Film Sokola Rimba; Dokumentasi Wujud CINTA Butet Manurung

"Kamu punya modal besar untuk bisa kembali lagi ke sana. Kamu, punya CINTA yang besar untuk mereka." 

Begitu ungkap ibunda Butet Manurung kepada putrinya, si anak hutan yang sedang dirundung murung. Seketika Butet pun tersenyum. 

Apa yang bisa mengalahkan kekuatan bernama kekuatan CINTA? 


Film Sokola Rimba; Dokumentasi Wujud CINTA Butet Manurung
Butet (Saur Marlina Manurung) Pendiri Sokola Rimba

Film Sokola Rimba dibuka dengan scene Butet, yang diperankan Prisia Nasution (*sorry yaa, Pris, gw pernah ngerumpiin elu dalam celotehan gw 😆* red) mengendarai motor trail membelah perkebunan Kelapa Sawit, kawasan Hutan Bukit 12, di Bungo, Jambi. Konon, 3 jam berkendara motor baru sampe di perbatasan wilayah transmigran dan kawasan hutan di mana orang-orang Rimba bermukim. 

Itupun masih harus berjalan kaki sekian jam lagi baru sampai di tempat Orang Rimba di hulu Sungai Makekar Hulu, tempat Beindah, Nengkabau beserta belasan bocah lainnya terlebih dahulu berkenalan dengan Ibu guru Butet. 

Masyarakat asli Orang Rimba alias Suku Anak Dalam yang menghuni hutan Bukit 12 Jambi menjadi masyarakat yang terpaksa harus bisa menerima keadaan dengan semakin terdesaknya wilayah hutan perawan milik nenek moyang mereka selama berabad-abad lamanya demi konservasi hutan yang melokalisir wilayah yang tak boleh dijadikan lahan Kelapa Sawit bagi ratusan KK asal pulau Jawa atas nama Program Transmigrasi yang berlangsung sejak awal tahun 80-an. 

Orang Rimba terbagi dalam suku-suku kecil lain yang diketuai oleh ketua adat berjulukan Tumenggung. Sebagian kecil suku-suku itu belum berinteraksi dengan orang luar hutan, walaupun perlahan karena desakan hidup mereka mulai "turun" gunung, keluar hutan untuk bermuamalah, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Hewan liar sebagai sumber makanan mereka mulai sulit diburu. Dan mereka kesulitan berladang karena tanah ulayat mulai dirambah pengusaha kelapa sawit, dan mereka dilarang keras membuka lahan di wilayah konservasi hutan bukit 12. Rumit. 

Satu sisi kebijakan yang tidak bijak, kalo korang bilang! 

Butet Manurung yang bekerja di Wanaraya, LSM (* auk dahh bener kagak ) dengan status menjadi pendamping masyarakat asli Suku Anak Dalam, harusnya bertugas mendampingi saja. Bukan ngajarin baca, nulis. 

Tapi Butet yang idealis menemukan ada suatu kesalahan di sana dan inilah yang memukul nuraninya. Cintanya tumbuh, subur, seiring kata hatinya mengamalkan hadist Rasulullah saw, manusia terbaik adalah yang memberi manfaat, termasuk memberi the most wanted of the states, yaitu pendidikan. 😆😆. 

Orang Rimba Sungai Makekar Hulu tempat Butet mengajarkan anak-anak membaca, menulis dan berhitung terlihat tidak ada masalah. Namun orang rimba Sungai Makekar Hilir, Butet masih belum diterima, Rombong Tumenggung Belaman Badai-lah namanya. 

Nyungsang Bungo, pemuda berusia 17-18 tahunan dari rombong inilah yang membuat Butet bersikeras "mengetuk pintu" untuk menawarkan dirinya menjadi ibu guru bagi anak-anak Belaman Badai

Tiga hari berjalan kaki dari perbatasan, ditemani Beindah dan Mengkabau, dua bocah Rimba Makekar Hulu muridnya, Butet mencari keberadaan Rombongan Belaman Badai, dimana Nyungsang Bungo tinggal. 

"Pensil membawa penyakit. Pembawa bencana." 

