
Pernahkah kamu merasa bahwa waktu terkadang berjalan begitu cepat, namun di saat yang sama, ia sangat baik karena mengizinkan kita memutar kembali memori lewat sebuah pertemuan?
Selasa malam itu, 12 Mei 2026, udara Bali terasa begitu bersahabat. Saya dibonceng oleh Wisnu yang rela datang jauh-jauh dari Ubud, meluncur dari Kuta menuju kawasan yang kini jadi primadona dunia: Canggu Bali.
Setengah jam lebih kami membelah kemacetan jalanan Bali yang seolah tidak pernah tidur. Dengan bantuan setia dari Google Maps, akhirnya motor kami berhenti di depan sebuah plang nama yang estetik: Twin Tide Eatery.
Lucunya, dengan rasa percaya diri yang tinggi, kami langsung memarkirkan motor di halaman parkir Radian Villa. Tentu saja, seorang petugas keamanan datang menghampiri dan bertanya dengan nada sopan namun tegas mengenai keperluan kami di area privat tersebut.
Saya hanya tersenyum santai dan menjawab, "Mau ngopi di resto Twin Tide, Pak." Si Bapak belum tahu saja, kalau manajer restoran yang sedang kami tuju adalah teman "gila-gilaan" saya semasa SMA dulu.
Dari Drumer Santuy Hingga Dapur Dunia
Mengenang sosok teman saya ini seperti membuka buku lama yang penuh coretan petualangan. Dulu, saat kelas satu SMA, kami sempat sok keren membentuk sebuah band untuk mengisi acara sekolah. Dia adalah penggebuk drumnya. Kami ikut audisi dengan semangat membara, tapi jangankan tampil di panggung utama, lolos audisi saja tidak! Namun itulah indahnya masa muda, kami tetap menikmatinya tanpa beban. Seingat saya waktu itu saat audisi kami membawakan lagu punk Last Caress dari Misfits :D
Setelah lulus, garis tangannya membawa dia ke sekolah perhotelan bergengsi, Sekolah Tinggi Pariwisata NHI (National Hotel Institute) Bandung (sekarang Politeknik Pariwisata NHI Bandung). Bakat memasaknya membawa dia melanglang buana hingga ke Amerika dan Swiss. Sambil menyeruput kopi malam itu, dia sempat juga bercerita tentang sisi lain bekerja di luar negeri yang jarang diketahui orang.
"Orang lihatnya kita keren kerja di luar negeri, tapi kenyataannya berat," ujarnya dengan nada rendah hati.
Dia bercerita bagaimana dulu harus berbagi space apartemen bersama 2 teman demi bisa membayar sewa dan menabung. Di Swiss, dia bahkan memilih berjalan kaki dari rumah ke tempat kerja demi menghemat setiap keping mata uang Franc Swiss yang didapatnya. Perjuangan yang membentuknya menjadi sosok yang sangat menghargai proses.
Perjalanan kariernya pun tak selalu mulus. Setelah bosan di luar negeri, ia ingin kembali ke Indonesia, dan sekitar Juli 2002, dia sempat bekerja di Hard Rock Hotel Bali melalui lamaran internet. Namun, tragedi Bom Bali 1 meletus tiga bulan kemudian. Industri pariwisata lumpuh total, dan dia termasuk salah satu yang terkena imbas efisiensi.
Setelah sempat mencoba peruntungan di Jakarta yang serba mahal, dia akhirnya memilih kembali ke Bali. Baginya, meski gaji di Jakarta mungkin lebih besar, ia lebih memilih kualitas hidup dan ketenangan di Bali, dia mengaku meski gajinya tidak sebesar saat bekerja di Jakarta namun di Bali ia masih bisa menyekolahkan anaknya di sekolah internasional tanpa harus tercekik biaya hidup, baginya itu adalah kemewahan yang sebenarnya.
Menemukan "Hidden Gem" di Twin Tide Eatery Canggu
Kini, ia dipercaya mengelola Twin Tide Eatery, sebuah permata tersembunyi yang berlokasi tepat di Jl. Munduk Catu No.27, Canggu. Restoran ini adalah bukti nyata dari kreativitasnya dan keuletan dalam memanfaatkan peluang.
Dimulai sekitar tahun 2023-2024, ia membangun tempat ini dari nol di atas lahan milik Radian Villa yang dulunya hanya berupa taman dan gazebo luas.
Berada hanya beberapa langkah dari Echo Beach, Twin Tide Eatery menawarkan suasana yang sangat hangat dan "chill". Karena lokasinya menyatu dengan area vila, tempat ini memiliki privasi yang jarang ditemukan di hiruk-pikuk Canggu lainnya.
