Dondang

Festival Dondang dan Adu Bedug Mustika Jaya Bekasi
Festival Dondang dan Adu Bedug tanggal 8-9 Agustus 2015
(foto Muhaidin Darma - wajahbekasi.com)
Belum lama telah digelar perhelatan Festival Dondang dan Adu Bedug, tepatnya tanggal 8-9 Agustus 2015. Festival Dondang dan Adu Bedug ini merupakan kegiatan yang digelar tahunan di Kecamatan Mustika Jaya. Acara yang konon telah rutin diadakan sejak tahun 1951 ini melibatkan seluruh kelurahan yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Mustika Jaya Bekasi. Acara ini sudah cukup dikenal oleh warga Bekasi, baik kotamadya maupun kabupaten.

Saya tergagap juga saat seorang teman menanyakan arti kata Dondang, saat itu saya hanya menjawab sekenanya saja dengan kadar sok tahu (sotoy) yang over dosis. Nah setelah menelusur sumber-sumber yang banyak bertebaran di internet ini saya coba merangkum mengenai dondang sekadar untuk catatan saya saja, bukan untuk referensi akademis pastinya :)

Dondang secara sekilas akan dimaknai sebagai dandang. Menurut salah satu versi yang saya baca entah dimana, Dondang adalah nama lain dari dandang. Dandang sendiri adalah sebuah alat masak yang kini sudah sulit ditemui. 

Festival Dondang dan Adu Bedug Mustika Jaya Bekasi
Dandang
Menurut KBBI dandang adalah:
dandang 1/dan•dang / n 1 periuk besar untuk mengukus nasi, biasanya dibuat dr tembaga atau aluminium; 2 wadah terbuka atau bertutup untuk menguapkan zat cair atau membangkitkan uap air. (http://kbbi.web.id/dandang)

Menurut Wikipedia dandang adalah:
Dandang (Sunda: langsèng atau sèèng) adalah peralatan dapur untuk membantu menanak nasi (mengukus nasi setengah matang / nasi tim / nasi aron). Dandang terbuat dari logam. Dandang tradisional terbuat dari tembaga, sedangkan yang lebih modern terbuat dari aluminium. (https://id.wikipedia.org/wiki/Dandang)

Kembali ke istilah Dondang, terdapat pula versi lain yang menyatakan bahwa Dondang, adalah singkatan atau ungkapan singkat dari kata: ngenDon danDang. Ngendon dalam bahasa Bekasi berarti numpang atau menumpang. Jadi Dondang adalah sebuah istilah yang bermaksud sesuatu yang menumpang di dalam dandang, biasanya adalah berbagai jenis makanan yang dihantarkan pada saat prosesi calon pengantin pria  mendatangi calon pengantin perempuan (ngebesan). 

Seiring berjalannya waktu, hantaran yang menumpang di dalam dandang (dondang) sudah semakin beragam, bukan hanya makanan tapi juga barang-barang kebutuhan lainnya sehingga tidak dapat lagi ditampung dalam sebuah dandang maka dibuatlah semacam wadah pengganti, namun demikian tetap masih menggunakan istilah Dondang. Besarnyapun sudah tidak lagi sebesar dandang yang masih dapat digendong oleh 1 orang, semakin besar dondang membutuhkan lebih banyak orang untuk mengangkatnya ataupun menggunakan kendaraan untuk membawanya.

Dondang memiliki makna kearifan lokal yang sangat tinggi. Sikap  berbagi dan gotong royong diantaranya. Makanan yang ada di dalam dondang akan dibagikan kepada sanak kerabat yang hadir dalam resepsi pernikahan sebagai ungkapan kebahagiaan keluarga kedua mempelai. Rasa persaudaraan inilah kemudian yang muncul sebagai kearifan lokal yang harus tetap terjaga.


Festival Dondang dan Adu Bedug Mustika Jaya Bekasi
Festival Dondang dan Adu Bedug tanggal 8-9 Agustus 2015
(foto Muhaidin Darma - wajahbekasi.com)
Versi lain istilah Dondang adalah singkatan dari Gendong Dandang, istilah ini saya coba telusuri tapi tidak menemukan referensi kecuali adegan-adegan Tari Rebut Dandang yang memperagakan seseorang yang sedang menggendong dandang. Untuk spekulasi lebih jauh sepertinya saya lebih setuju versi pertama daripada versi ini, walaupun masuk akal juga kalau istilah Dondang adalah kependekan dari gendong dandang.

Tradisi membawa Dondang (ngarak dondang) ini juga dilestarikan dengan sebuah tarian yang disebut: Rebut Dondang atau Rebut Dandang, di wilayah Jawa Barat biasa disebut “Parebut Seeng” yang intinya diperagakan dengan dua orang yang memiliki keahlian gerak silat yang saling mengadu tekhnik merebut dan mempertahankan dandang. Pertunjukan tarian ini biasanya dilakukan oleh pria dengan pakaian tradisional berupa pangsi dan diiringi dengan musik pencak.

Tari Rebut dandang ini menarik, didalamnya mencakup unsur seni bela diri, seni musik tradisional, identitas budaya pakaian tradisional, nilai-nilai pribadi berjiwa kesatria dan masih banyak lagi tergantung ingin menggunakan sudut pandang apa. Berbagai inovasi dan kreasi meramu tari Rebut Dondang idealnya tetap berusaha mempertahankan ciri tarian Rebut Dandang tradisional dengan terus mencoba mengadaptasi perkembangan seni modern. Inovasi yang pada akhirnya bukan saja mencoba menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat beradaptasi dan bertahan namun juga mengukuhkan identitas kearifan lokal dalam kancah industri kesenian global.  Sotoy bangat dah si bisot :D

______________

Bahan bacaan lanjutan:
http://siliwangitrans.com/tari-parebut-seeng-seni-pertunjukan-yang-hampir-terlupakan/#more-402
http://mahfudzabdurrahman.net/berita/budayawan-bekasi-helat-lomba-rebut-dandang/62-budayawan-bekasi-helat-lomba-rebut-dandang.html
http://lelakipengembara80.blogspot.com/2013/08/lelaki-catatan-dari-festival-beduk.html

4 komentar

avatar

Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS dan dapetin MacBook Pro? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di sini http://bit.ly/terios7wonders2015 #Terios7Wonders
Lomba ini diperpanjang sampai tanggal 22 Agustus 2015.

Buruan ikutan dan jangan sampai ketinggalan, ya!

avatar

Om, di tempat Anaz (di kampung halaman) kalau ada yang kenduri masak nasinya masih pake dandang

avatar

Mungkin beda yah hasil masakannya dandang dengan magic jar? :) saya menyebutnya Langseng tuh.

Klik untuk komentar