Menjadi Bermanfaat Walau Tanpa Ijazah

Menjadi Bermanfaat Walau Tanpa Ijazah


Menurut saya tidak fair jika kita menuntut institusi pendidikan tidak "mata duitan", sementara kita menggunakan ijazahnya untuk memancing duit yang lebih banyak.

Jujur dong, kamu kuliah lagi, punya ijazah lagi itu kan membuat "harga" kamu naik. Bisa gaji yang naik, atau tunjangan yang naik, atau jabatan yang naik. Aturan kepegawaian memang dibuat seperti itu, mau bagaimana lagi?

Sama saja kok, di tempat kerja saya juga begitu. Yang baru D1 atau D3 kita dorong buat belajar dan kuliah lagi. Yang S1 juga. Alhamdulillah, yang sudah selesai S3 pun sudah banyak sekali.

Sebagian besar melanjutkan di sekolah bergengsi. Sekalian saja, soalnya kalo akreditasinya ecek-ecek gak akan diakui sama kantor.

Saya juga sempat ikutan. Mau dapat ijazah S2, biar pangkat gak mentok di 3D. Tapi paket menengah sih, karena duitnya gak cukup buat yang bergengsi. Sekolah S2 di universitas negeri biayanya lumayan. 

Kampus saya itu lumayan lah, biarpun akreditasi baru "menjelang A", dosen-dosennya lumayan: ada staf ahli kapolri, mantan walikota, profesor juga. Kuliahnya jam 17.00 hingga jam 22.00, dua kali seminggu.

Setiap jadwal kuliah, buru-buru meluncur dari kantor setelah absen jam 5 sore. Pulangnya nunut teman sampai pintu tol Bekasi Barat, sambung naik angkot nomor 25 ke Pekayon, lalu pindah Mikrolet M02 ke Jatiasih, dan naik ojek ke rumah.

Karena sudah hampir tengah malam, seringkali M02 lama ngetemnya. Sampai rumah jam 24. Pernah jam 1 dini hari berikutnya.

Lumayan juga perjuangannya. Sampai-sampai Si Kecil komentar: "Papa kalo sudah selesai pelajarannya, langsung pulang dong, jangan maen kelamaan!".

Setengah mati saya yakinkan dia bahwa di kampus tidak ada jungkat-jungkit atau ayunan, dan selama ini papanya langsung pulang setelah pelajaran kelar, tapi dia tetap tidak percaya. Ya sudahlah...

Dan akhirnya proses belajar di kelas selesai, tinggal ambil tesis. Ini masalah besar, karena waktu yang saya punyai memang terbatas.

Menjadi Bermanfaat Walau Tanpa Ijazah

Eh, ternyata ada solusinya. Tesis dibikinin sama staf di kampus.
 
Kita tinggal kasih bahan-bahan, terima beres. Katanya, hampir semua seperti itu. Biayanya Rp5 juta.

Saya kasih DP Rp3 juta dan bahan-bahan terkait, minus data terbaru yang mau dimintakan ke kantor.

Seminggu saja, sudah selesai kerangka tesis itu. Tapi saya baca baca... lho kok... lho kok... cuma menyalin sana-sini, dan tanpa malu-malu. Weleh weleh... saya minta perbaiki beberapa kali, hasilnya tetap mengecewakan. Akhirnya saya putusin gak pakai jasa pembuatan tesisnya. Saya bertekad mau bikin tesis sendiri saja.

Apakah akhirnya tesis saya selesai? Ternyata tidak juga. 

Belakangan semangat saya mengempis. Banyak informasi tidak sedap yang baru saya tahu belakangan, yang benar-benar membuat saya kehilangan selera membuat tesis.

Saya pikir-pikir, ya sudahlah, toh teman-teman saya yang lain lulus dan dapat ijazah. Di kantor juga sudah sangat berlimpah pegawai yang punya ijazah. Dan jabatan kan terbatas, biar saya mengalah, mengurangi persaingan yang kian ketat itu.

Saya kira, saya masih bisa berkontribusi dan bermanfaat buat kantor tanpa harus punya jabatan. Asalkan rajin dan tidak pilih-pilih kerjaan, ringan tangan membantu menyelesaikan pekerjaan teman, saya bisa lah...

Hidup ini mau cari apa sih?


Penulis: Heri Winarko
Kamis, 26 Agustus 2021


4 Komentar

  1. Balasan
    1. Tulisan teman, saya hanya publish dan arsipkan saja 🙏☺️ terima masih sudah mampir

      Hapus
    2. Ringan, namun berisi...👍👍👍

      Hapus
    3. Eh ada cikgu Adiddrya :) makasih cikgu sudah mampir

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama