"Mencoba Ada Perpustakaan" ala Perkabu Kaliabang


"Biarkanlah dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai." ~ Rumi.

Tidak ada yang istimewa dari "Perpustakaan Kampung Baru" atau yang disingkat PERKABU di Kaliabang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Dalam ruangan yang dihiasi berbagai sticker itu, terdapat koleksi buku seadanya dengan beragam topik dan genre bercampur dalam susunan yang rapih di beberapa lemari buku, sepertinya semua buku adalah hasil donasi jaringan penyumbang buku di Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Bekasi.

Di jendela depannya tertempel stiker kontras berlatar merah dengan tulisan "MENCOBA ADA PERPUSTAKAAN". Sebuah pengumuman jujur dan sederhana untuk menjelaskan apa yang ada di PERKABU.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Penggiat atau pengurus PERKABU ini gak lain adalah si pemilik akun Facebook: "Bayu Nggak Penting". Pria sederhana yang tidak mudah mengorek keterangan apapun darinya.

"Sedih itu bila dinilai baik, padahal belum bisa berbuat baik," ungkap Bayu menggambarkan kegelisahan dan kekhawatiran akan publikasi yang tidak proporsional pada diri dan aktivitasnya.

Selasa, 25 Desember 2018 siang, saya dan beberapa teman berkunjung ke PERKABU sekadar silaturahim dan menunaikan beberapa kepentingan. Sempat bingung juga masuk ke dalam Jalan Haji Hamdani, karena ini kali kedua saya datang, agak lupa di mana pastinya lokasi Perkabu ini.
Diaz SAJUBU
Diaz SAJUBU
Diaz mengantarkan buku donasi dari komunitas Sajubu (satu Juta Buku) yang diketuainya, Meita dan Alan hendak mengantarkan sebuah buku kompilasi di mana Bayu menjadi salah satu kontributor dalam buku terbitan Jabaraca berjudul Lentera. 

Sedangkan saya? Seperti biasa, sok sibuk motret segala macam dan sotoy mendefinisikan hal-hal yang sudah jelas dan gak perlu didefinisikan lagi, modus andalan untuk menutupi niat numpang ngopi.

Sekitar 8 anak di bawah umur kemungkinan masih usia SD berkunjung untuk mewarnai dan bermain di Perkabu. Bayu sedikit terselamatkan dan meninggalkan saya yang sudah ngerepotin dirinya demi segelas kopi pahit.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Di pos samping rumah ini juga sudah berkumpul sekitar 7 anak usia SMP yang meminta Bayu mengajak mereka melakukan "Kuis Cerdas" seperti yang biasa mereka mainkan, semacam cerdas cermat ala Perkabu. Belakangan datang seorang perempuan bernama Tika yang membantu Bayu dalam menangani anak-anak remaja super aktif tersebut.

Datang juga Endra menambah seru obrolan  kami di siang itu, khususnya saat Diaz bertanya, "Apa kata yang sering membersamai kata selat?." Rupanya Diaz sedang mencari inspirasi untuk membuat poster kegiatan komunitasnya terkait pasca tsunami Selat Sunda.

Kata "membersamai" ini mungkin lebih tepat kalau diganti dengan "menyertai" atau "mambarengi". Tanya Ivan Lanin aja, yang pasti kata dia "membersamai" ini tidak ada di KBBI, cari aja di twitter-nya 😁☕.

Gak terasa sudah sekitar 4 jam saya ngerecokin aktivitas sang pemilik distro "Suckit Stuff" yang menjual berbagai merchandise "under ground" ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Kuis Cerdas ala Perkabu
Tidak ada yang istimewa di sini. Anak muda yang peduli dengan pendidikan anak-anak lingkungannya melakukan hal biasa, rela menyediakan ruang rumahnya sebagai tempat beraktivitas bagi anak-anak tetangganya. Semua orang juga mungkin bisa melakukan apa yang Bayu lakukan, tapi yang pasti gak semua orang mau melakukannya.

Jangan berharap Bayu akan senang hati menjelaskan apa yang dia lakukan untuk saya publikasikan. Mendapati saya bertanya macam-macam saja dia menjadi kurang nyaman, sama kurang nyamannya jika saya dipaksa menjelaskan apa-apa yang saya lakukan.

Menuruti kata hati itu menyenangkan dan membahagiakan, sampai saat ada orang yang bertanya macam-macam tentang apa yang kita lakukan itu. Tidak semua minat dan passion bisa dijelaskan dengan kalimat yang sederhana, apalagi untuk dipahami dengan mudah. Toh selama bermanfaat dan tidak merugikan orang lain, yah biarkan saja, sepakat?.

Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.

Di Perkabu tidak ada hal-hal istimewa yang bisa kita harapkan, tapi coba tanyakan pada anak-anak yang riang bermain, membaca, mewarnai, bermain kuis cerdas dst.

Mereka mungkin tidak dapat menjawab dengan sempurna apa pertanyaan kita, tapi kedatangan mereka ke PERKABU membuktikan mereka lebih memprioritaskan untuk datang ke Perkabu daripada pilihan lain untuk menghabiskan waktu mereka.

Anak-anak masih jujur dan polos, mereka datang bukan karena kepentingan macam-macam, kalau mereka mau, mereka dapat menggunakan waktu mereka bermain di tempat lain, tapi ternyata mereka memilih bermain di Perkabu bersama teman-temannya yang lain.

Hal itu cukup bagi saya untuk menjelaskan bahwa apa yang tidak istimewa dan biasa-biasa saja bagi kita, mungkin bagi orang lain merupakan sesuatu yang istimewa dan pantas untuk diprioritaskan dibanding dengan yang lain.

Jadi, lakukan saja hal-hal yang menurut kita biasa dan tidak istimewa, selama itu berguna bagi orang lain, mungkin juga itu akan menjadi istimewa buat orang lain.

Tetap semangat Perkabu  🙏😁☕






Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Aktivitas yang harus dicontoh. Mencoba ada perpustakaan, Perpustakaan Kampung Baru ini punya daya ungkit yang kuat demi kebaikan anak-anak/remaja di sekitarnya. Tinggal bukunya lebih diperbanyak. Blogger Hibah Buku masih berjalan mungkin ya Om?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diaz itu gangnya Kanaz :D Blogger Hibah Buku gak tau deh masih berjalan atau enggak, kurang update saya nih :) Perkabu ini keren sih jadi ada wahana bermain anak-anak di sekitar situ. :)

      Hapus