Saya harus katakan bahwa Twin Tide adalah definisi tempat yang dibuat dengan hati. Menu-menunya merupakan perpaduan antara kesegaran tropis Bali dengan cita rasa global, mulai dari smoothie bowls yang menyegarkan hingga hidangan favorit Indonesia yang autentik.
Kami tiba di sana pukul 10 malam, sementara restoran tutup pukul 11. Agar tidak merepotkan tim yang sedang bersiap closing, kami hanya memesan Cappuccino dan Wedang Jahe. Namun, keramahan staf di sana membuat kami merasa tidak sedang diburu waktu. Sebelum bubar, saya sempat melihat dia melakukan briefing singkat dengan 7-8 pekerjanya yang diakhiri dengan tepuk tangan meriah.
Ada rasa bangga melihat teman yang dulu cuek dan santai, kini menjelma menjadi manajer yang berwibawa namun tetap dekat dengan karyawannya.
Obrolan Ngalor-Ngidul dan Kabar dari Masa Lalu
Malam semakin larut, namun obrolan kami semakin hangat. Layaknya laki-laki (boleh juga hapus huruf L-nya) yang sudah makan asam garam kehidupan, topik kami meluas mulai dari hal pragmatis hingga kebijakan negara.
Wisnu yang memang hobi politik sempat menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Teman saya ini, dengan pengalamannya di luar negeri, memberikan perspektif menarik tentang bagaimana sekolah-sekolah di Jepang dan Amerika sana memberikan nutrisi bagi siswanya melalui program yang mirip. Kami bahkan sempat tertawa membahas tagar #kaburajadulu yang sempat viral.
Di tengah keseruan cerita, momen menjadi hening saat ingatan kami melayang pada teman angkatan kami yang berjumlah sekitar 450 orang. Kini, beberapa di antaranya telah mendahului menghadap Sang Pencipta. Kami pun sempat terdiam sejenak untuk mengirimkan doa.
Seolah menjadi firasat yang getir, saat saya berfoto berdua dan mengirimkannya ke grup WhatsApp alumni, Doli merespons dengan doa agar kami semua selalu sehat, sebuah pesan yang terasa begitu dalam, seakan ia tahu ada salah satu kawan yang tengah berjuang dengan kondisinya. Benar saja, hanya berselang sehari kemudian, tepatnya 14 Mei 2026, grup WhatsApp alumni dipenuhi deretan doa dan berita duka. Sahabat kami, Nurhafmi yang akrab disapa Jaung, telah berpulang ke haribaan-Nya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.
Kejadian ini benar-benar menampar saya. Pertemuan malam itu di Twin Tide Eatery bukan sekadar acara ngopi biasa, melainkan sebuah pengingat bahwa hidup ini begitu singkat dan rapuh.
Jangan Menunda untuk Bertemu
Sebelum pamit, kami saling bertukar doa untuk umur panjang. Saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengannya malam itu. Terakhir kami bertemu adalah tahun 2011, itu 15 tahun yang lalu! Bayangkan, jika malam itu saya menunda untuk datang ke Canggu, mungkin kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi.
Pelajaran yang saya bawa pulang malam itu adalah: Silahturahmi jangan pernah ditunda. Pekerjaan tidak akan pernah selesai, kesibukan akan selalu ada, namun menyempatkan waktu untuk seorang teman adalah sebuah kebaikan untuk jiwa kita sendiri.
Bagi kamu yang sedang berada di Bali atau berencana ke Canggu, saya sangat menyarankan untuk mampir ke Twin Tide Eatery. Bukan sekadar karena manajernya adalah teman saya, tapi karena tempat ini benar-benar memiliki jiwa. Kamu bisa menikmati suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Canggu, ditemani makanan yang dibuat dengan penuh rasa syukur.

- Alamat: Jl. Munduk Catu No.27, Canggu, Kec. Kuta Utara, Kab. Badung, Bali 80361.
- Website:
www.twintideatery.com - Instagram:
@twintideatery Lokasi Google Map: Twin Tide Eatery Canggu Bali - Informasi detail lainnya tentu ada di Website, Google Map dan instagram tersebut
Terima kasih untuk Om Blewy atas kopi dan wedang jahe serta waktunya. juga untuk Om Wisnu yang sudah mau mengantar-jemput saya dari Kuta ke Canggu dan kembali lagi. Sampai bertemu di Bekasi, seperti kata-katanya di WhatsApp, "Next ngopi di Bekasi bang", ya karena terakhir saya ngopi bareng Wisnu sekitar Desember 2025 di sekitaran Grandwis Tambun, Kabupaten Bekasi.
Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk selalu menyambung silaturahmi, berbagi berita, dan saling membantu dalam kebaikan. Karena pada akhirnya, yang kita bawa hanyalah amal kebaikan, doa dan kenangan indah di hati orang-orang yang kita sayangi. 🙏