Kategori:

Malam mingguan di Rumba HOS Tjokroaminoto Bekasi

Dalam rangka menyongsong Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur (1916-2016), Rumah Baca (Rumba) H.O.S. Tjokroaminoto bekerja sama dengan Rumah Peneleh dan Syarikat Islam menggelar Malam Apresiasi Sastra dan Budaya.

Sabtu malam 28 Mei 2016 saat saya menyambangi acara ini, saya kira saya terlambat karena sudah ada keramaian terdengar dari lokasi acara. Acara yang sedianya dimulai pukul 19.00 ini ternyata belum dimulai, apa yang saya dengar dan lihat ternyata hanya gladi resik. Suasana tempat acara berlangsung yang minim cahaya membuat saya hanya terfokus pada Teater PRAANG Serikat PRT Se-Jabodetabek yang sedang melakukan latihan akhir untuk pementasan malam ini. Latihannya saja sudah bagus dan sempat saya kira sudah mulai.

Malam Apresiasi Sastra Budaya dalam Menyongsong Peringatan Zelfbestuur 1916

Menarik untuk memperhatikan para perempuan energetik yang tengah mencoba membawakan peran yang dipercayakan kepadanya. Mereka aslinya bukan lah pekerja seni peran atau pelakon teater, mereka adalah para pelakon kehidupan yang bernaung di JALA PRT (Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga). 

Sejenak saya terkagum-kagum menyaksikan aksi teaterikal mereka. Mendengarkan petikan-petikan syair sajaknya, pembawaan perannya juga baik. Hal ini sempat membuat saya lupa bahwa lokasi acara adalah halaman belakang sebuah sekolah gratis untuk anak dhuafa, sebuah lokasi yang dulunya diperuntukan untuk sentra pengelolaan sampah, sekarang "disulap" menjadi layaknya auditorium dengan penataan cahaya dan suara yang cukup mendukung untuk Teater PRAANG mengeksplorasi gerak dan suara.

Malam Apresiasi Sastra Budaya dalam Menyongsong Peringatan Zelfbestuur 1916
Teater PRAANG sedang gladi
Dari daftar hadir saya membaca list para tamu yang telah datang antara lain adalah JALA PRT Sapu Lidi, JALA PRT Kemuning, JALA PRT Sedap Malam dll... kemungkinan besar merekalah yang sedang berlatih di panggung utama acara malam ini.

Dijajaran para penerima tamu yang saya temui bukanlah orang asing, mereka adik-adik penggiat rumba yang kini menjadi panitia acara "haul 100 tahun" pidato H.O.S. Tjokroaminoto di tahun 1916 lalu. Pidato HOS Tjokro muda dengan berani menyampaikan ide mengenai Zelfbestuur, kesadaran nasionalisme yang menolak segala bentuk penjajahan, Indonesia 
merdeka yang memerintah diri sendiri. 

“Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan zelfbestuur atau pemerintahan sendiri… Supaya Hindia (Indonesia) lekas dapat pemerintahan sendiri (zelfbestuur)…” 

Malam itu teras depan rumba HOS diubah menjadi ruang pameran, foto-foto Kamera Lubang Jarum karya Sekolah Alam Anak Soleh menghias setiap sudutnya, stand SMP Terbuka Ilalang memperlihatkan hasil kerajinan tangan berbahan koran bekas yang menjadi vas bunga, tempat payung, kap lampu, tempat tisu dlsb.



Malam Apresiasi Sastra Budaya dalam Menyongsong Peringatan Zelfbestuur 1916

Acara Malam Apresiasi Sastra Budaya ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh hadirin, kemudian disusul tari topeng betawi oleh 3 siswi SMAN 1 Tarumajaya. Kalau tidak salah, melihat dari corak pakaian dan gerakan 3 orang penari itu, saya berkesimpulan itu adalah Tari Ronggeng Blantek yang tahun lalu (2015) ditarikan massal dengan 
dipimpin oleh Ibu Neneng Hassanah Yasin (Bupati Bekasi) dan diikuti konon oleh sebanyak 12.300 orang dengan tujuan mencatatkan rekor MURI.

Malam Apresiasi Sastra Budaya dalam Menyongsong Peringatan Zelfbestuur 1916

Acara berlanjut dengan berturut-turut pembacaan puisi karya Ajip Rosidi, Taufiq Ismail dst. Mendapat kesempatan pertama membaca puisi adalah Syafinuddin Al-Mandari dengan puisi "Sudah lama aku jadi tuhan", dilanjutkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam Ibu Valina Singka Subekti yang membacakan puisi Syair Orang Lapar karya Taufiq Ismail, kemudian Pak Aulia Tahkim membawakan puisi karyanya, lalu Bu Ella Jagad, disambung Haji Aty Cancer Zein membacakan puisi Kepada Arwah H.O.S Tjokroaminoto karya Almarhum Buya Hamka dan seterusnya.

Dari total keseluruhan acara, lebih dari setengah acara ini diisi dengan kegiatan pembacaan puisi, tarian dan nyanyian. Suasana kesenian lebih pekat, tata pencahayaan dipercayakan oleh panitia kepada kepada rekan-rekan Teater Zat Komunitas Seni bidang Teater di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta yang juga mengiringi lagu-lagu dengan gitar, Pak Syifa menambah kekayaan musik dengan gesekan biolanya.



Puncak acara adalah pidato kebudayaan oleh Hamdan Zoelva, Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia periode 2013-2015. Dalam pidatonya beliau kembali mengingatkan mengenai sejarah munculnya ide pencetusan Zelfbestuur, kondisi-kondisi yang menyebabkan dan relevansinya dengan kondisi bangsa saat ini. 

Dalam kesempatan tersebut beliau berpesan, bahwa kemerdekaan yang sudah dengan susah payah diwujudkan oleh para pendahulu agar tidak disia-siakan, agar diisi dengan prestasi-prestasi yang mengutamakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Upaya itu hanya dapat dilakukan jika generasi muda memiliki kualitas yang unggul di segala bidang. Hal mana yang kembali mengingatkan saya akan kalimat HOS Tjokroaminoto "Setinggi tinggi ilmu, semurni murni tauhid, sepintar pintar siasat".

Artikel terkait:

4 comments

  1. keren sangat ulasannya, sayangnya fotonya kurang cahaya emang yah, ommm...bagian foto selfie2 sama pegiat rumba kok luput dari perhatian yah? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya agak remang2 biar romantis kali :D oh foto2 selfienya bukan untuk konsumsi umum, nanti kalau pada iri dan mau foto sama saya semua kan repot :p

      Hapus
  2. Kelaurga nya maia estianty ngak datang kak ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak kak, ini acara kecil2an aja kok :)

      Hapus