Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

CERITA HALU 6

Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4) 


demo buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Lastri terkejut bukan main melihat Fatur tiba-tiba ada di depannya. Tangannya masih memegang alat make up seperti biasanya yang ia lakukan jika sedang tak ada pekerjaan.


"Presdir ada?" tanya Fatur, agak geli melihat Lastri yang gelagapan. Memang sudah terkenal di kalangan karyawan jika Lastri sang sekretaris Presiden Direktur ini suka berdandan. Selalu terlihat cantik.


"A--ada ...." jawab Lastri agak gugup. "Mereka sudah menunggu Pak Fatur dari tadi, lho," lanjutnya setelah menenangkan diri.


"Mereka? Mereka siapa?," malah gantian Fatur yang heran.


"Presdir dan para direktur. Lalu ada beberapa orang lagi yang katanya dari serikat FSPGB. Dan ada dua orang tamu yang sepertinya mereka pejabat. Mereka semua menunggu, lho!."


Fatur cuman bengong.


"Lah, kok malah bengong sih, Pak! Buruan masuk aja langsung!" seru Lastri sambil tersenyum, giliran dia yang geli melihat roman muka Fatur yang terbengong-bengong.


"Oh! O--oke! Makasih Lastri." Agak gugup Fatur menjawabnya,  lalu ia langsung menuju pintu ruangan Presdir dan tanpa mengetuk langsung membukanya.


Begitu pintu terbuka, keheranan Fatur malah bertambah. Ia tak sempat berkata apa-apa. Hanya bisa melihat sekeliling ruangan. 


Ada meja besar berbentuk bundar di situ. Nampak presdir, Pak Kurniawan dan jajaran manajemen lain berkumpul di satu sisi. Di sisi lainnya yang membuat ia terkejut, karena ada bung Iqbasevic berdiri paling depan. Di sisi kanan kirinya duduk mendampingi orang-orang yang ia kenal sekali. Itu yang dibilang Lastri tamu pejabat tadi, yang tak lain adalah bung Obiwinanikeke dan bung Nyuysamzchy. Keduanya anggota senator.


Di belakang mereka ia mengenali sebagai para perangkat FSPGB yang sering berdiskusi perihal kasusnya.


Namun, suasana di situ malah mencekam. Presdir dan jajaran manajemen terlihat pucat. Sementara bung Iqbasevic menatap presdir dengan tajam. Wajahnya menegang, terlhat jelas dari guratan urat di sekitar pelipisnya.


Salah seorang perangkat FSPGB memberikan isyarat padanya untuk mendekat dan menaruh telunjuk di mulutnya. Fatur paham isyarat itu. Ia berjalan mendekat ke rombongan serikat tanpa berkata apapun.


"Saya ulangi!" Seru bang Iqbasevic dengan suara khasnya yang menggelegar.


"Kalian ini membuat peraturan sendiri! Seenaknya saja mempermainkan nasib orang! Pengecut dan cemen sekali! Saya tanya, mana ada aturan PHK sebrengsek itu? Siapa yang berpikir cara-cara kotor seperti itu?? Hahh!?"


Ruangan itu hening. Pak Kurniawan tampak semakin pucat. Butiran keringat tampak muncul di dahinya.


Presdir pun hanya termangu. Tak menjawab juga. Wajahnya menghadap ke atas, entah mengharapkan apa.


Yang santai hanya kedua senator. Mereka berdua kenal betul dengan dedengkot FSPGB ini. Tapi mereka juga memasang tampang angker. Fatur belum pernah melihat tampang keduanya semarah itu.


BRAAK!!


Hampir semua orang di ruangan itu terlompat kaget mendengar meja yang di pukul oleh Iqbasevic dengan keras. Fatur sendiri jantungnya sedetik terhenti yang membuat tubuhnya kesemutan.


"Jawab! Jangan cuman beraninya dengan buruh kecil! Bangsat kalian!" pekik Iqbasevic dengan suara bariton yang menggelegar.


Fatur melihat betapa wajah-wajah management semakin pias. Bahkan dilihatnya Ranto memegang perut dan pantat belakangnya. Mungkin mules dan ingin buang air. Hati Ranto tersenyum. 'Rasakan kau!' pikirnya.


Nyuysamzchy yang berada di samping Iqbasevic ikut berkata, "Kalian ini gagu semua atau bagaimana? Dari tadi ditanya malah planga-plongo! Gentle saja, jawab dengan jujur!,"" katanya lugas.


