
Aroma tanah basah dan kabut tipis khas dataran tinggi Gowa menyambut saya begitu roda motor berhenti berputar. Perjalanan dua jam lebih mendaki dari Makassar menuju Malino menuntut fokus penuh melawan hawa dingin yang menyusup ke balik jaket. Begitu standar motor ditegakkan, tubuh ini rasanya lunglai. Gak pas rasanya kalau ke Malino tapi gak mampir ke Kedai Kopi Luwak Malino di Jalan Sultan Hasanuddin No. 88.
Saat rombongan motor kami bersiap melanjutkan perjalanan, secangkir Arabika Luwak Seduh panas mendarat di atas meja teras depan. Uapnya mengepul, melepas aroma pekat yang langsung menyegarkan penciuman.
"Kalian duluan saja, saya habiskan ini dulu," seru saya pada rombongan, sementara Kahfi, teman seperjalanan saya, memilih ikut santai di samping saya. Kopi nikmat dengan harga yang lumayan ini jelas sayang sekali jika dibuang-buang atau sekadar diteguk terburu-buru.
Maka di sinilah kami berdua, sengaja ditinggal rombongan demi menikmati setiap sesapan. Angin sejuk Malino perlahan mulai menembus baju. Sore di Malino memang mulai dingin menggigit, meskipun langit sedang tidak hujan. Kehadiran sang pemilik kedai kopi yang melangkah santai keluar menghampiri meja kami membuat suasana kian hangat.
"Boleh bergabung? Menikmati kopi di teras sedingin ini rasanya ada yang kurang tanpa teman ngobrol," sapanya.
Ia adalah Kang Agus Junanjar Irawan. Aslinya dari Jawa Barat, namun lidahnya sudah fasih menuturkan logat Sulawesi yang kental. Kang Juna mengambil kursi di hadapan kami. Di sela obrolan, saya menyalakan rokok sementara Kahfi hanya mendengar dengan santai, sesekali menghisap vape-nya hingga mengembuskan asap putih tebal, lalu menimpali obrolan secara santai. Kang Juna sendiri tidak merokok, namun gesturnya yang santun membuat atmosfer teras depan terasa begitu intim.
Sambil memandangi jalanan Malino yang kian temaram, Kang Juna berkisah ia pernah merantau ke Jambi hingga Palu. Saat saya menyebutkan bahwa saya lahir di Babelan karena ibu saya orang Bekasi asli, mata Kang Juna langsung berbinar.
"Wah, Babelan! Saya tahu betul Pasar Babelan," ujarnya tertawa. "Sebelum ke Sulawesi, saya sempat mencoba usaha di sekitar Bantar Gebang hingga Medan Satria di Bekasi."
Di teras depan ini, kenangan tentang macet dan debu Bekasi serta sejuknya udara Malino mendadak melebur. Garis nasib akhirnya membawa Kang Juna ke Sulawesi. Di sini, ia menemukan tambatan hati, Musdalifa Amrullah, yang kini menjadi mitra tangguhnya mengelola Kopi Luwak Malino sejak tahun 2017.
Realitas Ekonomi Kopi Indonesia
Sambil menghirup kopi luwak bertekstur lembut (smooth) dengan sentuhan karamel dan tingkat keasaman (acid) rendah ini, saya memancingnya berbicara tentang industri kopi.
"Kopi di Indonesia itu mahal, Bang, karena proses pertanian kita hampir semuanya masih manual. Berbeda dengan Brasil yang menggunakan mekanisasi mesin pada lahan datar luas, sehingga bisa menekan Harga Pokok Produksi (HPP) secara drastis. Sisi positifnya, proses manual kita menyerap banyak tenaga kerja lokal," ungkap Kang Juna.
Secara global di tahun 2026, argumen itu sangat solid. Brasil menguasai pasar lewat economies of scale dan metode strip-picking. Namun, Indonesia bermain di ceruk berbeda: Specialty Coffee. Kopi kita ditanam di lereng curam dan dipetik satu per satu hanya buah yang merah ranum (hand-picking), melahirkan keunikan cita rasa premium dari berbagai origin, termasuk Arabika Desa Topidi yang saat ini sedang kami minum.
