teknologi mampu menghasilkan suara yang begitu indah, bukankah seharusnya proses pembuatannya juga bisa dibantu dengan pemeriksaan lirik dan pelafalan yang lebih teliti?

Tentu saja, AI tidak otomatis mengetahui seluruh konteks budaya hanya karena mampu menghasilkan suara yang terdengar meyakinkan. Teknologi itu bekerja berdasarkan pola dan informasi yang tersedia, sementara ketepatan hasilnya tetap bergantung pada data, instruksi, proses penyuntingan, dan pemeriksaan manusia.

Jadi, jangan buru-buru menyalahkan mesin. Di balik sebuah karya yang dihasilkan AI, bisa saja ada manusia yang menyusun konsep, memilih lirik, menentukan aransemen, dan memutuskan hasil mana yang layak dipublikasikan.

Pertanyaan yang lebih menarik justru begini: ketika teknologi sudah mampu membuat kita terhanyut dalam sebuah lagu, apakah kita juga bersedia meluangkan sedikit waktu untuk memastikan bahwa makna yang dibawanya tidak ikut berubah?

Menyelami Makna Asli di Balik Lirik Anging Mammiri

Supaya kita bisa sama-sama mengagumi keindahan karya ini, ada baiknya kita menengok kembali struktur lirik Anging Mammiri beserta makna bebasnya menurut pemahaman saya.

Tentu saja, penafsiran ini bukan terjemahan akademis atau satu-satunya makna yang benar. Saya memahaminya sebagai gambaran tentang kerinduan seseorang yang begitu dalam, sampai-sampai ia membutuhkan bantuan angin untuk menyampaikan perasaannya.

Anging mammiri kupasang / Pitujui tongtonganna
Angin yang berembus sepoi-sepoi, aku menitip pesan / Arahkan menuju jendela kamarnya.

Tusarroa takkaluppa / E aule... namangngu'rangi
Kepada dia yang sering melupakan / E aule... semoga dia teringat kembali.

Tutenayya, tutenayya parisi'na 
Kepada dia yang tidak merasakan kegelisahan ini 

Batumi anging mammiri
Datanglah, wahai angin yang berembus.

Anging ngerang dinging-dinging / Namalantang saribuku
Angin yang membawa rasa dingin / Yang merasuk hingga ke tulang rusuk.

E aule... mangerang nakku / Nalo'lorang je'ne mata
E aule... membawa rasa rindu / Hingga bercucuran air mata.

Dari bait-bait tersebut, saya menangkap gambaran seseorang yang menjadikan angin sebagai kurir tak kasatmata. Ia menitipkan pesan kepada angin agar disampaikan kepada seseorang yang dirindukannya, seseorang yang seolah-olah sudah melupakannya.

Angin tidak bisa benar-benar mengetuk jendela atau membisikkan pesan sebagaimana manusia. Namun, dalam dunia perasaan, bukankah kita sering melakukan hal serupa? Kita menitipkan rindu pada lagu, mengingat seseorang ketika hujan turun, atau berharap orang yang jauh tiba-tiba merasakan sesuatu yang sama dengan apa yang sedang kita rasakan.

Barangkali itulah kekuatan metafora dalam lagu ini. Sesuatu yang sederhana, seperti angin yang berembus, diberi peran untuk menyampaikan perasaan yang tidak mampu diungkapkan secara langsung.

Ketika kerinduan itu tidak berbalas, angin seolah diminta membawa hawa dingin yang menembus hingga ke tulang rusuk. Bagi saya, gambaran ini bukan semata-mata tentang udara yang dingin, melainkan tentang kesepian yang terasa sampai ke dalam tubuh.

Puncaknya ada pada bait terakhir. Kerinduan yang semula hanya dititipkan melalui angin akhirnya menjelma menjadi air mata. Perasaan yang sejak awal berusaha disampaikan dengan cara yang halus, akhirnya tidak lagi bisa dibendung.

