KAMPUNG LAWAS MASPATI, Wisata Sejarah di Kampung Kreatif Kota Surabaya

KAMPUNG LAWAS MASPATI, Wisata Sejarah di Kampung Kreatif Kota Surabaya
Belakangan ini masyarakat umum mulai menyadari dampak buruk dari pariwisata yang mengandalkan pemandangan alam. Berita akan ditutupnya Taman Nasional Komodo sebenarnya sudah didahului berita rusaknya terumbu karang akibat vandalisme, pantai di Bali yang tercemar sampah dan terbakarnya salah satu bukit  di NTB akibat kembang api wisatawan.

Kejadian-kejadian yang patut disesalkan itu menggugah banyak pihak untuk menciptakan berbagai destinasi wisata alternatif yang ramah lingkungan. Syukurlah, destinasi pariwisata baru terus bermunculan dengan konsep yang berbeda, konsep wisata sejarah dan budaya misalnya. 

Selain  wisata sejarah di Kota Tua Jakarta dan Lawang Sewu Semarang, Kota Surabaya juga banyak sekali memiliki destinasi wisata sejarah, salah satunya yang baru diperkenalkan adalah KAMPUNG LAWAS MASPATI.

KAMPUNG LAWAS MASPATI diresmikan sebagai kampung wisata pada Minggu (24/1/2016), dihadiri Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan pihak PT Pelabuhan Indonesia III. Kampung Lawas Maspati merupakan wilayah Program Bina Lingkungan dan Kemitraan PT Pelindo III.
KAMPUNG LAWAS MASPATI, Wisata Sejarah di Kampung Kreatif Kota Surabaya

KAMPUNG LAWAS MASPATI

Kampung Lawas Maspati adalah destinasi wisata budaya dengan konsep "kampung wisata", namun juga menjadi obyek wisata sejarah karena memiliki banyak bangunan bersejarah yang masih terawat baik, seperti rumah bekas kediaman Raden Sumomiharjo (keturunan Keraton Solo yang menjadi mantri kesehatan di Kampung Maspati), Sekolah Ongko Loro yang merupakan bekas Sekolah Rakyat, dan bangunan kuno bekas markas tentara yang dibangun pada tahun 1907. 

Di kampung ini juga ada makam pasangan suami istri Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Mereka adalah kakek dan nenek dari Joko Berek atau Sawunggaling yang merupakan pahlawan besar di Kota Surabaya.

Selain memiliki bangunan bersejarah, Kampung Lawas Maspati juga mengemas kegiatan warganya sebagai komoditas wisata edukatif, seperti proses daur ulang sampah dan proses mengolah air limbah serta urban farming. Kita juga dapat belajar membuat sirup markisa atau minuman cincau yang merupakan produk unggulan di Kampung Lawas Maspati. 

Untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung, warga telah membuat peta alur perjalanan wisata yang dimulai dari titik masuk dari Jalan Semarang dan keluar di Jalan Bubutan, dekat Monumen Tugu Pahlawan. Wisatawan dapat menyusuri gang-gang di Kampung Lawas Maspati dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana wisata kampung yang terus dirawat oleh masyarakat setempat.
KAMPUNG LAWAS MASPATI, Wisata Sejarah di Kampung Kreatif Kota Surabaya

PROFIL KAMPUNG LAWAS MASPATI

Dari segi demografi, Kampung Lawas Maspati terdiri dari 6 RT yang dihuni oleh 350 keluarga atau 1.350 jiwa, 20 persen warganya merupakan anak muda. Sejak diresmikan pada tahun 2016, sudah banyak wisatawan dari luar negeri yang datang ke Kampung Lawas Maspati seperti dari Belanda, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Mereka biasanya tamu Pemerintah Kota Surabaya yang sedang berkegiatan di Surabaya. Tamu dari dalam negeri sebagian besar adalah mahasiswa di Surabaya. 

Kampung Lawas Maspati memiliki 6 gang yang cukup besar, rata-rata sekitar 3 meter lebarnya. Masing-masing gang memiliki produk unggulan yang disediakan untuk wisatawan. Gang 1 memiliki produk unggulan berupa cincau, gang 2 menghasilkan lidah buaya, gang 3 khusus menanam jahe merah, gang 4 menanam pohon belimbing, gang 5 khusus home industri, dan gang 6 mengembangkan produk olahan khas dari markisa.