Mereka masih tak menjawab. Kurniawan mulai menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Narsih masih memilin ujung bajunya hingga koyak tak berbentuk.


"Sialan kalian! Ok! Kalau begitu, saya kasih waktu tiga puluh menit untuk memikirkan hal ini. Dan kalian harus punya alasan yang kongkrit! Jika tidak, saya bawa kasus ini ke ranah PIDANA! Biar kalian semua dipenjara!" Tegas suara Iqbasevic.


"Wah, Pidana?? Keren nih! Tapi gimana caranya?" pikir Fatur dalam hati. Ia menengok ke arah kedua senator yang mengangguk-angguk dengan pasti.  Ia jadi yakin jika para pengacara di serikatnya pasti punya cara dan celah untuk itu, apapun pasalnya.


Kemudian Iqbasenovic mengajak rombongan serikat keluar ruangan. Termasuk Fatur yang mengikuti paling belakang. Sekilas ia melihat presdir mengeluarkan saputangan dan mengelap wajahnya yang berkeringat.


Tiba di luar, Fatur dikejutkan oleh lautan manusia yang sudah berada di depan pabrik. Nampak bendera besar FSPGB dikibarkan dengan gagah. Terlihat juga banyak bendera serikat lain di situ. Semua orang menyambut yang keluar dari pabrik dengan yel yel gegap gempita.


"Hidup Buruuuuhhh!"

"Hidup Pekerja!"


Dan berbagai yel-yel yang bersahut-sahutan. Ramai sekali. Fatur melihat berkeliling, dan ia melihat lautan manusia itu tak terbatas. Ke mana matanya memandang, hanya manusia yang ia lihat. Luar biasa! Pikirnya.


Fatur jadi terharu. Ia tahu, bahwa mereka datang untuk dirinya. Solidaritas yang digaungkan selama ini ternyata dipraktekkan dengan patuh. Matanya berkaca-kaca, saat hampir semua kawan buruh memeluknya, bersalaman dengan hangat dan ikhlas. 


"Semangat, bung!" teriak Ozonolic, salah seorang orator ulung di FSPGB. "Kami semua bersama anda!"


"Hidup Fatur!!" teriaknya lagi yang disambut teriakan membahana dari segala penjuru.


"Hiduuup!"


"Hidup buruh!"


"Hiduuup!"


"Hidup  pekerja yang melawan!!"


"Hiduuup!"


Mata Fatur semakin basah. Ia sangat tersanjung dengan perlakuan mereka semua. Tak menyangka sama sekali.


Lalu di lihatnya Iqbasevic menaiki podium di mobil komando yang memang sudah diatur sedemikian rupa agar menghadap persis pintu masuk pabrik.


"Hidup buruuuh!" teriaknya memulai dengan suara khasnya yang membangkitkan semangat. Tangan kirinya mengepal ke atas.


"Hiduuup!" Jawaban membahana kembali terdengar, kali ini lebih keras. Ribuan tangan kiri meninju udara dengan semangat.


Tiga kali Iqbasevic berteriak. Tiga kali juga gema membahana terdengar. Sejenak, matahari terlihat bersembunyi di kumpulan awan. Sehingga teriakan-teriakan itu lebih terdengar bergemuruh.


Setelah semua diam. Hening. Iqbasevic melanjutkan. 


"Kawan-kawan buruh sekalian. Kita disini bukan hanya untuk bung Fatur! Tapi untuk keadilan! Perusahaan ini sangat jelas terindikasi melakukan union busting! Pemberangusan serikat pekerja!"


"Huuuuuuuu!" Teriak semua massa yang ada.


"Dan perusahaan ini telah melakukan PHK dengan cara biadab! Cara yang tak seharusnya dilakukan oleh bangsa sendiri! Mereka yang melakukan itu tak lebih hanya penjilat-penjilat kotor di perusahaan!."


Kali ini terdengar teriakan 'huuuu' yang panjang.


"Dan jika cara-cara biadab ini berhasil mereka terapkan pada saudara Fatur. Maka semua perusahaan di negara ini akan menerapkan cara biadab yang sama terhadap buruhnya!."


