Kebiasaan Yang Menghambat Kecerdasan Emosional Alami (2)

Kebiasaan Yang Menghambat Kecerdasan Emosional Alami

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul: Kebiasaan Yang Menghambat Kecerdasan Emosional Alami. Kalau belum baca klik saja judulnya dan baca lebih dahulu agar nyambung :)

Setelah pada artikel sebelumnya baru membahas 2 kebiasaan buruk: 1. Selalu mengkritik orang lain, 2. Terlalu mengkhawatirkan masa depan, maka kali ini kita bahas kebiasaan buruk nomor 3 dan 4 yang dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional alami kita.

Apa saja 2 kebiasaan buruk yang menghalangi peningkatan kecerdasan emosional?

1. Merenungkan Masa Lalu

Terlalu banyak merenungkan kesalahan masa lalu adalah upaya pengendalian yang salah arah. Seperti manusia pada umumnya, kita menginginkan ketertiban dan kepastian, kita juga mendambakan keterkendalian atau pengaruh. Kita terobsesi dengan gagasan bahwa, dengan upaya dan ketekunan yang cukup, kita dapat melakukan atau mencapai apa pun.

Ya pastinya kebanyakan orang yang terlalu merenung tanpa henti tentang kesalahan dan kegagalan di masa lalu tidak benar-benar percaya bahwa mereka dapat mengubah masa lalu. Akan tetapi, merenungkan masa lalu memberi mereka ilusi kontrol seakan dapat mengendalikan masa lalu, betapapun singkatnya dan sementara ilusi tersebut.

Ketika kita melakukan sesuatu yang buruk atau membuat kesalahan di masa lalu, kita secara alami merasa bersalah dan menyesal. Merenungkannya terlalu berlebihan akan mengembangkan kebiasaan bawah sadar untuk kembali mengulangi kesalahan masa lalu karena secara samar akan memberikan kita perasaan memegang kendali. Dan perasaan bahwa kita dapat mengendalikan ini membantu kita mengalihkan perhatian dari perasaan tidak berdaya - perasaan yang kita rasakan di masa lalu saat melakukan kesalahan itu.

Pada kenyataannya, tidak ada satu pun renungan atau analisis kesalahan masa lalu yang akan dapat mengubah apa yang terjadi. Artinya, ketidakberdayaan dan kesalahan itu sudah terjadi dan tidak bisa dihindari lagi.


Jika ingin melanjutkan hidup, daripada tetap terjebak di masa lalu, kita seharusnya menerima masa lalu apa adanya — termasuk pahit getirnya

Ini adalah kenyataan pahit kehidupan yang tidak hanya dimengerti, tetapi juga diterima dengan lapang dada oleh orang-orang yang cerdas secara emosional. Jika ingin melanjutkan hidup, daripada tetap terjebak di masa lalu, kita seharusnya menerima masa lalu apa adanya — termasuk pahit getirnya.

Kita harus berusaha melepaskan keterikatan kita dengan masa lalu dan merenungkannya sekadar saja, abaikan godaan untuk terlalu sering merenungkannya, abaikan ilusi bahwa hal itu akan menyembuhkan kita dari rasa sesal.

Jika ragu, mengapa kita tidak melakukan tindakan di masa sekarang daripada memikirkan masa lalu?. Lakukan sesuatu yang bermanfaat, saat ini, sekecil apa pun - dan tahan godaan untuk mengulang kejadian  dari masa lalu. Jangan tukar kendali atas masa depan kita dengan berpura-pura kita dapat mengendalikan masa lalu.


Kebiasaan Yang Menghambat Kecerdasan Emosional Alami

2. Mempertahankan Harapan yang Tidak Realistis


Harapan yang tidak realistis adalah upaya kontrol salah arah untuk mengendalikan orang lain. Mirip dengan  merenungi masa lalu yang adalah upaya untuk mengendalikan masa lalu dan bagaimana perasaan kita tentang hal itu, maka mempertahankan harapan yang tidak realistis biasanya merupakan upaya halus untuk mengendalikan orang lain.

