Kebaikan Tidak Membutuhkan Tepuk Tangan

Benar dan merasa benar itu berbeda. Dari obrolan warung kopi Pasar Babelan, Ki Somad mengajak kita menguji niat, akal sehat, dan kebaikan.

Kebaikan Tidak Membutuhkan Tepuk Tangan

Pagi di depan Pasar Babelan selalu punya kesibukannya sendiri. Pedagang sayuran mulai merapikan lapak, tukang ojek mencari penumpang, sementara pembeli berjalan menyusuri lorong pasar dengan kantong belanja di tangan. 

Di antara suara tawar-menawar dan klakson sepeda motor, Warung Kopi Mpok Nining menjadi tempat orang berhenti sebentar sebelum kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

Di warung sederhana itulah Ki Somad biasa menghabiskan pagi. Mantan guru IPS itu duduk di bangku kayu dengan kopi hitam tubruk dan sebatang kretek. 

Di meja yang sama, Rian, pemuda tetangganya yang pandai mengaji Al-Qur'an, sedang membicarakan kegiatan sosial yang baru diikutinya. Wawan, mantan petugas ketenteraman dan ketertiban kantor desa, ikut mendengarkan sambil sesekali membetulkan posisi duduknya. 

Kadus Udin, yang sehari-hari berjualan sayuran, datang belakangan dengan wajah segar meskipun matanya masih terlihat mengantuk.

“Tadi malem kami bagi-bagi makanan buat orang-orang yang tidur di pinggir jalan,” kata Rian. “Alhamdulillah, banyak yang ikut bantuin. Senang rasanya bisa berguna buat orang lain.”

“Wah, bagus itu!” sahut Udin. “Kalo ada kegiatan bagi-bagiin makanan lagi, geroin saya yak. Saya bisa bantu-bantu ngapain ge.”

Rian tersenyum. “Bantu tenaga, Bang?”

“Bantu doa ge  bisa. Kalo tenaga saya lagi dipakai buat ngangkat karung sayur.”

Mpok Nining yang sedang menuangkan kopi ikut tertawa. “Kalo urusan makanan, Si Udin emang paling getap. Kalo urusan kerja bakti, mendadak ada urusan keluarga.”

“Lahhh jadi apa bae, itu namanya pembagian tugas, Mpok. Tuhan juga menciptakan manusia dengan kemampuan berbeda-beda.”

“Termasuk kemampuan menghilang saat kerja bakti?”

Tawa mereka membuat warung semakin ramai.

Wawan yang lagi asik ngelepus mbari ngopi tiba-tiba menyela.

“Menurut saya mah, perasaan senang itu justru penting. Kalo orang merasa bahagia setelah berbuat baik, berarti hatinya masih hidup.”

Rian mengangguk. “Betul, tuh kata Bang Wawan. Kita kan manusia. Wajar aja kalo merasa senang.”

Wawan mengangkat telunjuk, seolah menemukan kesempatan untuk mempertegas pendapatnya. “Nah, berarti semakin senang seseorang setelah menolong, semakin baik juga dia.”

Ki Somad yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan gelasnya.

“Kalau begitu, orang yang menolong supaya dipuji juga termasuk paling baik, Wan?”

Wawan terdiam sesaat.

“Ya, beda urusan, Ki. Kalau niatnya memang mau membantu, ya baik. Kalau cuma mau dipuji, baru masalah.”

“Terus bagaimana kita tahu niat orang?”

Wawan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Udin buru-buru menyeruput kopi, berusaha menyembunyikan senyumnya.

“Wah, mulai,” gumamnya. “Kalau Ki Somad sudah bertanya begitu, kopi saya bisa dingin sebelum jawabannya keluar.”

Perasaan yang Diam-Diam Menyamar Jadi Kebenaran

Wawan merasa Ki Somad sedang mempersulit sesuatu yang sebenarnya sederhana. Menurutnya, manusia perlu mengikuti perasaan. Kalau melihat orang kelaparan lalu tergerak memberi makanan, bukankah itu tanda kebaikan? Kalau seseorang merasa bangga setelah melakukan sesuatu yang bermanfaat, mengapa harus dicurigai?

“Kalau semua perasaan diperiksa, Ki, nanti orang mau berbuat baik saja kebanyakan mikir,” katanya agak kesal. “Ujung-ujungnya malah enggak jadi menolong.”

Ki Somad mengangguk pelan. “Saya enggak bilang perasaan itu harus dibuang, Wan. Saya cuma bilang perasaan jangan langsung diangkat menjadi ukuran kebenaran.”

Rian menyimak sambil memainkan sendok kecil di gelasnya.