"Maka akan lahir penjilat-penjilat baru dari buruh yang takut melawan! Yang pengecut! Takut miskin! Tak peduli akan ketidak adilan! Tak peduli jika ada perlakuan sewenang-wenang! Banyak buruh yang hanya jadi pecundang! Bahkan tak peduli lagi dengan harga dirinya!."


"Maka jangan aneh, jika nanti ada kawan-kawan buruh yang mau saja meminum air kencing dari atasannya sendiri! Asal mereka tak di-PHK, mereka bersedia meminum air kotor itu!.  Itu maunya manajemen perusahaan ini! Sialan!"


"Huuuu!! Sialaaaaannnn!" sahut seluruh massa yang ada.


"Dan brengseknya, itu dilakukan oleh orang-orang bangsa sendiri!. Dasar penghianat!!. Jika begini kita diam atau lawan??" 


"Lawaaan!!"


"Diam atau lawan??"


"Lawaaan!!"


"Yang mau melawan angkat tangan kirinya!"


Ribuan tinju kembali mengepal ke udara.


"Hidup Buruuh!!" teriak Iqbasevic sepenuh hati.


"Hiduuuuup!!!"


Yel-yel terdengar kembali bersahut-sahutan. Mereka bertepuk tangan dengan gelora semangat yang menyala-nyala.


Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara helikopter yang entah kapan sudah ada di udara. Banyak sekali. Suara teriakan tadi berganti dengan gemuruh suara baling-baling yang memekakkan telinga.


"Atas nama undang-undang Protokol kesehatan, anda semua kami bubarkan!." Terdengar suara dari salah satu helikopter yang mempunyai pengeras suara.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Tembaak!!"


DHUARRR! DHUERRR! DHOORR!


Tanpa menunggu lagi, lusinan granat dilemparkan ke arah massa. Granat berisi gas air mata. Massa berhamburan! Berlarian ke sana ke mari.


Suasana bergelora namun tertib tadi berubah menjadi kepanikan luar biasa. Semua orang menyelamatkan diri masing-masing dari serangan gas yang memerihkan mata itu. Semua kalang kabut. Teriakan panik massa perempuan terdengar di mana-mana.


Brutal! 


Fatur sendiri mencoba ikut menghindar. Sekilas ia sempat melihat ke arah pabrik. Nampak rombongan manajemen perusahaan berkumpul di depan lobby. Ia melihat si presdir tersenyum-senyum puas. Beda sekali sikapnya dengan terakhir kali ia lihat di ruangan tadi.


Pak Kurniawan terlihat bertolak pinggang dengan pongah, mulutnya tertawa. Ranto dan Narsih bertepuk tangan dengan gembira. Bahkan Narsih malah memperagakan tarian Tiktok saking senangnya.


Ia lihat juga seseorang dengan jenggot panjang melambai hingga perut. Sedang bersedekap, mulutnya menyeringai licik.


Dasar bangke! Fatur hanya bisa mengutuk dalam hati dan tak sempat memperhatikan lebih lanjut karena ia terkena asap tepat saat sebutir granat meledak di depannya. Asap langsung menyerang panca inderanya. Mata, hidung mulutnya dimasuki asap yang terpaksa ia hirup.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Sesak dadanya. Nafasnya timbul tenggelam. Fatur terjatuh, ia tersandung entah apa karena matanya tak bisa ia buka saking perihnya. Tangannya menggapai siapa saja yang lewat di depannya. Namun tak mengenai seorangpun. Semakin lama, ia semakin tak bisa bernafas. Paru-parunya terkunci. Ia megap-megap!


Lalu seseorang menepuk pundaknya. Fatur masih tak mampu sadar. Orang itu mulai mengguncang tubuhnya dengan keras.


"Mas ..! Mas ...! Bangun! Istighfar, Mas!"


Sayup ia mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Semangatnya kembali muncul. Sekuat tenaga ia membuka matanya. Dan pertama yang ia lihat adalah Nikita! Istri yang dicintainya! Lalu ia memperhatikan sekeliling.Ternyata Ia berada di kamarnya sendiri!


Ya ampun! Ternyata itu semua hanya mimpi!

Mimpi indah yang berakhir buruk!


Fatur mengucapkan Istighfar berkali-kali. Badannya basah oleh peluh. Nikita memeluknya dengan kasih sayang mendalam terhadap suaminya.


Fatur hanya termangu.


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 6)

Judul asli: CERITA HALU 6. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 Maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi #StopPHKsepihak 


comments

Lebih baru Lebih lama