surat cinta yang sedih versus media yang norak

Membaca Surat Cinta dari Seorang Anak untuk Om Gayus Tambunan yang juga ramai dibincangkan di KASKUS, gw jadi muak dengan gaya pemberitaan media yang sama sekali gak mendidik.

Menurut gw kebebasan media di Indonesia memang sudah tidak sehat. Media baik televisi ataupun media cetak menyajikan fakta-fakta dengan bumbu yang menjurus ke mendikte opini. Fakta yang ditayangkanpun disortir untuk membangun berita yang "satu suara", fakta yang berimbang, atau fakta lain yang tidak mendukung tema disembunyikan, kalau perlu dimanipulasi seperti kasus markus palsu.

Maksud gw kalo bener media mau mendidik masyarakat, ajak masyarakat berfikir rasional. Paling enggak media bisa memprediksi bagaimana Gayus bisa memiliki uang sekian M, berikan analisa, terserah analisa hukum, ekonomi, dst, biar masyarakat menjadi paham. Kemudian Fakta Gayus seperti ditangkap Polisi, dikenakan tuduhan Money Laundering, Tipikor juga diuraikan tentang kaitannya dengan kepemilikan uang sedemikian fantastis juga dapat dikembangkan dalam sebuah acara bagaimana Polisi menangkap, dasar hukum yang digunakan, apa itu money laundering, bagaimana proses penyelidikan hingga putusan proses pengadilan tipikor. Banyak sekali hal yang dapat di olah jika saja media mau sedikit berupaya menjadikan tayangan mereka menjadi bermutu.

Saat ini yang gw lihat nih, siaran media gak lebih dari perlombaan akrobat kata-kata dan tayangan2 video yang gak penting. Analisa cetek, opini mentah, propaganda yang overdosis. Masih lebih enak obrolan warung kopi. Maaf aja kalo ada yg gak setuju.

Kenapa gw bilang obrolan warung kopi.
Oke, buat gw yg sering menjadikan warung kopi sebagai ajang gaul, obrolan ringan pengisi waktu pengusir jenuh yang paling laku adalah obrolan yang gak terlalu serius dan gak terlalu dalam. Obrolan sekadarnya saja tentang kabar ketua RT, tentang rencana kerja bakti, dst. Semua dibahas gak terlalu serius, kalo mau lebih serius yah bikin rapat RT aja untuk menyusun agenda dan pendanaan kerja bakti dst. :)

Media yang gw lihat nih, lebih mementingkan kuantitas gambar2 dan opini2 seragam, jadi gak usah heran kalo berita dalam 1 minggu yah itu2 aja tanpa penambahan materi yang berarti, berita pagi sama berita malam yah sama, itu aja yg di ulang2. Norak khan??? :D

Gw sih gak pintar2 banget buat mencerna semua kasus, apalagi kasus Gayus, entah dia kena kasus pencucian uang atau korupsi, padahal dua kasus ini beda banget, khususnya korupsi yang menganut azaz pembuktian terbalik tapi pencucian uang gak, pembuktiannya dibebankan kepada penyidik dan jaksa. Jauh bedanya bro, walaupun tindak pidana pencucian uang dan korupsi ini sama-sama termasuk dalam kategori tindak pidana yang extra ordinary crime  ... (ceileh bahasanya hahahaha).

So... kembali ke media yg sotoynya melebihi kesotoy-an gw
Idealnya sih menurut gw, media mengawal penyelidikan, penyidikan sampai persidangan Gayus ini. Saya gak tahu saat ini Gayus ini statusnya terperiksa atau sudah tersangka yang pasti belum terdakwa apalagi terpidana...lha kasusnya belum di sidangkan kok. Terus dia itu kena tindak pidana apa? (maklum emang males nonton tivi).

Gw yang awam ini sangat mendambakan media melakukan analisis, menanyakan kepada sumber yang kompeten, apakah semua kasus yang dilaporkan dari PPATK karena transaksi yang mencurikan harus dikenakan tindak pidana pencucian uang? atau bisakah dikenakan tindak pidana korupsi? kalo menurut gw sih idealnya bisa dua-duanya, bisa pencucian uang dan korupsi.

Atau pertanyaan lebih lanjut, apakah PPATK dalam melaporkan hasil analisanya hanya dapat melaporkannya kepada Polri atau kepada pihak penyidik lain seperti KPK misalnya.
Kalo ini jelas, maka saya akan paham, jika PPATK menyerahkan analisanya kepada Polri, maka analisa itu terkait tindak pidana pencucian uang, sedangkan jika PPATK menyerahkan hasil analisanya kepada KPK, maka analisa itu terkait tindak pidana korupsi. Kalo ada aturan main seperti itu, saya kira orang awam seperti saya ini tidak akan bingung dengan status Gayus saat ini.

Kalo media masih mempertahankan gaya pemberitaan yang model sotoy dan norak kayak gitu, hukuman sosial atas penilaian yang menghukum bukan saja ditimpakan kepada Gayus pribadi, tapi juga kepada semua orang yang punya kesamaan identitas dengan Gayus. Salah satu korban dari hukuman sosial itu yah Pungki yang menulis Surat Cinta dari Seorang Anak untuk Om Gayus Tambunan. Jika memang media sudah tahu bahwa akan ada efek colateral damage kayak gini. Kok yah masih saja gaya penyiaran seperti itu dipelihara?.

Kepada Gayus2 lain yang masih berkeliaran bebas, berfikirlah lebih luas akan akibat perbuatan anda, jika anda masih punya otak. Pertimbangkanlah nasib Pungki2 lain yang juga akan menanggung penghakiman sosial dari masyarakat, jika anda masih punya perasaan.

Kepada penggiat media ataupun yang mencari rezeki dibidang ini, please deh gak usah ikut2an sotoy kayak saya yang gak mencari rezeki dari blog sotoy ini. Kapan selesainya hura-hura eforia media merayakan kebebasan pers setelah sekian lama terbelenggu dgn berperan layaknya otoriter opini? Sedikit dewasalah dalam memberikan informasi dengan tayangan yang lebih mendidik.

Kepada para penonton media (termasuk saya juga sih), janganlah menganggap bahwa media adalah satu2nya sumber kebenaran. (kayak khutbah jum'at jek hehehehe), sudah deh, daripada tambah ngaco...

Terakhir kepada diri saya sendiri yang males nonton tivi, sayangilah kotak segi empat itu dengan sekali2 sempatkan nonton siaran berita biar gak ketinggalan informasi, kalo siarannya masih norak, cukup nyalakan dvd dan setel film2 musik lagi huehehehe

sudah yah, no offence... semua yg gw ungkapkan di atas cuma bentuk empati gw kepada Pungki dan mungkin masih banyak lagi yang mengalami hal seperti itu.

Sing waras ngalah nduk :)

---------------------------------------

*Sotoy = Sok Tahu

Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. trus kasusnya gayus koq gak kedengeran lg ya...sekarang yg lg in si susno...kasus silih berganti tp penyelesaiannya gak jelas...

    BalasHapus