Tentu saja, sebagian besar orang dengan harapan yang tidak realistis itu tidak menyadari hal ini. Kita mungkin melihat harapan kita terhadap orang lain sebagai hal yang baik: Memiliki harapan yang tinggi untuk seseorang akan mendorong orang tersebut untuk tumbuh dan menjadi matang serta menjadi versi terbaik dari diri mereka!

Mungkin, tetapi akuilah bahwa itu sebuah bentuk kontrol meskipun halus. Kita memiliki gagasan tentang apa yang seharusnya dilakukan atau dicapai oleh orang lain dalam hidupnya, dan kita meyakini harapan yang kita miliki adalah sesuatu yang akan membantu orang tersebut untuk mewujudkannya.

Apa maksud mempertahankan harapan yang tidak realistis?


Sederhananya, itu berarti kita menghabiskan waktu membuat skenario di kepala tentang apa yang harus dilakukan oleh orang lain. Dan saat orang lain tidak memenuhi skenario itu, kita secara refleks membandingkan kenyataan dengan harapan itu dengan perasaan frustrasi dan kecewa.

Lalu bagaimana kita merespon rasa frustrasi dan kekecewaan ini? Biasanya dengan menciptakan skenario atau harapan yang lebih kuat dan lebih rumit lagi, karena itu akan membuat kita merasa nyaman karena mampu mengimbangi rasa kehilangan kontrol!

Baiklah, tentu saja kita peduli dengan orang-orang terdekat dalam hidup kita dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Dan itu akan membuat kita tidak enak untuk melihat mereka gagal dalam berjuang atau menderita. Karenanya, ketika kita membuat skenario cerita tentang mereka bisa berhasil dan melakukan yang lebih baik sesuai harapan kita, maka kita akan merasa lebih baik.


Kita sebenarnya tidak akan pernah benar-benar bisa mengendalikan kehidupan orang lain

Masalahnya adalah, kita sebenarnya tidak akan pernah benar-benar bisa mengendalikan kehidupan orang lain, bahkan untuk menjadi lebih baik versi kita. Ini artinya kita menciptakan lingkaran setan terus-menerus berupa skenario harapan setinggi langit dan jurang kekecewaan dan frustrasi yang serius.

Terlebih lagi, ketika pada akhirnya upaya kita untuk mengendalikan mulai dirasakan oleh mereka dan mereka berontak. Jika itu berlangsung cukup lama, mereka bahkan dapat bertindak kontraproduktif yang bertentangan dengan harapan kita hanya karena ingin menunjukkan eksistensi mereka!

Maka berhentilah membuat skenario tentang apa yang kita inginkan untuk orang lain. Lepaskan harapan kita itu dan sebagai gantinya, hadirlah untuk mereka dengan cara:
Kuatkan dan motivasi perjuangan mereka saat ini daripada melamun tentang kesuksesan masa depan mereka.

Terima keterbatasan nyata pada mereka daripada mengharapkan kesempurnaan.
Temui mereka di "tempat mereka sekarang ada" dan bukan di "tempat yang kita inginkan mereka ada". Tetap miliki harapan baik tetapi lepaskan perkiraan-perkiraan kita.

Yang Perlu Kita Ketahui

Jika Anda ingin meningkatkan kecerdasan emosional Anda, cobalah mendekati masalahnya: Alih-alih mencoba meningkatkan keterampilan kecerdasan emosional Anda, berusahalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kebiasaan yang mengganggu kecerdasan emosional alami Anda.

Berhentilah mengkritik orang lain.
Berhentilah mengkhawatirkan masa depan.
Berhenti merenungkan masa lalu.
Berhenti berharap terlalu banyak dari orang lain.

________________

Artikel ini adalah artikel terjemahan dari https://medium.com/personal-growth/4-things-emotionally-intelligent-people-dont-do-24ea6ea53992 


komentar

Lebih baru Lebih lama