Apalagi belakangan ini, biaya hidup dan upah buruh petik terus naik. Tapi, posisi tawar petani kini lebih kuat; mereka akan lebih memilih menahan stok di gudang jika harga yang ditawar terlalu rendah oleh tengkulak.
"Karena itu, kami sangat berharap ada campur tangan dan stimulus dari pemerintah, terutama agar kopi Indonesia bisa lebih bersaing di pasar ekspor tanpa mencekik margin petani. Untungnya, konsumsi kopi domestik di dalam negeri kita terus meningkat pesat, jadi fondasi bisnis kopi ini akan terus berkembang," tambahnya penuh harap.
Kopi Binturong dan Konservasi
Membicarakan kopi luwak sering kali bersinggungan dengan kesejahteraan hewan. Kang Juna kemudian mengajak saya dan Kahfi melihat penangkaran di area kedai. Beberapa ekor luwak dan binturong tampak bergerak lincah dan terawat di sana. Kopi Luwak Malino sendiri telah mengantongi sertifikat resmi Kementerian Kehutanan sebagai pusat agrowisata edukatif.
"Bagi kami, bisnis kopi dan konservasi harus berjalan beriringan. Kuncinya ada pada animal welfare dan kelestarian lingkungan," jelas Kang Juna.
Di kedai ini, mereka juga memperkenalkan Kopi Binturong. Uniknya, Kang Juna menjelaskan bahwa satwa binturong yang ada di penangkaran mereka murni dirawat untuk tujuan edukasi dan penyelamatan satwa, bukan untuk dieksploitasi. Sebab, Kopi Binturong yang mereka sajikan hadir sebagai inovasi modern yang ramah satwa (cruelty-free). Proses fermentasi alami yang biasanya terjadi di dalam tubuh musang terbesar ini telah direplikasi secara higienis berbasis riset bioteknologi di laboratorium.
Hasilnya adalah kopi dengan karakteristik rasa yang sangat eksotis; memiliki aroma menyerupai pandan atau popcorn mentega hangat yang wangi, bersih (clean cup), bahkan mampu menembus standar specialty coffee internasional tanpa mengganggu satwa di alam liar.
Kang Juna menekankan pentingnya memberikan "nilai moneter pada lingkungan." Dengan memberikan nilai ekonomi pada ekosistem yang terjaga, masyarakat lokal memiliki insentif kuat untuk ikut melindungi satwa luwak dan binturong di habitat aslinya, bukan memburunya.
Sore kian larut, dan cangkir kopi saya telah kosong. Sebelum berpamitan, Kang Juna menjabat tangan saya dengan erat. "Kami sangat menghargai kunjungan siapa saja ke sini. Bagi kami, sebuah kehormatan bisa menyajikan setiap tegukan kopi yang dipenuhi kehangatan di ketinggian kota Malino ini. Di setiap cangkirnya, ada cinta dan cerita yang ingin kami bagikan."
Di setiap cangkirnya, ada cinta dan cerita yang ingin kami bagikan

Cuan dan Kelestarian
Perjalanan mendaki lereng Malino sore itu dipenuhi refleksi mendalam. Lewat Kopi Luwak Malino, Kang Juna membuktikan bahwa cuan dan kelestarian bukanlah dua kutub yang mustahil disatukan.
Wirausaha sejati adalah tentang value creation, memberikan nilai tambah pada alam sembari menghormati makhluk hidup di dalamnya. Ketika kita memberi penghormatan pada lingkungan, alam justru mengembalikannya dalam bentuk kualitas produk yang tiada duanya, meninggalkan rasa damai di hati setelah meminumnya.
Info Oleh-Oleh Kopi Luwak Malino
- Kopi Luwak Arabika: Hasil fermentasi alami 16 jam, berkarakter halus dan rendah kafein.
- Kopi Binturong: Varian langka dengan profil aroma pandan-mentega yang eksotis.
- Kopi Malino Topidi (Original): Kopi Arabika reguler non-luwak dengan karakteristik rasa alami kaya rempah (spicy).
- Dll