Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir
Setiap menjelang Idulfitri, daerah-daerah pesisir utara Kabupaten Bekasi seperti wilayah Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Muaragembong dan sekitarnya memiliki banyak tradisi kebudayaan yang masih dilestarikan oleh penduduknya hingga saat ini.

Salah satu tradisi itu yaitu Tradisi Pasar Bandeng yang selalu hadir pada saat warga pesisir Bekasi menyambut hari raya Idulfitri. Tradisi ini juga berdampak pada kemajuan perekonomian masyarakat pesisir dan sekitarnya yang banyak terdapat tambak ikan bandeng dan lain-lain.

Ikan bandeng

Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Menurut Wikipedia, ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam suku Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai Ikan Bolu, dan dalam bahasa Inggris disebut Milkfish.

Bandeng disukai karena rasanya yang gurih, rasa daging netral (tidak asin seperti ikan laut) dan tidak mudah hancur jika dimasak. Dari sisi harga, bandeng termasuk ikan kelas menengah ke atas. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, hidangan bandeng menjadi bagian tradisi wajib bagi warga Tionghoa asli Jakarta dan sekitarnya. Kelemahan bandeng ada dua: dagingnya 'berduri' dan kadang-kadang berbau 'lumpur'/'tanah'.

Ada Apa Dengan Bandeng?

Silvita Agmasari dalam Kompas Travel menulis sebuah artikel berjudul: "Makan Bandeng Saat Imlek, Hanya Ada di Tradisi Tionghoa Indonesia". Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa keterkaitan Bandeng dengan Imlek tidak sepenuhnya benar, karena "makan ikan bandeng pada Hari Imlek hanya merupakan ciri khas masyarakat etnis Tionghoa di Pulau Jawa." mengutip pernyataan Ketua Program Studi China Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami saat dihubungi KompasTravel, Kamis (8/2/2018).

Dalam artikel tersebut juga disebut bahwa, dalam buku "Saudagar Baghdad dari Betawi" karya Alwi Shahab menengarai, kehadiran bandeng yang menjadi salah satu tradisi Imlek di kawasan Jabodetabek merupakan perpaduan budaya China dan Betawi. Sebab selain Tionghoa, Betawi juga memiliki tradisi yang menggunakan bandeng. Bedanya dalam tradisi Betawi, ikan bandeng mentah dan segar menjadi antaran calon mantu ke mertuanya. Di buku tersebut, dijelaskan bahwa ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan.

Konon ikan bandeng juga menjadi salah satu item wajib saat tradisi nyorog. Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi dalam menyambut bulan Ramadan dan lebaran, dalam tradisi ini yang muda bersilaturahim sambil memberikan hantaran berupa makanan matang atau mentah kepada yang lebih tua sepeti orang tua, mertua, enkong, uwak, encang-encing, abang dan seterusnya. 

Pendapat Alwi Shahab menurut saya cukup beralasan karena selain menjadi tradisi masyarakat pesisir Jakarta dan Bekasi ternyata Pasar Bandeng juga dikenal baik oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Gresik Jawa Timur. Tradisi Pasar Bandeng di Gresik ini dipercaya oleh masyarakat sebagai warisan tradisi dari Sunan Giri (1442-1506 M). Sunan Giri atau Raden Paku adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. 
Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Kira-kira sekitar abad ke 15 masehi, Sunan Giri membantu perekonomian masyarakat pesisir Gresik dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi dan hasil laut mereka. Salah satunya dengan menciptakan pasar bandeng di pusat kota sehingga berdampak positif bagi kemandirian ekonomi masyarakat Gresik, nelayan pesisir khususnya.

Tradisi ini hingga kini masih dijaga oleh Pemerintah Kabupaten Gresik. Hampir 3 km jalan di Gresik mulai dari Jalan Samanhudi, Jalan Gubenur Suryo, Jalan Raden Santri, dan Jalan Basuki Rachmat dipenuhi oleh pedagang, Pasar Bandeng di Gresik pada momen ini menjelma menjadi pasar ikan terpanjang di Indonesia.

Kapan Waktu Pasar Bandeng?

Di Gresik, Pasar Bandeng digelar pada malam 27 dan malam 28 Ramadan (H-3 dan H-2) sedangkan di Bekasi digelar pada H-1. 

Dari catatan Bang Ali Anwar sebagaimana dikutip oleh laman Garda Nasional, dikisahkan bahwa pada Hari Selasa Tanggal 29 Ramadhan 1365 Hijriyah atau 27 Agustus 1946 Masehi telah terjadi pertempuran antara Batalyon Infanteri V KNIL atau "Batalyon Andjing NICA" melawan Kompi I Batalion II Hizbullah yang dikomandoi Marzuki Hidayat salah satu Komandan Hizbullah Front Tambelang bersama-sama dengan para pejuang dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Ahmad dan Gozali.