Budaya dan tradisi mainan anak kampung juga terus dirawat dan dikemas lebih modern hingga menarik, seperti engkle, gobak sodor, dakon, nekeran dan permainan tradisional semacamnya. Tak ketinggalan tradisi dan budaya berpakaian ala orang kampung, seperti memakai slempang sarung dan udeng, dijadikan seragam bersama untuk waktu-waktu tertentu. Terutama saat menggelar Festival kampung Lawas Maspati pada bulan Mei setiap tahunnya.
KAMPUNG LAWAS MASPATI, Wisata Sejarah di Kampung Kreatif Kota Surabaya
Foto Twitter @banggasurabaya 
Di sini juga telah tersedia penginapan kampung untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana menginap di Kampung Lawas Maspati. Bahkan ada penginapan kampung ala homestay dan rumah yang disediakan bagi wisatawan yang ingin menginap di Kampung Lawas Maspati dengan harga yang bervariatif.

Soal tiket masuk wisata Kampung Sejarah Kampung Lawas Maspati, ada 4 jenis tiket yang disediakan tergantung paket yang diinginkan. Untuk paket termurah dengan didampingi tour guide yang akan menemani dan memberikan penjelasan tentang seluk beluk Kampung Lawas Maspati tersedia paket II seharga Rp. 15.000 (minimal 10 orang). Paket I tidak akan ditemani tour guide dengan harga tiket Rp.5000 (minimal 5 orang). Beneran murah kan tiketnya?

Saat yang tepat untuk mengunjungi Kampung Lawas Maspati adalah bulan Mei. Pada bulan Mei akan digelar Festival Kampung Lawas Maspati, yang dilaksanakan selama 1 hari penuh dengan menyuguhkan banyak keunikan wisata tengah kota ini, termasuk wisata kuliner

Melalui Festival Kampung Lawas Maspati ini kita akan diperkenalkan suasana Surabaya tempoe doeloe dengan sajian berbagai bazar makanan, souvenir, lomba permainan tradisional dan hiburan lawas. Kuliner khas asli Kota Pahlawan juga akan tersaji lengkap pada acara tersebut, seperti kue Rangin, Semanggi hingga Arum Manis yang biasa dijajakan oleh pedagang dengan memainkan biola

Sayangnya belum ada informasi kapan tepatnya acara Festival Kampung Lawas Maspati 2019 akan digelar. Kemungkinan besar awal bulan Mei karena bertepatan dengan masuknya awal bulan Ramadhan (bulan puasa).

PegiPegi Tiket Pesawat Murah Ke Surabaya

TIKET PESAWAT MURAH KE SURABAYA

Jika informasi Festival Kampung Lawas Maspati 2019 telah diumumkan, kita dapat segera mengatur jadwal perjalanan ke Surabaya. Mengatur jadwal keberangkatan dan booking tiket pesawat ke Surabaya sudah bukan masalah rumit, kita bisa memantau harga tiket pesawat murah di web atau aplikasi PegiPegi dengan tampilan yang sederhana dan mudah dipahami.

Tinggal tentukan bandara keberangkatan dan tujuan lalu pilih tanggal keberangkatan yang diinginkan, voila! harga tiket pesawat murah sampai mahal dari berbagai maskapai sudah tertera lengkap dengan jadwal jam keberangkatan - perkiraan tiba, durasi penerbangan dilengkapi keterangan transit, fasilitas bagasi dan harganya.

PegiPegi Tiket Pesawat Murah Ke Surabaya
Selain melalui web PegiPegi, kita juga bisa instal aplikasinya agar lebih mudah memantau harga tiket murah ke Surabaya dan kota lainnya. Aplikasi PegiPegi ini selain ringan dan tanpa iklan, kita juga bisa mencoba menu Promo Bulanan untuk melihat kemungkinan adanya tiket pesawat murah yang pas dengan jadwal keberangkatan. Bisa juga dilihat dari hasil list pencarian, di mana harga promo akan ditandai dengan tag "promo" sehingga memudahkan kita membandingkan list harga untuk mencari tiket pesawat paling murah yang tersedia.

