Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpusjal Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena interaksi adalah kewajiban di sini.

Perpusjal Bekasi

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya sebagai nara sumber). 😆

Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Perpusjal Bekasi

Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Klik untuk komentar