Saya juga menangkap sesuatu yang menarik dari cara lagu ini menggambarkan angin. Seolah-olah angin bukan hanya benda yang bergerak karena perbedaan tekanan udara, tetapi juga sahabat yang bisa diajak bicara, dipercaya menyimpan rahasia, bahkan dimintai pertolongan.

Tentu saja, itu hanya penafsiran saya. Bisa jadi makna yang dimaksud penciptanya lebih luas atau berbeda dari apa yang saya bayangkan.

Namun, di situlah letak menariknya karya seni. Sebuah lagu dapat memiliki makna yang melampaui rangkaian kata dan nada yang menyusunnya. Ia memberi ruang bagi pendengar untuk membawa pengalaman hidup masing-masing ke dalam lagu tersebut.

Dan mungkin karena itulah satu bunyi yang terasa kurang tepat bisa begitu mengusik. Bukan semata-mata karena persoalan pengucapan, melainkan karena saya merasa ada bagian kecil dari gambaran perasaan tadi yang tidak tersampaikan sebagaimana mestinya. 

Btw ini dia lagu Anging Mammiri, karya Borra Daeng Ngirate, dalam versi Léna Lörincz

Merawat Karya: Merayakan Kreativitas Tanpa Melupakan Akar

Menyadari adanya kemungkinan kekeliruan dalam pelafalan lirik sama sekali bukan alasan untuk mengecilkan usaha Léna Lörincz. Sebaliknya, ketertarikan untuk mengenalkan musik daerah kita kepada pendengar yang lebih luas patut diapresiasi.

Saya sendiri masih menikmati versi jazz pop dan bossa nova ini. Sampai sekarang, lagu tersebut tetap menjadi salah satu teman bersantai yang menyenangkan. Aransemennya terasa ringan, tidak berlebihan, dan cocok menemani sore sambil menyeruput kopi.

Namun, catatan kecil ini tetap penting untuk saya tulis. Bukan untuk mencari-cari kesalahan, apalagi menghakimi seseorang yang mencoba memperkenalkan budaya kita. Saya hanya merasa bahwa ketika sebuah karya tradisional dibawa ke dalam bentuk baru, ada sesuatu yang sebaiknya tidak kita abaikan: makna yang terkandung di dalamnya.

Lagu daerah bukan sekadar kumpulan nada yang bisa diaransemen ulang sesuka hati. Di dalamnya tersimpan bahasa, kebiasaan, cara pandang, dan pengalaman hidup masyarakat yang melahirkannya. Bahkan, kata yang tampak sederhana bisa memiliki nuansa yang tidak sepenuhnya terwakili oleh terjemahan bahasa lain.

Karena itu, menjaga ketepatan lirik bukan berarti menolak kreativitas. Kita tetap bisa mengubah tempo, memainkan harmoni dengan pendekatan jazz, menambahkan sentuhan bossa nova, atau menggunakan teknologi AI untuk mengeksplorasi kemungkinan musikal yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Tetapi, ada baiknya proses kreatif itu disertai perhatian terhadap sumber aslinya. Lirik dapat diperiksa kembali, pelafalan bisa dikonsultasikan kepada penutur asli, dan hasil akhirnya sebaiknya didengarkan dengan teliti sebelum dipublikasikan.

Langkah-langkah tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah penghargaan terhadap sebuah tradisi bisa terlihat.

Apalagi ketika AI mulai mengambil bagian dalam proses penciptaan musik. Teknologi dapat membantu menghasilkan suara yang merdu, menyusun aransemen, bahkan meniru karakter vokal manusia. Akan tetapi, kemampuan menghasilkan sesuatu yang terdengar indah tidak selalu berarti teknologi itu memahami sepenuhnya makna budaya yang sedang dibawakannya.

Di sinilah peran manusia tetap penting. Bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pihak yang memahami konteks, memeriksa ketepatan, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dipublikasikan.