Nah, kalau kita sudah tiba di Surabaya, maka dari Bandara ke Kampung Lawas Maspati yang berjarak sekitar 20 KM ini dapat dicapai menggunakan travel ke arah Stasiun Kereta Pasar Turi. Letak Kampung Lawas Maspati tidak terlalu jauh dari Stasiun Kereta Pasar Turi.

Begitu memasuki KAMPUNG LAWAS MASPATI maka kita akan menemukan banyak spot foto unik yang Instagramable. Juga sambutan ramah warga kepada pengunjung yang memperlihatkan kesadaran akan pentingnya kenyamanan para tamu yang datang untuk menikmati suasana Surabaya Tempoe Doeloe.

Masih banyak orang yang belum tahu destinasi wisata tengah kota ini. Jika sudah mengunjunginya, bersiaplah menjawab rasa penasaran banyak orang.

Selamat berlibur, jangan lupa piknik :)



Artikel ini memiliki 43 Komentar

  1. Kalau ke Surabaya lagi, saya harus ke kampung ini. Full colour, dan tentu membantu lini perekonomian masyarakatnya. Benar yang ditulis Om, bahwa wisata alam semakin rusak karena ulah wisatawan itu sendiri... Mereka tidak memikirkan dampak tingkah laku mereka di lokasi wisata alam ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh, wisata budaya, wisata edukasi, wisata sejarah dll juga asik kok, wisata alam memang tidak tergantikan tapi minimal kalo ada alternatif jadi lebih banyak pilihan ☕😁🙏

      Hapus
  2. Namanya kampung lawas tapi didalamnya lebih dari lawas sy liat, bnyk anak muda kreatif dan keren2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, pemudanya kreatif warganya juga kompak, semoga makin banyak wisata kampung seperti ini 😁☕

      Hapus
  3. Mantap sekali ya konsep kmpung lawas maspati ini. Selain dihias full colour juga dibuat jadi wisata edukasi dan sejarah pula. Bisa jadi contoh buat kampung-kampung yang lain juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, inspiratif dan sepertinya juga konsepnya bisa dicontoh oleh kampung lain, semoga aja jadi banyak kampung kreatif dimana-mana :)

      Hapus
  4. konsepnya saya suka, konsep lawas
    cuma terus terang yang agak mengganggu buat saya itu tulisan besar-besar di atas paving block hahaha. soal selera sih, tapi menurutku jadi mengganggu kelawasan dari kampung ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya soal tulisan-tulisan dandwarna warni itu masuk dalam kategori destinasi wisata digital yang utamanya "Instagramable" ☺️ sepertinya untuk menarik wisatawan milenial daeng, buat yang fokus pada wisata budaya dan sejarah memang hal seperti itu tidak menarik ☺️☕

      Hapus
  5. om.. tolong teruskan postingan ini ke Walikota Makassar biar bisa kembangkan yang serupa ini. tidak sekadar lorong garden :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😁 memang sih kalau membuat wisata seperti ini bukan cuma memoles tempatnya tapi warga di sekitar itu juga penting untuk dipoles, itu yang susah daeng 🙏☕

      Hapus
  6. Keren juga yah idenya. Saya suka warna2 yang digunakan di kampung ini, menurut saya sangat kreatif perpaduan warnanya. ))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya melibatkan talent talent muda kreatif untuk melukis, menggambar dan mewarnai supaya gak asal berwarna 😁🙏

      Hapus
  7. Kampung Lawas Maspati, sedemikian berdayanya mi warganya, dih sampai bisa jadi wisata kampung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang susah ditiru, kesadaran warganya untuk menjaga kampung dan akomodatif saat menerima tamu. Perlu proses panjang sepertinya untuk mempersiapkan

      Hapus
  8. Kesadaran untuk menciptakan kampung wisata ini adalah wujud kreatifitas dengan memanfaatkan yang ada disekitar kita. Yang kemudian dampaknya kembali ke kita semua terutama penduduk yang bermukim disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar daeng, wisata seperti ini mudah-mudahan akan lebih banyak lagi, tidak melulu mengeksploitasi alam

