Menelusuri Asal Usul Kata Merdeka

 Menelusuri Asal Usul Kata Merdeka

Merdeka! Merdeka! Merdeka! merupakan slogan yang sering kita dengar tatkala memperingati tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Pernahkah kita berpikir atau merenung sejenak, mengapa kata merdeka yang digunakan? Mengapa kata bebas tidak digunakan dalam konteks ini? Untuk menjawabnya, mari kita telusuri sejarah kata merdeka itu sendiri sehingga kata tersebut sangat melekat dengan peringatan 17 Agustus.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki arti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, dan tidak bergantung kepada orang, sedangkan kata bebas sendiri menurut KBBI memiliki arti lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dengan leluasa), lepas dari (kewajiban, tuntutan, dan perasaan takut), tidak dikenakan (pajak, hukuman), tidak terikat atau terbatas oleh aturan, merdeka, tidak terdapat (didapati) lagi. Dari kedua makna harfiah di atas, dapat diketahui bahwa kata bebas memiliki arti yang lebih luas dari merdeka, bahkan kata merdeka sendiri salah satu dari beberapa arti yang terkandung dalam kata bebas.

Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa kata merdeka merupakan kata yang diserap dari bahasa Portugis, marjika yang berarti bebas. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menyebut budak-budak berkulit hitam yang didatangkan dari pantai Malabar dan Koromandel, dua wilayah di India bagian selatan. Kedua wilayah ini pada saat itu berada dalam kekuasaan bangsa Portugis. 

Saat Jayakarta jatuh ke tangan VOC dan berubah nama menjadi Batavia, banyak budak berkulit hitam didatangkan dari wilayah India Selatan dengan tujuan membangun dan menstrukturisasi Batavia menjadi pusat perdagangan rempah di Asia. Setelah berjalan beberapa dekade, beberapa budak tersebut dibebaskan dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Budak-budak yang dibebaskan tersebut berbahasa Portugis pasar dan mendapat julukan orang-orang Marjiker yang bermakna orang-orang yang dibebaskan. Keturunan dari orang-orang Marjiker tersebut masih dapat dilihat di wilayah Tugu, Jakarta Utara. Dari sinilah, kata merdeka mulai dipopulerkan. Kata yang sangat identik dengan pembebasan dari kekangan.

Beberapa ahli juga meyakini bahwa kata merdeka merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta yaitu mahardika yang secara harfiah bermakna pandai, terhormat, bijaksana, dan tidak tunduk kepada seseorang selain Tuhan dan raja. Dalam bahasa Melayu, merdika memiliki arti bebas, baik dalam pengertian fisik, kejiwaan, maupun dalam pengertian politik. Keberadaan kata merdeka dalam kesusastraan kuno dapat dilihat dalam kitab Nitisastra IV:19 yang berbunyi:

"Lwirning mangdadi jana, surupa dhana kalakulina yowana. Lawan tan sura len kasuran, agawe wereh i manahikang sarat kabeh. Yan wanten sira sang dhaneswara, surupa guna dhanakulina. Yan tan wada, maharddhikeka pangaranya sira putusi sang pinandita"

"hal-hal yang menjadikan manusia itu mabuk adalah paras yang bagus, kekayaan, kebangsawanan dan keremajaan, dan minuman keras dan keberanian itu yang dapat membuat hati menjadi mabuk. Jika ada orang kaya, tampan wajahnya, pandai, banyak harta benda, bangsawan dan muda, tetapi tidak mabuk karenanya, ia itu adalah orang yang bijaksana, seseorang yang berbudi mahardika (telah bebas dari soal keduniaan)". Kata mahardika inilah yang menjadi cikal bakal kata merdeka dalam bahasa Indonesia yang bermakna bebas dari penjajahan asing sebagaimana pendeta mahardika yang telah membebaskan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.

Dalam periode pergerakan kemerdekaan, telah banyak terdapat surat kabar terbitan Bumiputera, salah satunya adalah Benih Merdeka. Benih Merdeka merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang secara terang-terangan menggunakan kata merdeka pada nama surat kabar hariannya. Surat kabar tersebut didirikan pada tahun 1916 oleh Mohammad Samin, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari mengatakan bahwa Benih Merdeka telah menjadi pelopor penanaman ideologi kemerdekaan kepada pembacanya sebelum proklamasi. Dalam penelitiannya, beliau juga mengatakan bahwa pada periode 1885-1942 terdapat 133 media cetak yang terbit di Sumatera Utara. Hanya Benih Merdeka yang dengan tegas mencantumkan kata ”merdeka”. Terbitnya Benih Merdeka di Medan sekaligus membuktikan sejarah perlawanan penjajahan tidak hanya terpusat di Jawa.

Dalam semboyannya, Benih Merdeka menyatakan sebagai koran Organ Oentoek Menoentoet Keadilan dan Kemerdekaan. Koran ini telah berjuang untuk kemerdekaan sejak 29 tahun lebih awal dari proklamasi. Pada September 1919, Benih Merdeka memuat pantun seorang penulis dengan nama samaran Van Arde. Pantun itu berbunyi ”Hindia bukan tanah wakaf, Hindia bukan nasi bungkus, Hindia bukan rumah komedi”.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kata merdeka memiliki kekhususan makna daripada kata bebas. Kata merdeka mengandung suatu ideologi yang sangat erat kaitannya dengan lepas dari kekangan dan hal-hal yang menghambat untuk maju. Dalam hal ini merdeka juga bermakna mandiri secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik tanpa ada hambatan dan rintangan dari pihak manapun sesuai dengan jalur yang benar.Hal ini tentu menjadi pembeda dengan kata bebas yang dapat diartikan lepas dari segala hal tanpa mempertimbangkan benar atau salah cara untuk memperoleh kebebasan tersebut.
________________________


Tulisan ini berjudul asli Merdeka atau Bebas? ditulis oleh Hafiz dalam TCM Edisi 94 Agustus 2016.

Artikel ini memiliki 4 Komentar