Begitu pernyataan dukun Suku Belaman Badai. Pengetahuan (*baca pendidikan) membawa kerisauan. Membuat masing-masing mereka bersilang pendapat tentang keberadaan Butet di tengah-tengah mereka. Mereka tak perlu membaca, mereka tak payah berhitung. 

Berabad waktu kehidupan mereka baik-baik saja tanpa uang dan pendatang. Hutan telah menyediakan segalanya. Butet diminta pergi oleh Tumenggung. Butet kecewa, namun lapang dada. Bungo patah hatinya. 

Butet tak menyerah, di perbatasan, seorang transmigran bernama Pariyah memberitahunya bahwa Rombong Tumenggung Belaman Badai rutin turun gunung untuk bermuamalah. Mereka menukar getah karet, damar dan buah-buahan hutan dengan rokok, biskuit, mi ( mie instan 😆) dan kain untuk penutup anuan mereka. *bosomu, maakk 🤦‍♀️

Film Sokola Rimba; Dokumentasi Wujud CINTA Butet Manurung
Butet saat mengajar anak-anak Suku Anak Dalam

Singkat kata, Butet bikin "sekolah" di rumah ini. Sambil promosi kepada setiap Orang Rimba yang turun gunung. Ihtiar bertemu takdir. Bungo mendatangi Butet. Pemuda yang kuat banget azzamnya untuk bisa membaca. Bungo belajar, membaca sampai lancar. Sampai memahami kata-demi kata yang dibacanya. 

Sampai satu ketika Bungo diminta pulang. Kepala suku mereka, Tumenggung Belaman Badai wafat. Mereka harus melaksanakan adat. Adat melangun, yaitu pergi dari tempat tinggal mereka. Berjalan ke manapun memasuki hutan jauh ke dalam untuk menghilanglan duka cita. 

Bungo tak ingin menghilangkan jati dirinya sebagai Anak Rimba. Kesadarannya tinggi akan budaya nenek moyangnya yang harus dia jaga. 

Nyungsang Bungo melangun. Butet melangun. Wanaraya dipimpin oleh manusia yang tak lebih idealisme yang kaku sesuai isi saku. Butet merasa bukan tempatnya lagi dia ada di sini. 

Air matanya menderas mengingat map kuning lusuh yang dibungkus plastik yang tak lepas dari tangan Bungo. Bungo begitu yakin, map berisi kertas tiga lembar inilah yang membuat sukunya lebih sering berpindah tempat, membuat sukunya semakin sulit menemukan hewan yang diburu untuk mereka makan. 

Kertas berisi jempol tumenggung, pertanda menyetujui apapun kesepakatan di dalamnya tanpa mereka tahu apa isinya. 

"Aku ingin belajar. Aku ingin bisa membaca. Aku tak mau mereka membodohi kita terus," teriaknya. 

Butet kembali ke Jakarta. Bukan untuk menyerah kalah. Cintanya menyulut kekuatan. Sokola Rimba harus tetap ada. Walau tanpa Wanaraya, Butet akan mendatangi mereka. 

"Pendidikan yang terbaik adalah yang menjadikan mereka siap untuk menghadapi perubahan," tekad Butet. 

Film Sokola Rimba; Dokumentasi Wujud CINTA Butet Manurung
Butet, Riri dan Prisia (Pemeran Butet)

Dengan kekuatan baru Butet kembali. Menyegarkan diri bersama dukungan eksternal yang mengalir. Menyaksikan Bungo, yang telah menjadi juru bicara Rombong Tumenggung Belaman Badai, dengan kemampuan membacanya yang sangat baik, dengan tetap memakai pakaian adat Suku Anak Dalam, telah menggunakan PENGETAHUAN,sebagai senjata menghadapi perubahan. 

So, jangan kawatir dengan perubahan. Hanya orang-orang tak tak berilmu yang takut menghadapinya. Yang berubah hanyalah mindset, bukan jati diri.

#ceritamaks
#ceritaSufi

Penulis: Sri Suharni
Ciketing Udik,  Ahad, 29 Agustus 2021 


comments

Lebih baru Lebih lama