
Sore itu Pasar Babelan masih ramai ketika Bisot terlihat sedang ngopi santuy di warung kopi Mpok Nining. Biasanya ia asik mengetik di laptop tentang apa saja. Kali ini ia terlihat bengong bersama laptop, lebih banyak dipandangi daripada digunakan.
Hampir setengah jam layar kosong itu menunggu. Kursor berkedip seperti sedang mengejek.
“Saya kayaknya mau berhenti aja ngeblog, Ki.”
Ki Somad yang sedang mengaduk kopi tidak langsung menjawab. Ia melihat laptop Bisot, lalu melihat wajah pemiliknya.
“Berhenti? Emangnya elu udah kaya karena ngeblog?”
“Belum.”
“Terkenal kalih?”
“Belum juga Ki.”
“Berarti bukan berhenti. Elu cuman lagi males doang.”
Mpok Nining yang baru meletakkan pisang goreng langsung tertawa. “Yah Ki, kayak baru kenal si Bisot aja, dia mah emang males orangnya, seharian ngopi depan laptop atau maen HP doang kerjanya.”
Bisot menghela napas. “Serius, Ki. Sekarang saya males nulis di blog. Buat apaan capek-capek bikin artikel? AI tinggal nyomot informasi dari semua tulisan di internet, dirangkum, terus disajikan menjadi jawaban. Orang tinggal bertanya ke AI. Tulisan asli kita malah gak ada yang baca.”
Ki Somad menyeruput kopi. “Elu kecewa karena AI bisa nyomot tulisan elu?”
“Bukan cuman itu aja. Rasanya kayak kita capek memasak, orang lain yang menyajikan, orang gak tau siapa yang sebenernya memasak.”
Ki Somad tersenyum. “Nah, sekarang kita mulai masuk nih ke masalah sebenernya.”
Jangan Melawan AI di Arena yang Sama
“Coba ellu bayangin ada tukang gorengan di pasar,” kata Ki Somad. “Setiap hari dia bikin seratus pisang goreng. Gak lama muncul mesin yang bisa bikin seribu pisang goreng dalam waktu yang lebih cepet. Apa tukang gorengannya pasti bangkrut?”
“Kalau harganya sama, bisa jadi.”
“Belum tentu. Orang membeli gorengan bukan cuma karena bentuknya pisang dan digoreng Sot.”
Mpok Nining langsung menyela, “Iya juga sih. Ada yang beli karena penjualnya ramah kayak saya. Ada yang karena sambelnya enak. Ada juga yang karena di warung itu orang boleh ngutang.”
Bisot tertawa. “Kalau yang terakhir itu keunggulan Mpok Nining, ora ada lawan dah?”
“Husss... Jangan dibocorin yak, awas dah,” jawabnya.
Ki Somad melanjutkan, “Begitu juga tulisan. Kalau elu menulis artikel yang cuma berisi informasi umum, AI emang gampang aja nyaingin elu. Definisi, daftar list, rangkuman, tips yang semua orang udah tahu, bisa dibuat mesin AI dengan cepat.”
Bisot mengangguk.
“Jadi jangan melawan AI di situ. Tulis sesuatu yang bikin orang pengen membaca tulisan elu, bukan sekedar mencari informasinya.”
“Contohnya Ki?”
“Elu pergi ke sebuah tempat. Jangan cuman menulis tempat itu bagus. Ceritain apa yang elu lihat, siapa yang elu temuin, apa yang bikin elu kagum, atau kenapa elu punya pendapat yang berbeda soal tempat atau sesuatu. Informasinya mungkin bisa dirangkum AI. Tetapi pengalaman elu enggak bakalan ditiru AI.”
Bisot mulai memperhatikan.
“Jadi yang ditulis bukan cuma informasinya aja, suasana dan lain-lain diceritain?”
“Betul. Elu menulis cara melihat, pengalaman, rasa dan lain-lain.”
Blogger Gak Harus Hebat
Bisot kemudian tertawa kecil. “Masalahnya, Ki, saya ini cuman blogger biasa, medioker. Tulisan saya juga biasa aja. Kadang malah berantakan gak rapih dan sering ngasal. Kalo harus bersaing sama AI, makin parah kalahnya.”
Ki Somad mengangguk santai.
“Ya emang begitu.”
Bisot langsung menatapnya. “Kok diiyain terus?”
“Karena elu emang bukan penulis yang bagus. Tapi siapa yang ngewajibin elu harus jadi penulis paling hebat untuk boleh menulis?”
Bisot terdiam.
“Orang buka ke internet bukan cuman untuk membaca tulisan orang pintar. Kadang mereka ingin membaca orang yang punya pengalaman mirip dengan mereka. Orang yang bahasanya sederhana. Orang yang bisa membuat mereka merasa, ‘Wah, ternyata bukan cuma saya yang berpikir begini.’”
Mpok Nining mengangguk sambil mengambil gelas.
“Kadang-kadang orang betah di warung kopi juga bukan karena kopinya paling enak. Yang dicari teman ngobrol.”
Bisot menunjuk Mpok Nining. “Nah, itu mpok, danta itu mah.”
“Kagak usah dipuji. Entar harga kopinya jadi naik!.” ketus Mpok Nining.
Mereka tertawa.
AI Boleh Membantu, Tapi Jangan Serahkan Semua ke AI
Bisot akhirnya mengaku, “Tapi saya sering juga pakai AI, Ki. Buat dandanin tulisan biar gak banyak typo”
“Gak masalah, justru itu malah bagus.”
“Bukannya itu yang bikin tulisan jadi gak asli Ki?”