Saya kira, persoalannya bukan lagi soal memilih antara musik buatan manusia atau musik hasil AI. Keduanya bisa menjadi sarana untuk mengeksplorasi kreativitas. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana karya itu dibuat, bagaimana sumber budayanya diperlakukan, dan seberapa besar perhatian diberikan pada makna yang hendak disampaikan.

Toh, teknologi hanyalah alat. Ia bisa membantu memperkenalkan lagu daerah kepada pendengar di berbagai belahan dunia, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa yang diperkenalkan bukan hanya bunyinya, melainkan juga makna dan nilai yang menyertainya.

Pada akhirnya, saya kembali duduk santai di teras rumah. Kopi di cangkir mulai kehilangan hangatnya, sementara lagu Anging Mammiri masih mengalun pelan dari gawai.

Saya tetap menikmati musiknya. Tidak ada alasan untuk tiba-tiba membenci lagu yang sebelumnya membuat saya merasa tenang. Hanya saja, kini ada satu hal yang ikut saya dengarkan selain melodi dan suara penyanyinya: makna di balik setiap kata yang dinyanyikan.

Mungkin itulah salah satu hal menarik dari perkembangan teknologi. Ia bukan hanya menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi juga membuat kita menengok kembali sesuatu yang sudah lama kita miliki.

Saya teringat lagi pada angin yang menjadi perantara kerinduan dalam lagu ini. Angin tidak pernah bertanya siapa yang menitipkan pesan, seberapa jauh jarak yang harus ditempuh, atau apakah orang yang dituju akan membalas kerinduan itu. Ia hanya berembus, membawa apa yang dititipkan kepadanya.

Barangkali, dalam batas tertentu, teknologi juga demikian. Ia bisa menjadi perantara yang luar biasa untuk membawa karya kita melintasi batas bahasa dan negara. Tetapi, pesan yang dibawanya tetap membutuhkan manusia yang mau memastikan bahwa maknanya tidak hilang di tengah perjalanan.

Pada akhirnya, musik memang bisa menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai rasa dan bangsa. Namun, jembatan yang indah tetap membutuhkan pijakan yang kokoh. 

Kita boleh merayakan kreativitas, mencoba teknologi baru, dan menikmati karya dalam berbagai bentuk, tanpa harus melupakan akar yang membuatnya memiliki arti.

Sebab, mencintai warisan budaya bukan berarti kita harus membekukannya agar tidak berubah. Kita tetap bisa membiarkannya tumbuh, berkembang, dan dikenal lebih luas. Hanya saja, jangan sampai dalam perjalanan itu kita begitu sibuk memperindah kemasannya hingga lupa menjaga pesan yang dibawanya.

Sore semakin beranjak menuju magrib. Saya menyeruput sisa kopi yang sudah tidak terlalu hangat. Lagu itu masih enak didengar, dan saya masih menyukainya. Bedanya, sekarang saya tidak hanya menikmati melodinya, tetapi juga memikirkan hal-hal kecil yang membuatnya berarti.

Mungkin memang begitu cara kita belajar mencintai sesuatu. Bukan dengan menuntutnya selalu sempurna, bukan pula dengan membenarkan semua kekurangannya, melainkan dengan tetap membuka hati untuk menikmati keindahannya sembari berani memberi perhatian pada hal-hal yang perlu diperbaiki.

Dan jika suatu hari nanti AI mampu menyanyikan seluruh lirik Anging Mammiri dengan pelafalan yang nyaris sempurna, saya tentu akan ikut senang. Namun, saya berharap di balik kecanggihan itu tetap ada manusia yang peduli pada cerita, bahasa, dan kerinduan yang diwariskan melalui lagu tersebut.

Sebab, suara bisa dibuat semakin indah oleh teknologi, tetapi makna akan tetap membutuhkan orang yang bersedia menjaganya.

Bagaimana menurut Anda? Apa cara terbaik untuk mendukung eksplorasi musik daerah, baik oleh musisi manusia maupun melalui AI generatif, tanpa kehilangan keaslian dan makna liriknya?



Posting Komentar

No Spam, Please.