
Pagi itu, Pasar Babelan belum sepenuhnya ramai. Sinar matahari tipis baru menyembul di antara sela-sela atap seng toko kelontong. Beberapa pedagang baru saja selesai menata barang dagangannya, Mpok Nining sibuk membalik bakwan panas di wajan besar, sementara aroma khas kopi hitam dari warung kopi Mpok Nining sudah lebih dulu memenuhi udara pagi yang sejuk.
Ki Somad duduk santai di bangku kayu paling pojok. Di depannya telah tersaji segelas kopi hitam legit yang masih mengepulkan uap, berteman sebungkus kacang rebus hangat. Matanya yang tenang menyapu riuhnya geliat pasar, menikmati suasana pagi yang selalu konsisten membawa harapan baru bagi warga sekitar.
Tak lama kemudian datang Udin, seorang pedagang sayur langganan pasar yang wajahnya biasanya selalu terlihat cerah dan ceria, meskipun ia kadang harus bangun sejak pukul empat dini hari untuk pergi ke pasar induk.
"Assalamualaikum, Ki," sapa Udin sambil menggeser kursi kayu di depan Ki Somad.
"Waalaikumsalam. Tumben mukanya kusut begitu, Din? Cabe kriting udah pada rebonding?" canda Ki Somad sambil tersenyum tipis.
Udin hanya tertawa kecil, melipat tangannya di atas meja.
"Bukan, Ki. Ini lho... gara-gara saya tadi sempet lihat loker alias lowongan kerja di internet pas nungguin dagangan," jawab Udin dengan nada bingung campur penasaran.
Belum selesai Udin berbicara, Bang Acung mendadak muncul dari samping warung sambil melepas helm full-face kesayangannya.
"Ada apaan nih pagi-pagi? Baru nyampe udah pada ngomongin kerjaan aja. Jangan-jangan Udin mau berhenti jualan sayur terus jadi CEO?" celoteh Bang Acung.
"CEO lapak sayur boncos," sahut Sule yang baru saja menyusul. Sule tampak mencolok karena memakai seragam lengkap Pramuka; maklum, nanti sore dia bertugas mendampingi latihan pramuka di sekolahan.
Suasana warung Mpok Nining langsung dipenuhi tawa renyah. Tidak lama berselang, Yandin—relawan Baznas sekaligus aktivis relawan kesehatan lokal yang dikenal tekun mendampingi warga—ikut duduk menyambung obrolan sambil memesan teh manis hangat.
"Lagi pada bahas apa nih seru banget?" tanya Yandin penasaran.
Udin langsung mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menyodorkan layar ponsel itu ke tengah meja.
"Nih, coba kalian lihat. Gue baru nemu lowongan kerja unik banget. Katanya semua lulusan sekolah boleh daftar, tanpa pengalaman kerja juga bisa. Yang bikin kaget, batas usianya longgar banget, sampai umur 70 tahun juga masih boleh melamar!" kata Udin seraya menunjuk teks iklan berwarna mencolok tersebut.
Bang Acung langsung bersiul nyaring mendengar penjelasan Udin.
"Wah... kalau sampai umur 70 tahun diterima, itu sih emak gue juga bisa daftar besok pagi!"
"Emak lu emang masih kuat naik motor keliling?" tanya Sule memotong.
"Jangankan naik motor, kalau disuruh ngejar utang tetangga mah emak gue masih paling kuat!" jawab Bang Acung spontan.
Tawa kembali pecah di sudut warung Mpok Nining. Namun, Ki Somad tidak ikut tertawa terlalu lama. Pria sepuh yang dikenal kenyang pengalaman hidup itu memandangi layar ponsel Udin cukup lama dengan tatapan tajam dan penuh kehati-hatian.
"Kalau tawaran terasa terlalu gampang dan terlalu indah," tutur Ki Somad pelan, "justru di situlah kita harus mulai banyak bertanya."
Suasana warung kopi yang tadinya riuh mendadak menjadi agak tenang.
Lowongan Kerja yang Bikin Semua Orang Berharap
Sule menyeruput kopi hitamnya perlahan sebelum angkat bicara.
"Sebentar, Ki. Masa sih lowongan kayak gitu salah? Bukannya zaman sekarang kita justru sering protes agar perusahaan jangan diskriminasi umur? Justru bagus kan kalau orang tua atau pensiunan masih dikasih kesempatan kerja dan tetap produktif?" argumen Sule.
Yandin mengangguk menyetujui ucapan Sule. "Betul juga kata Sule, Ki. Di lapangan saya sering ketemu bapak-bapak pensiunan yang bingung mau kegiatan apa."