“Yang bikin tulisan gak asli bukan alatnya. Tapi kalo elu menyerahkan seluruh pikiranlu kepada alat itu, nah di situ baru jadi masalah.”
Ki Somad menunjuk laptop.
“Pakai AI untuk membantu mencari ide, membuat kerangka, menemukan bagian yang berulang, atau merapikan tulisan. Tetapi pengalamanlu, pendapatlu, cerita yang elu denger, dan keputusan terakhirnya tetep kudu elu.”
Bisot mengangguk.
“Jangan sampe elu cuman bilang, ‘AI, tolong buatkan artikel tentang ini,’ terus elu tinggal nerima hasilnya.”
Mpok Nining menyela, “Ditinggal ngopi sampe beres, sampe selesai.”
“Wah, kalau itu saya mah udah jago Ki,” kata Bisot.
“Jago apaan, males itu mah,” jawab Ki Somad.
Tawa kembali pecah di meja mereka.
Jangan Jadi Penulis Ulang
Setelah suasana agak tenang, Ki Somad berkata, “Ada satu hal lagi. Jangan terus-terusan menjadi penulis ulang.”
“Maksudnya Ki?”
“Kalo semua blogger membaca berita yang sama, kemudian menulis ulang dengan bahasa berbeda, akhirnya semua tulisan terasa sama rasanya, sama intinya. Pembaca gak tahu harus memilih yang mana.”
“Lah terus saya harus pegimana Ki?”
“Cari sesuatu yang elu dapetin sendiri, yang elu alamin sendiri. Datang ke lokasi. Bertanya kepada orang. Wawancara. Ambil foto sendiri. Baca dokumen. Amati hal kecil yang mungkin dilewatin orang lain.”
Ki Somad berhenti sebentar.
“Kalo bisa, jadilah orang yang menemukan cerita baru atau dari sudut pandang baru, bukan cuman orang yang nyeritain kembali cerita orang lain.”
Kalimat itu membuat Bisot kembali melihat layar laptopnya.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk mencari bahan di internet, padahal banyak bahan tulisan ada di sekelilingnya, bahkan di hadapannya.
Jangan Mengukur Diri Hanya dari Jumlah Pembaca
“Tapi tetep aja, Ki. Tulisan sepi pembaca itu bikin males.”
Kali ini Ki Somad tidak bercanda.
“Ya ya ya. Bisa dipahami.”
Bisot mengangguk.
“Elu menulis berjam-jam, baca bahan, riset kecil-kecilan, terus yang membaca cuman beberapa orang. Wajar kalo muncul pikiran, ‘Untuk apa gue melakukan ini?’ Tapi kalo jumlah pembaca cuman satu-satunya alasanlu menulis, elu bakalan cepat capek.”
“Terus ukurannya apa Ki?”
“Bangun pembaca yang mau kembali. Satu orang yang membaca tulisanlu lalu menunggu tulisan berikutnya bisa lebih berarti daripada seribu orang yang lewat dan gak inget siapa penulisnya.”
Bisot mengangguk pelan.
“Dan jangan biarin satu artikel mati setelah diterbitin,” lanjut Ki Somad. “Satu cerita bisa dikembangin menjadi tulisan lain, bahan video, kutipan, atau obrolan di media sosial. Elu kan udah susah payah menangkep ikan, masa ikannya cuman dipajang di meja?”
Pulang dengan Alasan untuk Menulis Lagi
Matahari mulai turun. Suara pasar perlahan berubah. Bisot akhirnya menutup laptop, tetapi kali ini bukan karena menyerah.
Ia membuka catatan dan menulis beberapa kalimat untuk dirinya sendiri: jangan bertanding dengan AI dalam tulisan yang terlalu umum; tulis pengalaman sendiri; masukkan pendapat dan cerita; gunakan AI sebagai pembantu, bukan pengganti pikiran; cari informasi langsung; dan bangun gaya yang membuat orang mengenali siapa penulisnya.
Ia membaca ulang catatan itu.
“Kayaknya saya masih bisa ngeblog, Ki.”
Ki Somad berdiri sambil membetulkan pecinya. “Emangnya tadi beneran mau berhenti?”
Bisot berpikir sebentar.
“Enggak juga Ki. Cuman lagi ngambek sama AI.”
Mpok Nining tertawa. “AI gak bakalan tahu kalo elu ngambek Sot.”
Mereka tertawa sebelum akhirnya berpisah.

Dalam perjalanan pulang, Bisot justru merasa lebih ringan. Ia sadar, masalahnya bukan semata-mata AI. Ia hanya terlalu lama menganggap tugas blogger adalah menghasilkan sebanyak mungkin tulisan dan mengejar sebanyak mungkin pembaca.
Padahal mungkin bukan itu.
AI bisa membuat seratus artikel. Bisa merangkum seribu tulisan. Bisa menjelaskan banyak hal dalam beberapa detik. Tetapi AI tidak mengalami apa yang dirasakan penulis. Tidak duduk di warung kopi Mpok Nining, tidak mendengar suara Pasar Babelan, tidak mengalami kegagalan, tidak mengenal orang-orang yang ditemuinya, dan tidak melihat dunia persis dari sudut pandang penulis.
Malam itu, Bisot membuka laptop lagi.
Kursor kembali berkedip di halaman kosong.
Kali ini ia tidak merasa sedang berhadapan dengan musuh.
Ia mulai mengetik:
“Sore tadi saya hampir berhenti menjadi blogger karena AI.”
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum.
Ternyata yang ia cari sejak tadi bukan ide baru.
Ia hanya perlu melihat kembali ke sekelilingnya sebagai bahan tulisan.