Tips Mendidik Anak di Era Digital

Mendidik Anak di Era Digital
Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua, namun proses pembelajaran untuk menjadi orangtua yang lebih baik berlaku seumur hidup.
Tugas orangtua salah satunya adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi zamannya. Teknologi yang semakin maju dan perkembangan dunia digital yang semakin pesat ternyata memberikan tantangan baru bagi para orangtua. Mendidik anak di era digital ini terbilang berat. Sebagai orangtua, selain harus bisa mengikuti perkembangan teknologi, kita juga perlu memiliki siasat baru dalam mengasuh anak. Sudahkah kita sebagai orangtua siap mendidik anak di era digital dan era ke depannya?
Pada tanggal 4 Maret 2016 yang lalu, penulis mengikuti Seminar Parenting dengan tema “Mendidik Anak di Era Digital”. Bunda Wening Wulandaru yang merupakan seorang Trainer, Konselor Parenting dan Penulis Buku, diundang sebagai pembicara dalam seminar tersebut. Wanita kelahiran Surabaya, 3 November 1972 ini terbilang memiliki jam terbang yang cukup tinggi dalam mengisi acara konseling, parenting workshop, teenager motivation training, dan family therapy.
Dalam seminarnya, ibu dari tiga orang anak ini menyatakan bahwa ada dua hal yang dapat membentuk perilaku tertentu pada anak, yaitu perilaku memperlakukan teknologi secara tidak pas dan pola asuh yang tidak pas dari orangtua. 

Gadget (Memperlakukan Teknologi Secara Tidak Pas)
Bunda Wening menggambarkan bagaimana anak-anak yang sudah kecanduan gadget (hobi bermain video game online) memiliki lebih besar peluang untuk terjerumus dalam pornografi. Ada beberapa game online yang ternyata berbahaya sehingga dilarang peredarannya dikarenakan konten yang banyak mengandung unsur kekerasan, hingga dianggap mempromosikan perjudian. Adapun sepuluh game paling kontroversial di dunia tersebut adalah :
1. ManHunt
2. Postal
3. Call Of Duty
4. Grand Theft Auto : San Andreas
5. Bully (Canis Canem)
6. Left 4 Dead 2
7. Mortal Kombat
8. Football Manager 2005
9. Carmageddon
10. Pokemon

Selain itu, ada beberapa game lainnya yang juga berbau kekerasan dan pornografi seperti: God Of War, The Warrior, Deff Jump, Gangster, Conflict Destrum, Downhill, Chating Lovers, The Sims, Bully dan BMX XXX.
Menurut ahli otak, kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak, sedangkan kecanduan games dan pornografi merusak lima bagian otak. Seringnya menonton video porno dapat mengkerdilkan otak kita, bagian otak prefrontal cortex akan hancur. Bagian tersebut merupakan bagian otak yang mengontrol moral dan nilai, pengontrolan diri dan pengambilan keputusan. Sedangkan game yang berunsur kekerasan ternyata berpengaruh pada otak anak dan remaja, terutama di bagian yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan pengendalian emosi.

Pola Asuh yang Tidak Pas
Selain pengaruh teknologi, pola asuh dari orangtua juga mempengaruhi bagaimana seorang anak berperilaku. Anak adalah peniru yang baik. Anak cenderung melihat dan meneladani bagaimana orangtuanya bersikap sehari-hari. Ada empat faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orangtua, yaitu :
Kehangatan dan Kedekatan
Penerimaan diri
Penghargaan diri
Pengakuan diri

Mendidik anak tidak melulu urusan ibu. Banyak pasangan mempercayai bahwa tugas ayah adalah bekerja dan mencari nafkah sedangkan ibu mengasuh anak di rumah. Padahal, ayah memiliki peranan yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Penelitian selama tiga tahun di tahun 2008-2010 menyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam kategori “fatherless country” dimana kurangnya ayah di negara ini bukan secara fisik melainkan dari sisi psikologis.

Anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya lebih berisiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal, cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda, cenderung join a gang dan cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa. Sedangkan anak perempuan yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain, 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan, cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan cenderung lebih mudah bercerai. 
Alternatif strategi menyikapi kemajuan teknologi:
  • membuat kesepakatan atas setiap kegiatan.
  • orangtua harus selalu “up date” terhadap perkembangan zaman dan teknologi.
  • orangtua melakukan intervensi secara halus terhadap pemilihan acara, situs dan game yang layak dikonsumsi anak.
  • orangtua mendampingi atau melebur bersama anak dalam kegiatan tersebut pada saat tertentu.
  • di waktu dan tempat yang berbeda, orangtua perlu melakukan diskusi.
Tips Membuat Kesepakatan
  1. Lakukan kesepakatan terlebih dahulu sebelum membeli atau mengadakan fasilitas yang berhubungan dengan internet, video game dan televisi (ayah dan bunda harus memiliki visi dan misi yang sama, pola asuh yang seragam).
  2. Jika sudah terlanjur, ajak anak untuk berdiskusi (bukan instruksi), ajak anak memetakan apa manfaat dan mudharatnya.
  3. Ada reward dan konsekuensi sebagai pengikat kesepakatan tersebut. Konsekuensi tujuannya adalah mengurangi kesenangan anak, jadi jangan jadikan hal-hal baik sebagai konsekuensi, misalnya belajar, menghafal Al-Quran, karena anak akan berfikir belajar dan menghafal Al-Qur’an adalah beban atau hal yang membuat dia tersiksa.
Jadi, ayah dan bunda, tidak ada yang salah pada gadget. Gadget adalah pilihan bagi keluarga. Semua kembali kepada bagaimana ayah dan bunda mendidik anak-anak secara bijak dalam menggunakan gadget.


Disarikan dari presentasi Bunda Wening Wulandaru
Oleh:Rahmi Wilansari
TCM 90/2016


Klik untuk komentar