Bang Acung ikut menimpali semangat. "Gue juga kasihan sama pensiunan. Banyak yang badannya masih sehat bugar, tapi susah banget cari kerjaan tambahan gara-gara kepatok umur."
Ki Somad mengangguk pelan, menghargai pandangan anak-anak muda di depannya.
"Mempunyai harapan itu baik," ucap Ki Somad tenang.
"Lah iya, terus salahnya di mana, Ki?" sela Bang Acung.
"Tapi," lanjut Ki Somad, "harapan yang polos juga sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang niatnya memang gak baik."
Semua yang duduk di meja saling pandang. Ki Somad memajukan posisinya.
"Kalau zaman dulu, orang ditawarin emas palsu di pinggir jalan. Kalau zaman sekarang, orang ditawarin mimpi di layar ponsel."
Kalimat itu membuat kening Udin mengernyit. "Maksudnya mimpi gimana, Ki?"
Ki Somad mengambil sepotong singkong goreng hangat dari piring.
"Coba kalian pikir pakai logika sederhana. Kalau ada iklan lowongan kerja yang syaratnya terlalu sempurna: semua umur diterima, pengalaman tidak penting, gaji dianjurkan lumayan besar, tapi nama perusahaannya samar, dan deskripsi posisi kerjanya tidak jelas... menurut kalian itu apa?"
Bang Acung menjawab cepat tanpa ragu. "Rezeki!"
Sule yang gemas langsung menyikut lengan Bang Acung. "Rezeki pala lu mledug!"
Warung kembali pecah oleh gelak tawa. Ki Somad pun ikut tersenyum menggelengkan kepala.
"Bisa jadi rezeki," kata Ki Somad. "Tapi dalam banyak kasus belakangan ini, itu bukan rezeki... melainkan umpan."
Ketika Harapan Bertemu Kenyataan Pahit
Yandin yang sehari-hari sering turun ke masyarakat dan menemui berbagai lapisan warga mendadak mereda tawanya. Ia menghela napas panjang lalu mulai bercerita dengan raut muka serius.
"Apa yang dibilang Ki Somad itu ada benarnya. Belum lama ini saya sempat mendampingi seorang bapak pensiunan warga RT sebelah."
"Kenapa bapak itu, Din?" tanya Udin penasaran.
"Dia tergiur iklan lowongan kerja mirip begitu. Katanya dibuka loker untuk staf administrasi atau staf operasional tanpa syarat muluk-muluk. Dia diajak ikut pembekalan dan seminar kerja."
"Bagus dong, ada pelatihannya dulu?" potong Bang Acung.
"Nah, pas datang dan mulai kerja, ternyata pekerjaannya bukan mengurus dokumen administrasi," beber Yandin. "Dia justru lebih banyak disuruh mengontak keluarga, teman lama, dan tetangga-tetangganya."
Bang Acung mengernyit heran. "Maksudnya disuruh jadi marketing?"
"Bukan sekadar marketing biasa. Dia diminta membujuk orang-orang terdekatnya untuk menyetorkan sejumlah uang untuk ikut ke dalam investasi finansial berisiko tinggi atau trading instan."
Warung kopi Mpok Nining mendadak hening. Tak ada suara gurauan lagi. Udin pelan-pelan meletakkan gelas kopinya kembali ke meja.
"Kasihan banget ya..." bisik Udin prihatin.
"Yang lebih bikin kasihan," kata Yandin dengan suara lirih, "ketika investasi itu rugi atau bermasalah, yang dia hubungi dan rugi justru saudara serta kerabatnya sendiri. Bapak itu sekarang malah dijauhi keluarganya."
Ki Somad mengangguk pelan penuh rasa simpati.
"Itulah kerugian yang paling mahal," celetuk Ki Somad.
"Apa itu, Ki?" tanya Sule.
"Kepercayaan."
Namun Bang Acung masih tampak belum sepenuhnya sepakat. Ia menggelengkan kepala.
"Tapi tunggu dulu, Ki. Kalau investasinya untung dan berjalan lancar gimana? Kan gak ada yang dirugikan?"
"Ya kalau untung berarti untung," sahut Sule membalas cepat. "Lagian bisnis investasi atau transaksi keuangan kan pada dasarnya halal-halal aja kalau sesuai aturan."
Perdebatan kecil mulai hangat di antara mereka. Bang Acung terlihat sangat yakin dengan pendapatnya.
"Menurut gue, salahnya bukan di perusahaannya. Namanya juga orang usaha cari makan, wajar kalau ada target pencarian klien!" seru Bang Acung.
Sule langsung menggeleng keras membantah. "Kalau cara nyarinya menjebak dan bikin orang awam rugi uang tabungan?"
"Lah, namanya bisnis kan belum tentu rugi!" tahan Bang Acung.
