mengungkap CINTA




Dalam ilmu strategi perdagangan ala predator, ada sebuah hukum yang masih berjaya hingga saat ini. Hukum itu jika dibahasa Indonesiakan secara suka-sukanya bisot mungkin akan berbunyi "Jual aromanya, bukan satenya". Kalo bahasa linggisnya sih "Sell the sizzle, not the steak" berhubung bisot agak susah memahami makanan berjudul "steak", so diumpamakan sate ajalah biar gampang ngertinya....setuju yah, kalo gak gue ganti oncom aja degh wkkkk.

So, hukum ini masih terus berjaya. Gak usah heran jika Nokia dgn slogan "Conecting people"-nya lebih berjaya dari pada Siemens yang full teknologi dan Sony Erricson dengan keunggulan2nya. Mau tahu kenapa?, Itu karena yang laris dibeli saat ini oleh konsumen adalah "image", sebuah "way of life" yang berhasil diasosiasikan dalam sebuah "brand" tertentu guna mengisi kehampaan hidup. So jangan juga heran jika ada seorang remaja yang bunuh diri karena dibelikan sebuah telepon selular yang tidak sesuai dengan merek idamannya.

Apa hukum itu juga berlaku dalam kehidupan pribadi seseorang?

Apa hukum ini sudah mengkontaminasi dan menjangkiti perasaan manusia? Cinta misalnya.

Coba tanya apa makna dari kata "CINTA" kepada sekeliling kita. Seribu satu jawaban akan kita dapatkan, ada yang membuat kita tersenyum geli, merenung, bahkan menangis. Namun apakah semua itu memuaskan pertanyaan kita?. Apakah semua jawaban yang dapat diberikan oleh manusia sejak Nabi Adam hinigga saat ini sudah memuaskan?.

Jika sudah, maka mengapa dari generasi hingga ke generasi selanjutnya masih saja terus mencoba mendefinisikan cinta, mengapa hingga hari ini selalu saja kita masih menanyakan apa arti cinta.

Alih-alih mewujudkan cinta dalam kesederhanaan sikap keseharian, kita malah sibuk mencoba memahami dan merumuskan perwujudan cinta. Tak heran jika "CINTA" kini hanya menjadi sebuah kamar kost murah meriah ditengah kota kebudayaan populer yang serba instant.

Jangan lagi menghayalkan sebuah kisah roman seperti Siti Nurbaya atau Romeo dan Juliet bung!. Cinta jaman sekarang sudah semakin murah. Sebagai sebuah ungkapan cinta kita hanya perlu membeli serangkai bunga sesuai jargon iklan "Ungkapkan dengan bunga". Memberi hadiah berupa satu set kue atau permen coklat sesuai ide "Coklat adalah simbol cinta", atau sebuah kartu berwarna pink saat hari valentine dst. Saat komunikasi semakin mudah, mungkin kita masih saja genit membayangan Siti Nurbaya yang secara sembunyi-sembunyi mengirim SMS, MMS atau E-mail kepada kekasihnya tanpa sepengetahuan Datuk Maringgih. Wkkkkk bangun coy, Jika Datuk Maringgih masih hidup mungkin dia sudah meninggalkan Siti Nurbaya setelah malam pengantin untuk melanjutkan safari birahinya keberbagai pedalaman desa senusantara dengan jet pribadinya dan menebar pesona dengan Mercedes Benz Crossover keluaran terbaru jika ada.

Di jaman sekarang, bukan lagi cinta yang menjadi perhatian, namun bagaimana cinta itu dikemas, dipoles seindah mungkin. Diperlukan pengalaman yang matang bagi seorang perempuan untuk membaca kemasan ini, apakah yang dikemas itu adalah sebuah ungkapan cinta yang sudah kadaluarsa dan tidak memiliki ijin edar dari Badan POM atau hanya sebuah kencan American Style untuk "one night stand" saja. Dan sebaliknya, diperlukan kelihaian bagi seorang lelaki untuk mengemas cinta atau nafsunya dengan sentuhan yang sesuai dengan selera gadis pujaannya, cukup hanya ditraktir bakso pinggir jalan atau sebuah "candle light dinner" disebuah resto ternama.

Semua itu secara sah diakui oleh negara sebagai ungkapan cinta yang dibiayai oleh APBN gali lubang tutup lubang.

Toh, jika saja saya masih remaja yang sedang kasmaran. Tidak lagi saya pake jurus apel dimalam minggu yang terkena program waskat dari calon mertua, karena sudah begitu banyak acara ekstra kulikuler dan kegiatan luar sekolah yang bisa dimanfaatkan sebagai alasan untuk bertemu dengan sang kekasih.

So, karena bisot terlahir 30 tahun yang lalu dan masih bernafas dalam dunia semarak yang sepi dalam kehingar-bingarnya, ungkapan cinta yang bagaimana yang bisa bisot ungkapkan???

Mencoba merangkum ungkapan cinta versi Rabindranath Tagore dan Kahlil Gibran sambil mendengarkan pekik lantang Max Cavalera.

Mendesah dan mengeluh, karena setiap detik berlalu namun tak ada kata yang dapat terangkai melalui ketukan jari-jari diatas keyboard laptop jadul Nec VersaPro VA50J yang semakin ringkih.

Tak ada kata yang terangkai.....

Jika saja kalian mengerti, ada sesuatu dihati dan jiwa ini yang tak dapat mengalir dalam bait kata dan kalimat...

Sesuatu yang bergeliat, semakin keras bergeliat dan membuat gelisah.

Wahai pemilik hati ini, Wahai Ya Rahman Ya Rahim...

Engkaulah Cinta, Ya Jalal Ya Ikram.

Tunjukilah hamba, jalan terbaik untuk mencintai-Mu

Ya Muhammad, ya al amin, shalawat dan salam atasmu

Sebagai penunjuk jalan dan suritauladan

Salam.

Klik untuk komentar