Al Muntaber (The Prospect) [fiksi plesetan]

Al Muntaber (The Prospect)

Samar di kejauhan tampak kerumunan warga Orphalese mengelilingi Al Muntaber, gagah dan rapih dengan kawalan mastodon dan praja swakarya, bagai senja di jamannya, tampak di belakangnya kegelapan malam mengikutinya, membuat tidur siapapun yang percaya akan kata-katanya.

Semakin dekat saya perhatikan, saya seperti mengenal siapa "sang pembawa gelap" itu. Adipati Al Muntaber.. yang banyak orang hanya mengenal melalui spanduk dan umbul-umbul perusak pemandangan desa, kini ia berkenan menemui rakyat Orphalese. Rakyat yang renta seperti ayam kurus di tengah sawah membentang, sakit pelo di lumbung padi.

Semakin dekat dan ternyata... Al Muntaber yang curang itu adalah saya!

"Jika telah tiba waktuku mengangkat lampu, lampu ini tidak mengeluarkan cahaya karena minyaknya habis. Syukur lah ada pengusaha berbaik budi memberikan sedikit minyaknya, kelak saya akan membalasnya jika saya kembali menjabat sebagai Adipati" katanya membuka sosialisasi terbuka pencalonan dirinya memperebutkan tahta adipati.

Bapak dan ibu yang sangat baik, ini uang 100 kepeng, pilih saya yah nanti pada saat pemilihan adipati. Kandidat adipati nomor 7. Karena 7 lapis langit dan 7 lapis bumi juga mendukung saya.

Bertanya seorang ayah yang tegap badannya namun menatap gamang kehidupan.
Apa yang telah saya jual dari uang 100 kepeng itu?
Dengan 100 kepeng perorang itu saya telah membeli hak-hak bapak ibu sebagai pemilik kadipaten ini.

Maksudnya? Tanya seorang pemuda pemilik masa depan dengan suara bimbang.
Ini beberapa hal yang akan saya beli:
Pertama adalah hak atas infrastruktur yang berkualitas bagus, karena bapak ibu sudah menjualnya, maka wajar jika kalian akan mendapat jalan yang berkualitas buruk, jembatan yang cepat rusak, gedung-gedung yang tidak akan pernah selesai direnovasi dst. Karena dari proyek-proyek fisik inilah saya akan mengembalikan modal biaya-biaya saat saya akan menjadi adipati. Wajar kan?

Yang kedua adalah hak mendapatkan pelayanan administrasi kepemerintahan gratis, seperti membuat KTP, Akta Kelahiran dlsb. Ini juga sudah bapak ibu jual, jadi nanti untuk mendapatkan pelayanan yang seharusnya gratis itu bapak ibu harus membayar, setiap layanan ada harganya tapi tidak ada tanda terimanya, mohon maaf jika bapak ibu tidak bisa membayar maka bapak ibu tidak akan kami layani.

Kemudian hak mendapat lingkungan yang sehat. Maaf jika kali, sungai dan sumur-sumur bapak terkontaminasi limbah, intrusi air laut. Udara dipenuhi polusi dll. Bapak ibu sudah tidak memiliki hak untuk menikmati air bersih, udara segar dll. Hak untuk hidup di lingkungan yang layak dan sehat itu sudah bapak ibu jual ke saya dan saya sudah membelinya. Begitupun hak layanan kesehatan, jaminan kesehatan yang seharusnya gratis karena sudah ada anggaran jaminan kesehatan dari kerajaan juga telah bapak ibu jual. Jika bapak ibu sakit maka nanti harus membayar layanan kesehatan, karena hak itu sudah saya beli.

 Penampakan Kali Sadang Villa Mutiara Jaya, Cibitung, Kabupaten Bekasi

Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak juga sudah bapak ibu jual. Pendidikan yang seharusnya gratis tidak dapat kami berikan kepada bapak ibu, ingat, hak itu sudah bapak ibu jual kepada saya. Program pemerintah untuk wajib belajar sekian tahun akan tetap menjadi kewajiban, bapak ibu semua yang harus menanggung biayanya.
Seharusnya gratis kan? Iya, tapi karena bapak ibu sudah menjual hak suara kepada saya maka terserah saya nantinya akan seperti apa. Kalau di wilayah kadipaten tetangga semua serba gratis dan berkualitas itu mungkin karena mereka tidak menjual suaranya saat pemilihan adipati ini. Bapak ibu dan saudara-saudara semua disini kan sudah menjual suaranya kepada saya.

Seorang ibu menggendong anaknya yang kekurangan gizi maju ke depan dan berkata, "ceritakan kepada kami tentang nafkah"
Selanjutnya saya juga sudah membeli hak untuk mencari nafkah yang layak?. Bapak ibu dan anak-anak bapak ibu sekalian mau bekerja? Bayar dulu, saya saja mau jadi adipati musti membayar kepada bapak ibu, musti membeli suara bapak ibu. Jadi jangan harap saya akan membuat lapangan pekerjaan baru dan memprioritaskan kalian atau anak-anak kalian. Siapa yang bisa membayar itu yang menang, bukan kah demikian alur permainan ini? Lagi pula saya harus membalas budi pada pengusaha yang sudah meminjamkan saya modal. Mereka lebih utama daripada bapak ibu dan saudara-saudara sekalian.

Dan berbagai hak lainnya juga harus bayar, tapi saya akan berbaik hati kok, saya akan tetap berikan beberapa hak dengan gratis, tapi standar pelayanannya akan saya turunkan sehingga pelayanan yang akan bapak ibu terima hanya sekadar layanan minimal. Itupun jika saya berkenan yah. Tentu harus ada timbal balik atas pelayanan gratis yang saya beri atas kemurahan hati saya itu.

Sekali lagi saya ingatkan. Jangan lah saudara-saudara semua bandingkan daerah kita dengan daerah lain yang memiliki pelayanan masyarakat yang bagus-bagus itu yah, ingat semua itu sudah saya beli, kontan!

Yah sekarang ini saya ingin membeli itu semua dari bapak ibu yang baik hati. Ini uang 100 kepeng tembaga agar bapak ibu memilih saya saat pemilihan adipati, apakah bapak ibu rela hak-hak bapak ibu itu semuanya saya beli kontan?

Sampai bertemu kembali 4-5 tahun saat pemilihan mendatang, maaf saya tidak bisa menemui bapak ibu dan saudara-saudara sekalian saat saya menjabat nanti. Tidak ada untungnya buat saya menemui saudara-saudara sekalian dan masih banyak urusan lainnya yang musti saya kerjakan.

Hidup menjadi adipati Orphalese itu ternyata enak, makan kenyang tidur nyenyak.... Tapi kenapa masih ada nyamuk?
Nyamuk-nyamuk berpesta mengganggu mimpi Al Muntaber yang terlelap di meja kelas. Dengan malas ia bangun lalu pergi buang hajat di kali Bekasi.
"Mimpi yang indah" gumamnya.


_____
Catatan: Kisah fiksi di atas hanya sekadar plesetan iseng dari Sang Al Mustafa / Sang Nabi karya Kahlil Gibran :)
Foto dari: blog kasmonomonex

Klik untuk komentar