Ki Somad melanjutkan, “Coba bayangkan orang yang marah karena merasa diperlakukan tidak adil. Dia yakin dirinya benar. Karena yakin benar, dia merasa berhak membalas. Padahal belum tentu dia memahami seluruh persoalan. Perasaannya nyata, tetapi kesimpulannya belum tentu tepat.”

Wawan mengerutkan dahi. Ia pernah menghadapi banyak keributan ketika bertugas di kantor desa. Dua warga berselisih soal batas tanah, masing-masing membawa saksi, masing-masing merasa paling benar. Bahkan sebelum persoalan diperiksa, keduanya sudah saling menuduh.

“Saya pernah menghadapi yang begitu,” katanya. “Dua-duanya datang minta dibela. Kalau saya dengarkan yang satu, yang lain dianggap salah. Begitu dibalik, ceritanya juga masuk akal.”

“Nah,” kata Ki Somad. “Merasa benar itu pengalaman di dalam diri. Benar atau tidaknya sesuatu tetap perlu diperiksa.”

Di warung, suara pedagang buah terdengar menawarkan dagangan. Mpok Nining mengantar kopi ke meja sebelah, sementara seorang pembeli meminta tambahan gula. Kehidupan terus berjalan, seolah tidak peduli bahwa empat orang di sudut warung sedang berusaha memahami salah satu persoalan paling tua dalam kehidupan manusia.

Rian kemudian mengutip sebuah pengingat yang sering ia temui dalam pelajaran agama: jangan sampai kebencian kepada suatu kaum membuat seseorang berlaku tidak adil. Ia merujuk pada Surah Al-Ma'idah ayat 8, yang mengingatkan orang beriman agar tetap berlaku adil.

“Berarti meskipun kita merasa punya alasan kuat, kita tetap harus menjaga keadilan,” kata Rian.

“Betul,” jawab Ki Somad. “Sebab kalau ukuran benar hanya perasaan kita sendiri, orang yang kita sukai akan selalu terlihat baik, sedangkan orang yang tidak kita sukai akan selalu terlihat buruk.”

Udin mengangguk serius, lalu berkata, “Pantas Mpok Nining selalu menganggap saya salah.”

Mpok Nining menoleh dari balik meja. “Karena memang abang sering salah!”

“Lihat, Ki. Belum diperiksa sudah divonis!”

Tawa kembali memenuhi warung.

Menolong Orang atau Sedang Memuaskan Diri Sendiri?

Pembicaraan beralih ke kegiatan sosial Rian. Wawan masih penasaran. Baginya, menolong orang tetaplah perbuatan baik meskipun pelakunya merasa senang setelah melakukannya.

Ki Somad tidak membantah. Ia justru bertanya, “Kalau kita memberi makan orang lapar, lalu kita merasa bahagia, apa itu salah?”

“Enggak,” jawab Rian cepat.

“Kalau kita mengunggah foto saat memberi makan, supaya orang lain tahu kegiatan itu dan ikut membantu, bagaimana?”

“Bisa jadi bagus,” kata Rian. “Kalau tujuannya mengajak orang lain.”

“Kalau supaya dianggap paling dermawan?”

Rian terdiam. Wawan ikut diam.

Ki Somad tidak meneruskan dengan ceramah. Ia hanya mengaduk kopi yang sudah hampir dingin.

Perbuatan yang sama memang bisa lahir dari niat yang berbeda. Ada orang yang membantu karena sungguh-sungguh peduli. Ada yang ingin mengajak orang lain melakukan hal serupa. Ada pula yang lebih sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Dalam kehidupan nyata, niat manusia bahkan bisa bercampur: ingin membantu, ingin dihargai, sekaligus ingin merasa dirinya berguna.

Tidak mudah menilai isi hati seseorang hanya dari apa yang tampak di luar.

“Tapi, Ki,” Rian akhirnya bicara, “kalau akhirnya orang lapar itu tetap mendapat makanan, bukankah manfaatnya nyata?”

“Ya. Manfaatnya tetap ada,” jawab Ki Somad. “Pertanyaannya, setelah itu apakah kita berhenti memikirkan kebutuhannya, atau justru merasa urusan kita selesai karena sudah memberi?”

Rian mengangkat wajah.

Ki Somad mengambil sepotong gorengan dari piring tengah. “Kalau orang haus, kita kasih minum. Bagus. Tapi kalau dia setiap hari kesulitan mendapatkan air, mungkin kita juga perlu memikirkan kenapa dia kesulitan. Memberi segelas air bisa menolong hari ini. Mencari jalan agar dia mendapat air besok juga penting.”

Wawan mulai mengangguk. Ia memahami perbedaan antara bantuan sesaat dan upaya memperbaiki keadaan.