"Tapi kalau pegawainya dipaksa ngajak keluarga sendiri dengan iming-iming palsu?" tegas Sule.
"Itu namanya target kerja finansial!" balas Bang Acung tidak mau kalah.
"Target kerja ya target kerja, tapi jangan sampai bikin hubungan kekeluargaan hancur berkeping-keping!" nada suara Sule mulai meninggi.
Udin yang duduk di antara mereka hanya melongo memegangi kepalanya. "Waduh... ini baru seruput kopi tiga teguk masa sudah mau adu fisik di warung Mpok Nining?"
Ki Somad justru tertawa kecil menyaksikan perdebatan hangat itu. "Lanjut... teruskan," goda Ki Somad.
Bang Acung dan Sule mendadak berhenti bicara, merasa heran. "Kok malah disuruh lanjut sih, Ki?" tanya Bang Acung polos.
"Biar keluar semua isi kepala dan pemikiran kalian," sahut Ki Somad santai.

Kata Ki Somad, Jangan Musuhi Trading, Tapi Musuhi Keserakahan
Ki Somad mengambil sendok kecil, lalu mengaduk kopi hitamnya perlahan-lahan hingga menciptakan pusaran air kecil di cangkirnya.
"Dengar baik-baik," kata Ki Somad dengan nada suara yang penuh wibawa.
Seketika itu juga Bang Acung, Sule, Udin, dan Yandin langsung terdiam menyimak.
"Trading maupun dunia investasi keuangan itu bukan musuh. Itu instrumen ekonomi modern."
Bang Acung tersenyum lebar merasa mendapat angin segar. "Tuh kan! Dengerin tuh Le!"
"Tapi..." potong Ki Somad tegas.
Senyum di wajah Bang Acung seketika sirna.
"Keserakahan sering kali menyamar dengan memakai baju rapi bernama trading dan investasi."
Warung kembali dipenuhi keheningan. Ki Somad melanjutkan penjelasannya dengan terstruktur.
"Di seluruh dunia, ada banyak perusahaan pialang berjangka dan lembaga keuangan yang bekerja secara profesional. Mereka terdaftar resmi, diawasi oleh regulator pemerintah seperti Bappebti atau OJK, mengedepankan edukasi risiko yang transparan, dan menjelaskan secara jujur potensi kerugian kepada calon nasabah. Itu adalah bagian sah dari industri keuangan."
"Tapi bedanya di mana dengan modus penipuan, Ki?" tanya Yandin menyela.
"Bedanya ada pada etika dan kejujuran," jawab Ki Somad. "Kalau ada oknum atau lembaga yang lebih sibuk mengejar komisi cepat daripada mengedukasi masyarakat, lebih sibuk mengejar setoran deposit modal daripada memastikan orang paham risikonya, hingga merekrut pekerja awam hanya untuk mengeruk uang saudaranya sendiri... di situlah kita wajib pasang waspada tinggi."
Yandin mengangguk-angguk paham. "Nah, itu persis sama dengan kasus bapak pensiunan yang saya dampingi."
Ki Somad melanjutkan pandangannya. "Masalah utamanya bukan selalu pada produk keuangannya. Tapi sering kali pada mentalitas manusianya." Pria tua itu menunjuk ke arah dadanya sendiri. "Keserakahan manusia selalu menemukan cara baru untuk mengelabui korban."
Udin memajukan badannya lalu bertanya pelan. "Tapi Ki, kenapa sih sekarang sasaran loker jebakan seperti ini banyak ngincer orang tua atau pensiunan?"
Ki Somad tersenyum tipis, sebuah senyuman prihatin.
"Karena di mata oknum nakal, orang tua dan pensiunan dianggap punya uang tabungan masa tua, uang pesangon, dana pensiun, serta jaringan relasi sosial pertemanan yang sangat luas dan mudah percaya."
Bang Acung menghela napas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau dipikir-pikir pakai akal sehat... masuk akal banget ya."
"Tapi justru itu yang paling bikin sedih," tambah Ki Somad. "Orang-orang tua yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang dan damai, malah dibebani iming-iming mimpi menjadi kaya dalam waktu singkat."
Ki Somad menyeruput sedikit kopinya lalu melanjutkan.
"Sejak zaman penjajahan Belanda sampai era digital sekarang, pola dasar penipuan finansial itu hampir tidak pernah berubah. Yang berubah hanya bungkus luar dan kemasannya saja."
"Lho, kok bisa gitu, Ki?" tanya Sule penasaran.
"Dulu penipuan pakai surat. Sekarang pakai iklan di media sosial. Dulu pelakunya pakai jas dan dasi rapi. Sekarang pakai konten video motivasi gaya hidup mewah. Dulu janjinya cepat kaya tanpa kerja keras. Sekarang janjinya tetap sama."
