Love tidak pake z

"It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not." - André Gide
Bagi saya kata-kata di atas itu mengandung kepercayaan diri yang mengandung ketangguhan. Kata-kata seperti itu hanya dapat lahir dari kedewasaan berfikir, lahir dari kemampuan melihat dunia dengan apa adanya, sesubyektif apapun itu. Tapi ada kontradiksinya juga.

Dicintai... saya pernah dengar kalimat bahwa setiap orang berhak untuk dicintai. Okelah, kata dicintai itu kata pasif, sebuah akibat. Apa penyebabnya? Siapa yang menetapkan dicintai adalah hak? Kalau dicintai itu adalah hak, bagaimana dengan dibenci? Apakah dibenci adalah hak juga? Kewajiban apa yg menyertai hak ini?

Lalu mencintai, sebuah kata aktif, sebuah aksi. Apa yang mendasari aksi "mencintai"? Motif? Stimulus?
Kembali ke kalimat di atas, lebih baik dibenci karena apa adanya dirimu, daripada dicintai karena sesuatu yang bukan apa adanya dirimu.

Dibenci karena apa adanya dirimu. Kalimat "apa adanya dirimu" sering diartikan apologis, dengan pemahaman apologis ini para "pemalas" sering berlindung di balik kata "apa adanya" untuk menyembunyikan keengganannya untuk mengasah dan menampilkan yang terbaik dari "apa adanya".

"Apa adanya" secara positif bisa berarti bahwa ada batasan yang tidak dapat dilampaui, batasan-batasan imajiner yang sering dikuantifikasi dengan ukuran-ukuran nyata, misalnya: ranking, juara 1, kemampuan finansial dlsb. Ukuran yang tidak mustahil untuk ditembus.

Relatifitas "apa adanya" itu elastis, keunikan setiap manusia tidak bisa distandarisasi dengan ukuran-ukuran seperti contoh di atas tadi. Namun demikian untuk tetap memotifasi dan menekan terus batasan-batasan "apa adanya" ukuran-ukuran tetap diperlukan.

Lalu kalimat: "....daripada dicintai karena sesuatu yang bukan apa adanya dirimu".
Apa ukuran dan bagaimana mengukur "apa adanya" dan "bukan apa adanya"? Saya sendiri tidak paham soal ini. Kalaupun ingin, sotoylogi yang akan mengurai atau memperkusut pertanyaan ini. :)

Pernah dengar kalimat bijak: tidak kenal maka tidak sayang? Menurut saya kalimat bijak ini lebih bagus daripada kalimat terjemahan dari André Gide di atas. Itu menurut saya terserah jika menurut Anda. :)
Tidak kenal maka tidak sayang menyiratkan syarat "kenal" untuk konsekuensi "sayang", walau dalam kenyataannya ada juga fenomena sayang walau tidak kenal, entah apapun alasannya.

Cinta pada pandangan pertama misalnya. Ada hal-hal yang mendasari cinta pada pandangan pertama, ada yang enggan membicarakan atau sulit untuk diungkapkan, mungkin akan terdengar terlalu kekanak-kanankan, naif, klise dlsb.

Tidak ada yang salah dengan Cinta pada pandangan pertama. Otak manusia banyak menyimpan informasi bawah sadar yang tidak perlu dijelaskan dengan logika. Manusia adalah mahluk emosional yang sok rasional, atau juga mahluk rasional yang sering buta karena emosi, apapun itu just be your self.

Bahwa informasi bawah sadar banyak mendasari pilihan-pilihan manusia, bahwa kasih sayang adalah salah satu emosi manusia yang pada akhirnya tidak mampu dijelaskan dengan logika, jikapun memang perlu dan butuh yah silakan ke psikolog, psikiater, penasehat spiritual dlsb. Mungkin profesi dan keahlian mereka dapat membuat Anda memenuhi keinginan Anda.

Kebutuhan dan keinginan memang kadang sulit dibedakan. :)

Posted with blogger droid

Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Aslinya renungan tentang cinta dari sang pakar ini... nice posting anyway... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kelamaan di draft, posting aja deh sekalian, gak ngerti juga apa kesimpulan tulisan di atas :D

      Hapus