#15 Puasa Ulat atau Puasa Ular

Puasa Ulat Menjadi Kupu-kupu atau Puasa Ular

Gak terasa yah sudah memasuki puasa ke-15?, artinya sudah setengah Ramadan kita lewati, masih ada setengah perjalanan yang masih membuka peluang untuk kita memperbaiki kualitas puasa kita. Dipertengahan puasa Ramadan 2016 ini saya ingin berbagi cerita fiksi, yah hanya cerita karangan yang semoga bisa menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan :D

Ceritanya, suatu hari saya ""mengunjungi" kawan sepadepokan saya, Kang Oceph di Tanjung Balai Asahan Teluk Nibung Sumatera Utara, sambil berbasa-basi saya bertanya padanya, "Bagaimana kabarnya sekarang kang?", Ia menjawab "Saya rasa saya telah menjadi orang munafik".

"Loh bagaimana bisa begitu kang? akang kan murid utama Ki Somad? Gak mungkin lah Akang yang saya dan kawan-kawan sepadepokan jadikan tauladan menjadi seperti itu" sergah saya keheranan.

"Saya merasakan, jika dalam bulan Ramadan, saya mengabdikan hampir seluruh waktu saya untuk beribadah, sejak sepertiga malam hingga malam berikutnya seperti waspada akan tiba ajal setiap waktu. Namun saat Ramadan berlalu saya kembali disibukkan dengan rutinitas mencari rezeki seperti akan hidup selamanya di dunia, lupa akan ajal yang dapat menjemput setiap waktu" jawabnya perlahan seperti mengerang menahan sakit. Perlahan saya dekati sahabat dan kawan saya yang biasanya periang ini, "Saya pun demikian kang" ucap saya pelan.

Jawaban Kang Oceph ini menjadi persoalan yang mengganggu perasaan saya, kelak saat sowan dan berkunjung ke kediaman Ki Somad sayapun menyampaikan permasalahan tersebut.

Sambil melinting kreteknya Ki Somad menerawang, "Sudah lama dia belum datang lagi sejak dia berpamitan untuk mondok di pesisir Sumatera Utara, rupanya kehidupan pesisir membuatnya semakin dewasa". "Kamu harus tahu sot, laku puasa itu bukan hanya dilakukan oleh manusia, beberapa hewan juga melakukan puasa, diantaranya ulat dan ular. Kamu tahu apa perbedaan puasa ulat dan ular?" tanya Ki Somad.

"Sependek sepengetahuan saya, kalau ular itu puasa karena mau ganti kulit Ki, kalau ulat saat persiapan menjadi kepompong lalu bermetaformosis menjadi kupu-kupu" jawab saya.

"Itu benar, tapi yang Aki garis bawahi itu, ular berpuasa setelah makan besar, setelah ia menelan mangsanya yang biasanya lebih besar dari badannya, ia akan sanggup puasa sekian bulan hingga mangsanya itu tercerna, pada saat itu boleh dikatakan saat selemah-lemahnya pertahanan ular dari serangan musuhnya. Sedangkan untuk ulat kamu sudah benar, ulat berpuasa saat memasuki proses metamorfosis menjadi kupu-kupu, siap mengemban tugasnya yang baru dari sekadar memakan dedaunan" terang Ki Somad.

"Masalah Oceph dan kamu itu kemungkinan karena puasa kalian itu masih seperti puasanya seekor ular, santap sahur sekeyang-kenyangnya untuk berpuasa di siang hari hingga matahari tenggelam" sindir Ki Somad.

"Hahahaha Ki Somad bisa aja, lalu bagaimana supaya saya bisa berpuasa layaknya puasa ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu Ki?" tanya saya sambil berusaha menutupi salah tingkah karena sudah disindir.

"Yang kamu perhatikan kenapa menjadi kupu-kupunya? manusia secara fisik tidak bisa bermetamorfosa, perhatikan tugas yang diemban ulat saat ia telah menjadi kupu-kupu. Dengan berpuasa, mengekang segala nafsu agar selaras dengan tuntunan agung itu, supaya manusia secara mental spiritual siap mengemban tugas baru yang lebih agung daripada hanya hardolin*, tugasnya apa? itu hanya akan kamu ketahui saat kamu sudah melewati prosesi puasa ulat, Aki gak mau kasih tau sekarang, nanti saja kalau kamu sudah bisa meninggalkan laku puasa ular baru kamu ke sini lagi".

Jawaban itu menutup perbincangan kami mengenai perbedaan puasa ular dan puasa ulat yang menurut Ki Somad adalah masalah yang saya dan Oceph sedang hadapi. Saya bersyukur karena dengan menyadari masalah ini artinya ini menjadi pijakan awal untuk mencoba meninggalkan "gaya" puasa ular dan mulai mencoba mengamalkan puasa ulat.

Malam semakin larut dan obrolan kami semakin melebar kemana-mana, sebelum akhirnya saya berpamitan, Ki Somad hanya berpesan.
"Sampaikan salam Aki buat Oceph, kasih tau, jangan lama-lama menjadi kepompong di seberang sana, banyak ladang kebajikan sedang menanti baktinya di sini"

Sepertinya ini semua proses yang musti saya lalui, Kang Oceph sudah dipanggil untuk kembali oleh Ki Somad, apakah itu artinya dia sudah bermetamorfosis? Apakah ini cara Kang Oceph mengajari saya agar mengikuti jejaknya memahami puasa ulat di sisa setengah Ramadan ini? 


Semoga...

___________
Catatan:
Kisah ini terinspirasi dari sebuah hadis riwayat Hanzhalah Al Usaidi 
*Hardolin (dahar-modol-ulin/makan-buang hajat-main) istilah slang dari Bahasa Sunda yang bermakna pemalas

15 Ramadhan 1437 (2016)

Klik untuk komentar