Merayakan Hari Menanam Pohon

Menyambut Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) yang jatuh pada tanggal 28 November dan Bulan Menanam Nasional (BMN) bulan Desember sebagaimana ditetapkan dengan  Keputusan Presiden RI No. 24 tahun 2008, tanggal 29 November saya ikut agenda mangroving kawan-kawan dari Bea Cukai seperti yang sudah direncanakan saat survey mangrove ke Pantai Beting minggu lalu (22 Nov).

Dengan 2 mobil berangkat dari Babelan via Hurip Jaya - Blacan - Pantai Mekar 1 jam kemudian kami sudah parkir di halaman Kecamatan Muaragembong, perjalalanan kali ini dengan menggunakan 2 perahu menyusuri Sungai Citarum hingga ke Muara Beting, setelah makan siang mulailah penanaman baby mangrove dilaksanakan.

Agenda penanaman akan menanam 1100 bibit mangrove, tapi karena rombongan kami datang terlalu siang, hapir setengahnya sudah ditanam lebih dahulu oleh kelompok tani binaan komunitas Muaragembongku, kami disisakan sekitar 500 bibit dengan ajir (bilah bambu penyangga bibit mangrove) yang sudah tertata  dalam barisan rapi yang siap ditanami, setiap baris terisi 20 batang ajir dengan jarak 1 meter. Dengan sistem baris seperti ini kami mudah menghitung berapa banyak bibit mangrove dengan menghitung barisan saja, 20 baris x 20 = 400. Jika 1100 maka seharusnya terdapat 55 baris karena setiap baris berisi 20 batang ajir.

Saat survey kemarin air sedang surut sedangkan saat kami hendak menanam air sedang pasang sehingga dengan mudah sampan dapat membawa bibit bakau meniti satu-persatu ajir yang sudah tertanam, kami tinggal mengambil bibit dari sampan lalu menanam pada titik ajir yang sudah tertanam kemudian mengikat bibit tersebut dengan tali rafia yg sudah disediakan agar tidak mudah hanyut. Setelah hampir 4 jam bibit mangrove belum habis, matahari sudah semakin condong ke barat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang sebelum gelap.


Merayakan Hari Menanam Pohon
Lokasi mangroving saat survey 22 nov 2014
Merayakan Hari Menanam Pohon Muaragembong Bekasi
Lokasi yang sama saat penanaman 29 Nov 2014
Menyusuri sungai dengan perahu di anak sungai Citarum ini mengingatkan cerita teman yang pernah melancong ke Vietnam dan ikut wisata Sungai Mekong, menurut dia perbedaan yang mencolok adalah di Vietnam sana mereka menjadikan sungai sebagai pusat halaman depan rumah mereka, sedang di Indonesia menjadikan sungai menjadi halaman belakang rumah dimana urusan dapur dan MCK menjadikan sungai sebagai pelimbahan atau saluran pembuangan. Menurut teman saya itu di sepanjang sungai di Vietnam setiap rumah dekat sungai menghadap ke sungai, hampir setiap rumah memiliki dermaga untuk perahu singgah. Apa itu karena mereka menjadikan transportasi air sebagai transportasi utama? Saya juga gak tau :)

Menyusuri sungai ini setidaknya menurut saya lebih hemat bahan bakar, tentu saja jika sungai besar dan berarus deras seperti Citarum itu harus menggunakan mesin saat menuju lokasi yang berlawanan dengan arus. tapi setidaknya menurut yang saya dengar zaman dahulu di Citarum ini pernah berdiri Kerajaan Tarumanegara yang katanya juga memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi, saat itu belum ditemukan bahan bakar minyak kan? :)

Merayakan Hari Menanam Pohon Muaragembong BekasiMerayakan Hari Menanam Pohon Muaragembong Bekasi
Merayakan Hari Menanam Pohon Muaragembong BekasiMerayakan Hari Menanam Pohon Muaragembong Bekasi

Selamat Hari Menanam Pohon, pemandangan, pengalaman dan kontemplasi hari ini semakin mendekatkan kepada alam.

Pulang melalui jalur Muaragembong - Cabang Bungin - Jaya Sakti - Babelan memakan waktu 3 jam. 3 kali lebih lama dari jalur Babelan - Hurip Jaya - Blacan - Muaragembong, tapi jalur cabang bungin lebih ramai dan lebih bagus.

Foto-foto di album Facebook.

Klik untuk komentar