“Jadi bukan berarti perasaan bahagia setelah menolong itu palsu?” tanyanya.

“Bukan begitu. Rasa bahagia bisa datang dengan sendirinya. Yang perlu diperiksa adalah apakah kita menjadikan rasa bahagia itu sebagai tujuan utama, sampai lupa pada orang yang kita tolong.”

Udin mengangkat gelasnya. “Kalau saya mentraktir teman kopi, terus saya senang, berarti masih aman, Ki?”

“Selama bukan kopi utangan yang belum abang bayar.”

Mpok Nining langsung menyambar, “Nah, itu persoalan yang lebih mendesak!”

Udin terkekeh. Wawan tertawa sambil menggelengkan kepala. Ketegangan yang tadi sempat muncul mulai mencair, tetapi pertanyaan Ki Somad tertinggal di benak mereka.

Kebaikan yang Tidak Membutuhkan Tepuk Tangan

Menjelang siang, pasar semakin ramai. Rian bersiap pulang, sementara Wawan masih duduk memandangi sisa kopi di gelasnya. Ia teringat masa ketika bertugas menjaga ketertiban. Tidak sedikit orang yang merasa tindakannya benar hanya karena memiliki alasan sendiri. Ada yang melanggar aturan karena merasa sedang membantu keluarga. Ada yang memaksa kehendak karena menganggap dirinya sedang membela kepentingan bersama.

Semua punya cerita. Semua merasa punya alasan.

“Ki, berarti kita harus curiga sama diri sendiri terus?” tanya Wawan.

Ki Somad tersenyum. “Bukan curiga. Memeriksa.”

Ia lalu menunjuk sebuah gelas di meja. “Kalau gelas ini kelihatan bersih, apa berarti pasti bersih?”

“Ya diperiksa dulu,” jawab Rian.

“Kalau kita merasa sudah berbuat baik, apa salahnya sesekali memeriksa apakah perbuatan itu benar-benar membantu?”

Tidak ada yang menjawab.

Ki Somad membiarkan pertanyaan itu menggantung, seperti orang meletakkan sesuatu di atas meja lalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihatnya sendiri.

Kebaikan tidak harus kehilangan kehangatannya hanya karena kita mengajak akal sehat ikut bekerja. Perasaan bisa menggerakkan seseorang untuk menolong, tetapi pertimbangan yang jernih membantu kita menentukan cara menolong yang tepat. Keyakinan bisa memberi arah, tetapi kerendahan hati menjaga kita agar tidak menganggap diri sendiri selalu benar.

Rian merapikan pecinya. Wawan berdiri sambil membayar kopi. Udin masih bertahan di bangku, rupanya belum selesai menikmati pagi.

“Bang Udin, enggak pulang?” tanya Mpok Nining.

“Sebentar lagi, Mpok. Saya sedang mengevaluasi kualitas kopi.”

“Dari tadi gelasnya sudah kosong!”

“Justru itu. Berarti kualitasnya bagus sampai enggak bersisa.”

Ki Somad tertawa kecil. Di luar warung, matahari meninggi dan orang-orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Mungkin tidak ada yang berubah besar pagi itu. Rian tetap ingin membantu orang, Wawan tetap percaya pada pentingnya perasaan, dan Udin tetap punya alasan untuk memperpanjang waktu ngopi. Ki Somad pun tidak merasa perlu mengakhiri percakapan dengan sebuah nasihat panjang.

Namun, barangkali ada satu hal yang bisa dibawa pulang dari warung sederhana itu: merasa benar tidak selalu sama dengan benar, sebagaimana merasa baik belum tentu berarti kita sudah memahami apa yang dibutuhkan orang lain.

Kita boleh bahagia setelah berbuat baik. Kita boleh bangga ketika berhasil membantu. Kita bahkan boleh merasa tersentuh oleh penderitaan orang lain. Tetapi sesekali, di tengah perasaan yang hangat itu, ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: apakah yang sedang kita perjuangkan benar-benar kebaikan, atau sekadar gambaran tentang diri kita sebagai orang baik?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Mungkin juga tidak menghasilkan jawaban yang bisa dibanggakan di depan orang lain. Tetapi justru di ruang sunyi antara apa yang kita rasakan dan apa yang sungguh-sungguh kita lakukan, kita berkesempatan mengenali diri sendiri dengan lebih jujur.

Sebab pada akhirnya, yang paling sulit bukan menemukan kesalahan orang lain.

Melainkan tetap bersedia memeriksa diri sendiri, bahkan ketika hati kita sudah telanjur berkata bahwa kita benar.




Posting Komentar

No Spam, Please.