      Hapus
  9. Cakep banget kampungnya bikin pengen ootd wkwkwk. Sama kayak waktu ke Malang ada Jodiphan, duh sepanjang jalan aku kerjaannya foto sana sini hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pose Outfit Of The Day (OOTD) seperti apa nih kak? 😁 Ke depan mungkin akan semakin banyak destinasi wisata kampung, siapa yang tidak bangga kalau kampungnya dipuji dan disukai banyak orang ☺️🙏

      Hapus
  10. Mantap Kampungnya..Kampung yang penuh karya seni super keren..ngak salah lagi kalau dinobatkan sebagai kampung wisata..sukses Buat penduduk Kampung Lawas Maspati..Terus berkarya membangun kampung halaman..

    Hopefully, di Makassar juga akan ada seperti ini, (daydream).zzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa enggak kak, di Makassar juga pasti bisa, tapi memang harus ada campur tangan otoritas dan permodalan supaya prosesnya lebih cepat hahaha, semoga ada yah di Makassar 🙏

      Hapus
  11. Keren kampungnya kak. Kalau misalnya kita ke sini, kira-kira makanan dan minumannya kisaran berapa kak? Siapa tahu ada rejeki ke sini jadi bisa dibudgetkan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sedang festival kampung memang bisa sekalian wisata kuliner, saya kira gak akan mahal karena mereka lebih mengutamakan promosi wisata kampungnya kak. Belum punya daftar harga makanannya jadi gak tau pastinya berapaan 🙏☺️

      Hapus
  12. Ide kampung wisata itu keren banget, tapi butuh kekompakkan dam kesadaran masyarakat untuk terus menjaga kelestarian kampungnya, sukses selalu 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya keren, kreatif dan bersahabat dengan alam, masyarakat juga terlibat :)

      Hapus
  13. Halooo om Bisot, apa kabar :) ?

    Membaca awal kalimat, rasanya ikut miris tau betapa cerobohnya wisatawan tak menjaga kelestarian alam di lokasi yang dia kunjungi.

    Semestinya penerapan sanksi tegas betul-betul diberlakukan, bukan cuma sebatas lisan.


    Tentang kampung Lawas Maspati ini ..., whuaaaa ..., nyariiiis mirip dengan lokasi kampung Mural di Salatiga.
    Baik warna-warninya, juga melibatkan pemberdayaan ekonomi warganya.

    Ketje banget !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya semakin berkembang dan semakin banyak kampung yang mengadopsi konsep wisata kampung di berbagai daerah :)

      Soal hukum harusnya ada ketegasan dan sosialisasi yang lebih intens untuk menjaga lingkungan mas :)

      Makasih dah mampir

      Hapus
  14. asli, keren bgt tuh lukisan grafiti di tembok2nya.. :D skrg lg musim ya tembok2 pada dilukisin, dikampungku juga ada..

    BalasHapus
    Balasan
    1. buat photo booth instagramable katanya sih kak :)

      Hapus
    2. oh gitu ya, maklum ane gak punya IG, hehe

      Hapus
  15. ya ampun aku baru tahu kalau di Surabaya juga ada kampung lawas maspati, duh noted banget nih kl ke Surabaya lagi.. Tiket masuknya juga murah, jd pengen nyobain homestaynya juga nih mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kak semangat eksplore destinasi wisata nusantara yang banyak banget :)

      Hapus
    2. ajakiiin kak, ajakiinnn.. eheheh

      Hapus
    3. Terbalikkkkk saya yang minta diajak hahaha

      Hapus
  16. Yg terakhir kok berasa banget ya, jangan lupa piknik, wkwkwk
    ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya biar semangat piknik, gak jauh gapapa yang penting hepi :)

      Hapus
  17. Keren yah.. penuh warna warni. spot poto yang ok punya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, masih banyak spotnya tapi males upload fotonya hehehe

      Hapus
    2. lanjutkan artikelnya dong :)

      Hapus
    3. :D itu aja udah panjang banget mas, takut kepanjangan hehehe

      Hapus
  18. Semakin banyak tempat wisata di Surabaya, ya. Jadi pengin jalan-jalan ke sana lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nunggu sharing cerita jalan-jalannya ah :)

      Hapus