luksnikufesin


Saya bukanlah pengamat pendidikan, bukan pula orang yang memiliki gelar akademis bejibun dengan prestasi yang cemerlang. Dari pengalaman dan testimoni teman-teman saat saya melewati masa SD hingga kuliah itu lebih banyak menggambarkan bahwa saya bukan lah tipe orang yang "senang berdiam diri" dan mendengarkan apa-apa yang sudah saya baca di rumah dibacakan kembali di dalam kelas. Nakal dan susah diatur mungkin menjadi identitas yang harus saya tanggung semasa saya sekolah.

Mungkin karena cara saya mengaktualisasikan/mengkomunikasikan "ketidak senangan" ini dengan berbagai aksi yang membuat saya di cap "anak bandel" dan kemudian membuat saya langganan menerima hukuman, mondar-mandir di ruang guru BP, bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan dan berbagai hal lain yang saat itu menurut saya adalah romantika saja.

Apa yang dapat saya katakan dan aktualisasikan saat itu? belajar bermain gitar dan bergabung dengan band alakadarnya mengusung lagu-lagu The Sex Pistols? Terlibat penyalahgunaan narkoba, tawuran dan kriminalitas remaja lainnya? Kenapa? Karena disana saya merasa menemukan "medium" untuk aktualisasi dan menyampaikan apa-apa yang ingin saya komunikasikan. 

Kenapa bukan kegiatan lain? :) Saya rajin membaca dan menulis sejak kanak-kanak, namun saya tidak memiliki pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk dunia tulis menulis ini. Siapa yang musti saya salahkan mengenai mampetnya kesenangan saya dalam bidang tulis menulis ini?, lalu sekarang tercurah dalam blog yang semrawut dan acak-acakan ini :) yah diri saya sendiri tentunya...

Itu semua masa lalu, dari sanalah saya meniti jejak hingga sampai pada titik ini. Tidak ada penyesalan! itu semua adalah proses. Kini saya paham, istilah "murid bandel" atau "anak nakal" saat itu hanya sebuah label yang sama sekali tidak benar. Itu semua adalah persfektif pemikiran orang lain yang dipaksakan kepada saya. Saya sendiri lebih melihat diri saya sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tidak umum, lebih suka berkumpul dan bermain bersama teman-teman dan melakukan hal-hal yang membuat saya merasa memiliki makna dalam kehidupan. Apakah hanya saya yang demikian? Atau Anda merasakan hal yang sama? "Memiliki makna dalam kehidupan" khususnya bagi diri sendiri, alhamdulillah jika berguna dan bermakna bagi orang lain.

Dari buku Mas Bukik saya mengetahui mengenai kegiatan seorang bernama Sugata Mitra, ia adalah profesor teknologi pendidikan di Newcastle University, pemenang 2013 TED Prize, memperoleh dana 1 juta USD untuk membangun laboratorium proyek: Sekolah di Awan. Silakan saksikan apa yang Mitra lakukan dengan eksperimen Hole in the Wall di TED Talks (ada subtitle Bahasa Indonesia).

Eksperimen Mitra menggambarkan bagaimana aspek belajar mandiri (self-directed learning) dari 3 sifat manusia – rasa ingin tahu, jiwa bermain dan kemampuan sosial – dapat berpadu dengan indah untuk memenuhi tujuan dari pendidikan.
  • Curiosity (rasa ingin tahu) menarik anak-anak ke komputer, memotivasi mereka untuk mengeksplorasi.
  • Playfulness (jiwa bermain) memotivasi mereka untuk berlatih banyak keterampilan komputer.
  • Sociability (kemampuan bersosialisasi) memungkinkan pembelajaran seorang anak menyebar seperti api ke puluhan anak-anak lain.
Entah kenapa saya merasakan inilah cara belajar yang lebih manusiawi bagi saya, segala energi kreatif akan terfokus untuk terasah hingga memunculkan kecakapan yang lahir secara naluriah dan kelak menjadi kecakapan profesional... tapi kembali lagi kepada kenyataan, pendidikan disini bertujuan untuk memperoleh ijazah, titik. Bermanfaat atau tidak bagi diri sendiri atau masyarakat itu bukan urusan penting.

Btw tadi ada kata "tujuan dari pendidikan".... "Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Tujuan yang mulia... namun prakteknya keberhasilan pendidikan dilihat dari serapan tenaga kerja di lembaga kerja konvensional, Perusahaan (swata) dan Pemerintahan, itu saja 2, iya, seperti saya. Kata-kata cakap, kreatif, mandiri ini lenyap entah kemana.... mungkin habis tanpa sisa tergerus sistem pendidikan nasional yang selalu saja berubah mencari formatnya padahal "katanya" sudah merdeka 71 tahun.

Bacaan:

Salam.

2 komentar

avatar

Jadi ... Sekolah seharian full nich akhir nya ??? #Lelah

Klik untuk komentar