Pertempuran terjadi pada saat Pasar Bandeng di Pasar Kampung Karang Tengah (Saat ini diperkirakan di dekat saluran Banjir Kanal Timur/BKT sekitar Kampung Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi) sehari sebelum perayaan Idulfitri (lebaran saat itu jatuh pada hari Rabu 28 Agustus 1946 / 1 Syawal 1365 H) dengan menimbulkan banyak korban tewas dari pihak Batalyon Anjing NICA.

Dari catatan sejarah itu jelas bahwa di Bekasi, pelaksanaan pasar bandeng adalah H-1 sebelum Idulfitri di pasar umum atau tempat jual beli pada umumnya.

Begitupun menurut salah satu tokoh masyarakat di kampung halaman saya, Bapak Marjuki Lahimsyah, S.Pd menjelaskan bahwa Pasar bandeng itu digelar pada H-1 Idulfitri. Baik di Pasar Babelan maupun Pasar Bojong Baru di Tarumajaya pasar bandeng sama-sama digelar pada H-1 Idulfitri.
"Saya masih ingat saat kecil orang tua saya menjual ayam hanya untuk membeli bandeng, sepertinya saat lebaran ikan bandeng lebih berharga dari ayam dan tanpa bandeng lebaran di kampung serasa kurang komplit." ujar Guru Marjuki sebagaimana saya menyebut beliau.

Kekinian, ada juga masyarakat yang menamakan pagi hari pada momen Pasar Bandeng dengan istilah Pasar Senggol, mungkin karena suasana pengunjung pasar yang berdesakan menyebabkan para pengunjung sering bersenggolan (bersentuhan badan).

Tampaknya istilah Pasar Bandeng ini hanya dikenal oleh masyarakat pesisir Bekasi, salah seorang penggiat sejarah Bekasi, Agah Handoko yang juga aktif dalam komunitas Bekasi Pakidulan menyatakan belum pernah mendengar ada pasar bandeng digelar di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi bagian selatan.

Demikian juga menurut Djaelani, seorang aktivis muda dari Cibarusah Center. Djaelani mengonfirmasi bahwa istilah pasar bandeng tidak dikenal di wilayah Kabupaten Bekasi Pakidulan.
"Tapi untuk tradisi seperti nyorog ke mertua menjelang lebaran tetap ada dengan istilah "nganteuran", ikan bandeng menjadi salah satu item yang sudah seharusnya ada" tambah Djaelani.

Untuk wilayah Muaragembong yang tidak memiliki pasar, Uci Yusuf seorang penggiat lingkungan pesisir menjelaskan bahwa ikan bandeng menjelang lebaran akan bisa didapatkan dari penjual di lapak ikan dan bandar bandeng di pinggir jalan dekat Kantor Kecamatan Muaragembong.
"Ada di bandar bandeng, tapi belanjanya harus pagi-pagi, sekitar jam 7 sampai jam 9, di atas jam itu biasanya bandeng sudah habis dibeli warga" ungkap pengasuh laman online Muaragembong Kita ini.

Kini hidangan bandeng tidak selalu tersedia mentah, banyak pilihan jika kita lebih suka ikan bandeng yang sudah masak dan siap dimakan. Produk olahan ikan bandeng yang terkenal di Bekasi salah satunya adalah Bandeng Rorod produksi Bang Afif Ridwan dan istrinya.

Bandeng Rorod adalah Bandeng Isi Tanpa Duri (Olahan Ikan Bandeng) khas Bekasi, yang mudah dan praktis disajikan Bandeng Rorod tersedia dalam beberapa pilihan, antara lain Rasa Original dan Pedas. 1 Pack isi 1 ikan bandeng dengan sambal yang terpisah, berat bersih 125 gram, halal dengan sertifikasi dari MUI, diproses tanpa bahan pengawet dan tanpa MSG. Menrut Bang Afif, kalau disimpan di Frezer maka Bandeng Rorod dapat tahan sampai 6 bulan. Mau tau lebih banyak tentang Bandeng Rorod? klik bandengrorod.co.id
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Jadi... mari kita ramaikan momen Pasar Bandeng di pesisir Bekasi, jadikan sebuah event tradisi yang bergengsi demi melestarikan tradisi warisan Sunan Giri dan juga demi memajukan ekonomi masyarakat pesisir. Semoga berkah, amiin.

Oh iya, sebagai catatan, bahasan soal pasar bandeng ini tidak ada hubungannya dengan Pasar Bandeng di Karawaci Tangerang Banten.


1 komentar:

avatar

Andaikata di Ende ada Pasar Bandeng yang digelar H-1 Idul Fitri, sudah pasti saya bisa suguhin opor bandeng *dikeplak*. Tapi dibakar juga pasti menggiling lidah. Iya kan Pak Marjuki?

Btw Kalau Pasar Senggol di Ende juga akan tuh, Om hahaha. Tidka perlu menunggu Pasar Bandeng :D Pasca terbakar sekarang pasarnya sudah bagus banget, meskipun masih banyak juga orang yang jualan di depan/parkirannya.

Klik untuk komentar