Momen Memalukan yang Berujung Berkah

Kisah inspiratif tentang kaos kaki yang bolong, mengajarkan Reina arti syukur dan kerendahan hati di balik sosok Ustadzah yang bersahaja
Momen Memalukan yang Berujung Berkah

Pagi yang Riuh di Rumah Reina

Gemerincing suara piring di meja makan beradu dengan suara decak kesal Reina yang tak kunjung berhenti. Pagi ini, rumahnya yang kecil kembali menjadi medan perang. 

Tiga anak Reina, mulai dari si sulung yang beranjak remaja hingga si bungsu yang baru duduk di bangku sekolah dasar, seolah berlomba menyumbang kebisingan.

"Ma, jilbab hijau Kakak ke mana? Tidak ada di gantungan!" teriak si sulung dengan nada frustrasi.
"Ma, tas Abang kena tumpahan air, jadi basah semua buku PR!" susul si tengah tak kalah nyaring.
"Ma, Adek tidak mau nasi goreng! Maunya bubur!" rengek si bungsu sambil melempar sendok ke piring.

Reina menghela napas panjang, mencoba menekan pening yang mulai merambat di pelipisnya. Sembari membagi perhatian antara kotak bekal yang harus segera ditutup dan seragam yang belum setrika, pikirannya sudah melayang ke agenda berikutnya: Majelis Taklim di musholla cluster. Baginya, itu adalah oase di tengah gurun keributan rumah tangga, sebuah ruang untuk bernapas dan kembali menata hati.

Insiden Kaos Kaki Biru

Ia sangat menyukai Ustadzah Eli, pengisi taklim baru di lingkungan mereka. Ustadzah itu manis, sederhana, dengan senyum yang selalu menenangkan setiap jiwa yang sedang gundah. 

Namun, pagi ini, ketenangan Reina terusik oleh satu hal sepele yang mendadak jadi masalah besar: kaos kaki.

Dua bulan terakhir, Reina berusaha istiqomah mengenakan kaos kaki setiap kali keluar rumah. Barry, suaminya, sempat protes soal kebersihan, namun Reina menyiasatinya dengan menyiapkan stok kaos kaki bersih yang melimpah. 

Masalahnya, pagi ini, kaos kaki biru muda kesayangannya raib entah ke mana.

Reina membongkar laci, mengaduk tumpukan jemuran, hingga keringat dingin mulai membasahi dahi. "Di mana kaos kaki itu? I'm in a hurry!" gerutunya sambil mengetik status WhatsApp dengan jempol yang gemetar karena emosi. 

Ia merasa dunianya sedang tidak berpihak padanya. Karena waktu sudah sangat mepet, ia terpaksa mengenakan kaos kaki cokelat muda yang warnanya tampak janggal dan tidak matching dengan gamis biru mudanya. Ia berangkat dengan perasaan dongkol yang tertinggal di dadanya, seolah-olah warna kaos kaki yang tidak senada adalah pertanda bahwa hari ini akan berjalan buruk.

Oase di Majelis Taklim

Sepuluh menit kemudian, Reina sudah tiba di musholla. Ia segera mengambil tempat di sisi kanan, tepat di titik di mana Ustadzah Eli biasa duduk. Musholla sudah mulai ramai. Ibu-ibu dengan pakaian serba necis dan tas bermerek berbisik-bisik, sibuk dengan dunianya sendiri.

Tak lama, Ustadzah Eli tiba dengan motor bebek tua yang terdengar menderu lelah sebelum akhirnya mesinnya mati. Ustadzah Eli masuk dengan langkah tenang, mengenakan gamis sederhana dan jilbab yang jauh dari kesan mewah. Awalnya, Reina sempat memandang sebelah mata sosok Ustadzah yang selalu tampil "apa adanya" ini. 

Ia pikir, seorang pengajar haruslah tampil sempurna. Namun, seiring berjalannya waktu, kedalaman ilmu dan kerendahan hati Ustadzah Eli telah meruntuhkan semua prasangka itu.

Melihat Sesuatu di Balik Tumit

Ustadzah Eli duduk, meletakkan Al-Quran terjemahnya dengan santun. Beliau mulai membuka kajian dengan salam yang begitu hangat. Saat beliau mengubah posisi duduknya, mata Reina tanpa sengaja tertuju ke bawah.

Di sana, di balik kaos kaki cokelat yang serat kainnya sudah menipis dan timbul benang-benang halus, ia melihatnya dengan jelas: sebuah lubang kecil di bagian tumit kaos kaki sang Ustadzah.

Reina terpaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Teringat kembali olehnya bagaimana ia merasa dunia akan kiamat hanya karena warna kaos kakinya tidak serasi. Teringat bagaimana ia meluapkan kekesalan di media sosial hanya karena benda sepele yang hilang entah kemana saat dibutuhkan. 

Sementara di depannya, seorang wanita yang ilmunya jauh lebih luas, yang kesabarannya jauh lebih dalam, justru tampak begitu tenang tanpa sedikit pun rasa minder, meski ia tahu ada lubang kecil di balik langkahnya yang penuh kemuliaan.

Momen Memalukan yang Berujung Berkah

Pelajaran Tanpa Kata

Reina merasa wajahnya memanas. Malu. Ia baru saja "berperang" di pagi hari hanya demi citra penampilan, sementara sang Ustadzah dengan santainya menutupi kakinya yang bolong tanpa sedikit pun merasa perlu memamerkan atau memoles diri. 
Ustadzah Eli adalah cerminan dari hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Beliau tidak lagi mengejar validasi duniawi, termasuk soal kaos kaki yang sempurna.
Betapa konyolnya diriku, batin Reina. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengurus hal-hal luar, namun lupa menata hatinya agar tetap rendah hati.

Dalam diam, Reina membulatkan niat. Minggu depan, ia akan membawakan satu lusin kaos kaki baru untuk Ustadzah Eli. Ia tidak akan memberikannya secara terang-terangan, dan tidak akan memberi tahu siapa pun. Ia tidak ingin membuat sang Ustadzah merasa tersinggung atau merasa dirinya "dikasihani". 

Ia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi sosok yang baru saja memberinya pelajaran paling berharga tanpa sepatah kata pun.

Pelajaran itu bukanlah tentang kaos kaki yang bolong, melainkan: 
Tentang bagaimana bersyukur dengan apa yang ada, dan melihat melampaui apa yang tampak di mata
Reina menarik napas dalam-dalam, membiarkan ego yang tadi pagi meledak-ledak kini luruh perlahan, menyisakan ketenangan yang sesungguhnya di dalam hati.

_____________________________

Versi edit dari kisah: Kaos Kaki Sang Ustadzah 
Penulis Mak Sri Suharni
Selasa, 20 September 2016 


Posting Komentar

No Spam, Please.