Warung kembali dipenuhi tawa kecil dari mereka. Ki Somad pun ikut tersenyum.
"Manusia memang sering kali cepat lupa pada pelajaran sejarah."
Sule menarik napas panjang, mencoba mencerna semua nasehat Ki Somad. "Jadi Ki, kalau kita atau saudara kita lihat lowongan kerja di internet, hal apa saja yang wajib banget kita cek terlebih dahulu?"
5 Ciri Utama Lowongan Kerja Aman & Legal vs Modus Penipuan:
- Transparansi Perusahaan: Nama dan legalitas perusahaan harus jelas, terdaftar resmi di lembaga pemerintah (seperti Kemenaker, OJK, atau Bappebti).
- Kejelasan Deskripsi Kerja: Posisi dan tugas pekerjaan yang ditawarkan spesifik, terstruktur, dan rasional.
- Logika Proses Seleksi: Proses seleksi perekrutan masuk akal, tidak memungut biaya pendaftaran atau mewajibkan pembelian barang/investasi modal awal.
- Tidak Mengeksploitasi Relasi Pribadi: Perusahaan tidak memaksa atau menargetkan karyawan baru untuk merekrut anggota keluarga/teman sebagai syarat kerja.
- Sikap Kritis (Too Good to Be True): Jika ada penawaran kerja yang terlalu indah untuk dipercaya (gaji fantastis tanpa syarat keahlian), selalu tahan diri dan lakukan verifikasi mendalam.
"Kalau ada tawaran yang terasa terlalu indah untuk dipercaya..." kata Ki Somad menggantungkan kalimatnya.
Bang Acung dengan sigap menyambung, "...berarti kita harus gimana, Ki?"
Ki Somad tersenyum hangat. "Berhenti sebentar. Gunakan akal sehat untuk memeriksa, bukan langsung percaya hanya karena tergiur hasil cepat."
Matahari pagi mulai beranjak semakin tinggi. Pasar Babelan pun semakin padat dan ramai. Suara klakson motor, tawar-menawar pedagang, dan lalu-lalang warga pembawa kantong belanjaan memenuhi area pasar.
Dari meja warung, terlihat seorang ibu tua berjalan tersenyum sambil memegang erat tangan cucunya yang mungil. Ki Somad memandang sosok ibu tua itu cukup lama.
"Lihat itu," tunjuk Ki Somad. Semua ikut menoleh ke arah yang ditunjuk.
"Orang-orang seusia beliau sangat layak untuk tetap bekerja dan beraktivitas jika memang mereka menginginkannya. Tapi... jangan sampai hanya karena dorongan ingin tetap berguna dan produktif, mereka justru kehilangan seluruh tabungan dan hasil kerja keras puluhan tahun akibat terjebak loker bodong."
Ki Somad menatap sahabat-sahabat cangkir kopinya satu per satu dengan kedalaman makna.
"Rezeki memang harus terus dicari dengan ikhtiar. Tapi ingat, akal sehat jangan pernah ikut dijual."
Suasana meja warung kembali sunyi. Tak ada lagi yang bercanda atau menyela. Bang Acung, Sule, Udin, dan Yandin larut dalam perenungan pikiran mereka masing-masing.
Ki Somad menghabiskan tegukan kopi hitam terakhirnya yang telah mendingin. Pria tua itu kemudian berdiri sambil tersenyum tenang.
"Kadang kala, hal yang paling berbahaya di dunia ini bukanlah lowongan kerja palsu itu sendiri. Melainkan harapan yang terlalu tinggi yang membuat kita berhenti berpikir dan berhenti bertanya."
Di sudut warung, Mpok Nining mematikan kompor gasnya setelah selesai menggoreng adonan terakhir. Riuk pikuk Pasar Babelan kembali mengambil alih perhatian.
Obrolan sederhana di warung kopi pagi itu menyisakan satu pelajaran mendalam bagi mereka semua: Di zaman ketika arus informasi mengalir lebih cepat daripada kebijaksanaan, kemampuan terbesar seseorang bukanlah seberapa cepat ia mampu menangkap setiap kesempatan yang lewat, melainkan seberapa tenang ia mampu memeriksa kebenaran di balik setiap kesempatan tersebut.
Sebab, tidak semua pintu yang terbuka lebar akan membawa kita menuju rezeki yang berkah. Ada pintu yang hadir hanya untuk menguji kesabaran, dan ada pula yang hadir untuk menguji akal sehat kita. Pada akhirnya, masa depan seseorang lebih sering ditentukan bukan oleh kesempatan apa saja yang ia ambil, melainkan oleh godaan berbahaya apa yang berani ia tolak secara tegas.