Melawan Rasa Takut akan Penolakan demi Kesehatan Mental

Melawan Rasa Takut akan Penolakan demi Kesehatan Mental

Perhatian dari orang lain adalah sebuah kebutuhan dasar yang penting bagi siapapun. Perhatian dalam bentuk penghargaan, pengakuan, pemahaman, dan penerimaan sebagaimana kita adanya sangat penting bagi pertumbuhan psikologis dan fisiologis (fisik). 

Seringkali kebutuhan untuk dihargai ini selalu dihantui oleh rasa takut akan kesalahpahaman dan penolakan, sehingga beberapa orang menciptakan strategi untuk menyembunyikan pribadi yang sebenarnya dan menciptakan image atau topeng-topeng yang menghalangi kita tampil apa adanya. 

Kurangnya mendapatkan pengalaman dihargai, dipahami, diterima sebagaimana kita adanya di masa lalu, dapat menimbulkan perasaan kurang berharga dan rendah diri yang kemudian mengasah kepekaan merasa tidak diterima

Kebutuhan untuk dihargai dan ketakutan akan penolakan, pada akhirnya akan terwujud dalam tindakan dan prilaku kita, hal itu akan tercermin dalam cara kita hidup dan berinteraksi.

Rasa takut akan penolakan dapat mempengaruhi pilihan seseorang di banyak bidang termasuk;

  • Hubungan dekat dan kemesraan keluarga
  • Tingkat pendidikan
  • Jenis pilihan karir
  • Tingkat pencapaian dan ambisi
  • Pilihan kegiatan rekreasi
  • Perilaku kita di tempat kerja
  • Hubungan keluarga
  • Peran kita dalam kehidupan masyarakat
Beberapa pengalaman gagal (yang mungkin dimaknai sebagai penolakan) dan penolakan yang sebenarnya dari orang lain sebenarnya adalah sebuah hal yang tak mungkin dihindari dalam kehidupan sosial. Namun demikian, penolakan akan menjadi masalah bila berlangsung lama atau sering, terlebih bila sumber penolakan adalah orang yang penting dalam hidup kita. 

Orang yang mengalami penolakan, dapat menganggap bahwa mereka menerima penolakan sebagai akibat dari beberapa kesalahan dalam kepribadian mereka, atau kekurangan atribut fisik mereka, atau juga mungkin karena mereka tidak dapat menjadi seperti yang diharapkan orang terdekatnya.

Konsekuensi dari pengalaman penolakan yang sering dialami bisa mengakibatkan harga diri yang rendah, depresi, kesepian, agresi, kepekaan yang tajam terhadap penolakan di masa depan, dan kecenderungan untuk menghakimi diri sendiri atau menolak diri sendiri, dan selanjutnya akan menghakimi dan menolak orang lain.

Asal usul ketakutan penolakan yang paling penting adalah pengalaman ditolak di masa kanak-kanak oleh orangtua dan figur orangtua (kakek, kakak, guru, dll). 

Penolakan ini mungkin dalam bentuk permusuhan langsung, pengabaian karena kurangnya minat atau kurangnya kemampuan mengasuh anak, atau, lebih umum, orangtua tidak memahami anak mereka secara intuitif - atau tidak 'se-frekuensi'.

Penyebab tambahan dari ketakutan akan penolakan mungkin termasuk pengalaman traumatis awal yang spesifik tentang kehilangan (seperti kehilangan orangtua) atau ditinggalkan ketika masih muda, berulang kali diintimidasi atau diejek (bullying) dalam lingkungan toxic, memiliki kondisi fisik yang membuat Anda berbeda atau Anda yakini membuatnya berbeda. Sehingga Anda percaya bahwa Anda tidak menarik bagi orang lain.

Pengalaman dalam kehidupan dewasa yang dapat memperburuk perasaan ditolak mungkin termasuk kehilangan pekerjaan atau kemunduran karir, merasa tidak cukup pintar, tidak kompeten, tidak cukup mapan secara finansial, tidak cukup menarik secara fisik. Juga ada situasi tekanan di mana hasilnya dirasa penting tetapi tidak bisa diramalkan, sehingga kita menjadi rentan atau baper. Misalnya, kencan pertama, bertemu orang baru, wawancara kerja, urusan bisnis penting, menikah, punya bayi.


Melawan Rasa Takut akan Penolakan demi Kesehatan Mental


Beberapa strategi salah sasaran yang umum kita ambil ketika berhadapan dengan ketakutan akan penolakan adalah:


Mencoba menyenangkan semua orang

Anda akan merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain, bahkan jika hal itu membuat hidup Anda lebih sulit. Anda mungkin akan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin Anda lakukan. Anda juga mungkin memiliki beban kerja yang berlebihan atau beban yang dapat menyebabkan burnout.


Ketidaktegasan

Anda akan mengalami kesulitan menolak atau mengeluarkan pendapat Anda, atau untuk meminta bantuan bahkan saat Anda membutuhkan. Menghindari konfrontasi adalah hal biasa bagi orang yang takut ditolak. Mereka yang takut akan penolakan berpura-pura bahwa kebutuhan mereka sendiri kurang penting atau tidak penting, dan karenanya berusaha untuk mengabaikan atau menomor duakan kebutuhan Anda sendiri.


Perilaku pasif agresif

Tidak nyaman tampil apa adanya, tetapi mencari jalan lain untuk mengekspresikan diri dengan cara tertentu. Perilaku seperti ini gejalanya antara lain dan tidak terbatas hanya; selalu mengeluh dan nyinyir, mengabaikan atau 'melanggar' janji, menunda-nunda, dan tidak memenuhi atau menyelesaikan pekerjaan secara efisien.


Menjadi Tidak Otentik

Banyak dari mereka yang takut ditolak, takut untuk menampilkan diri 'asli' mereka apa adanya kepada dunia dan menghidupkan image atau topeng yang 'seolah-olah'. Dengan demikian orang tersebut juga menganggap interaksi sosial orang lain juga tidak otentik atau hanya basa-basi. Seringkali sangat waspada, sensitif dan semua berjalan sesuai yang sudah dikondisikan, mereka yang takut ditolak, bersembunyi di balik topengnya dan yakin jika mereka menunjukkan dirinya yang asli orang-orang akan menolaknya.


Menyendiri

Salah satu cara kita melindungi diri dari rasa takut ditolak adalah dengan menjaga jarak emosional dari orang lain. Jarak tersebut adalah zona untuk mempertahankan topeng sikap acuh tak acuh dan masa bodoh, yang mencegah orang lain melakukan pendekatan; dengan demikian ia menghindari penolakan dengan harga menghindari kedekatan. Strategi palsu yang ia bangun adalah "Saya tidak membutuhkan atau menginginkan siapa pun." 

Dia pada dasarnya merasa tidak layak dicintai dan menanggapi keyakinan ini dengan "kemandirian yang kesepian". Ia akan terlatih untuk menjadi "mandiri yang kesepian" atau hanya bergantung pada dirinya sendiri. 

Dia percaya dia tidak seharusnya minta pertolongan karena tidak ada orang yang benar-benar akan menolongnya. Untuk menegaskan keyakinan ini dia akhirnya akan menolak (meremehkan) kebutuhan, perhatian, dan kasih sayang yang ditunjukkan atau ditawarkan oleh orang lain.


Masalah dari strategi melawan kemungkinan penolakan ini adalah, bahwa mereka cenderung menyendiri/mengasingkan diri karena mereka membuat kebutuhan akan penerimaan dan kedekatan dengan orang lain menjadi tidak memungkinkan, mereka menyuburkan perasaan tidak terikat dan tidak diterima oleh siapapun. 

Mencapai kehidupan yang memuaskan dan sehat membutuhkan keterbukaan terhadap orang lain, dan oleh karena itu termasuk risiko penolakan. Seseorang mungkin memegang keyakinan, bahwa menghindari kedekatan adalah cara untuk menghindari rasa sakit atas penolakan

Keyakinan seperti ini menghasilkan hidup yang kering di gurun tandus hatinya, itu pun jika ia masih memiliki hati.

Melawan Rasa Takut akan Penolakan demi Kesehatan Mental


Menghadapi rasa takut

Satu-satunya jalan keluar adalah mengurangi rasa takut dan malu dan mulai menerima orang lain. 

Untuk menghindari semakin parahnya perasaan tidak diterima, Anda perlu proaktif membuat pilihan untuk mulai menghadapi ketakutan Anda, dan mulai lebih banyak berbagi dengan orang lain. Dengan begitu, Anda bisa mengurangi perasaan sendirian dan kesepian. 

Jangan takut, saat Anda menghadapi rasa takut dan mulai berbagi mengenai perasaan yang Anda alami, Anda pasti akan bertemu orang lain dengan pengalaman yang sama

Mengetahui bahwa Anda tidak sendirian dalam menghadapi rasa takut akan penolakan, dengan sendirinya dapat mengurangi perasaan malu dan kesepian. 

Sering kali berkegiatan positif dapat menjadi cara yang ampuh untuk mengatasi rasa takut, dan terkadang bisa lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sebab, ketika kita selalu menghindari apa yang kita takuti, kecemasan kita cenderung memburuk seiring waktu.

Banyak orang menghindar untuk mengambil risiko yang wajar untuk menghadapi rasa takut justru terlihat konyol, bodoh, dan memalukan. 

Ketika kita menghadapi rasa takut, lebih sering menghasilkan hasil jauh lebih baik daripada yang ditakuti sebelumnya, atau sama sekali tidak semenakutkan seperti yang dibayangkan, tetapi konsekuensi negatif yang dirasakan saat kita menghindar untuk menghadapi rasa takut itu justru melemahkan kepercayaan diri

Tentu saja, kadang kita mungkin membutuhkan dukungan dari orang lain untuk mengeksplorasi, menghilangkan, atau menaklukkan ketakutan itu.




Artikel ini adalah terjemahan bebas dari tulisan Adele Wilde, seorang Konselor dan Psikoterapis yang berdomisili di Perth, Australia Barat




comments

Lebih baru Lebih lama