Tak Semua Jalan Itu Membawa Pada Apa Yang Diinginkan

Apakah Rasa Harap itu adalah bagian dari sebuah kemaksiatan? Tentu tidak! Karena Islam itu adalah agama yang memiliki jalan keluar yang baik

Perjalanan Dari Sebuah Hasil Yang Tak Sesuai..
Cara Anak Muda Kini Memandang Harapan..

“Tak Semua Harap Itu Sesuai Dan Tak Semua Jalan Itu Membawa Pada Apa Yang Diinginkan”


Tak Semua Jalan Itu Membawa Pada Apa Yang Diinginkan

Kita hanyalah manusia biasa yang pasti setiap manusia memiliki rasa harap yang teramat diinginkan. Bukankah tak salah karena rasa harap adalah sebuah anugerah dari Illahi. 

Sebuah rasa yang terkadang menjadi pemicu rasa semangat yang teramat besar, selalu memberikan semangat dan selalu bisa membangunkan harapan. 

Tak ada masalah pada rasa dan tak ada pula salah pada rasa harap manusia, karena tidaklah Allah menciptakan sebuah rasa harap semata-mata untuk menyiksa. 

Justru Allah turunkan sebuah rasa pengharapan untuk bisa menjadikan seorang manusia memiliki sesuatu hal yang menjadi pemicu dalam hidupnya.

Rasa adalah pemberian  Allah dan kasih saying-Nya. Allah menanamkan rasa dalam diri kita dan rasa harap juga adalah bentuk bahwa inilah cinta dan kasih sayang pada hamba-Nya dengan tujuan semata-mata agar kita terus dan selalu berpikir tentangnya.

Allah menjadikan kita memiliki rasa harap terhadap apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sama halnya seperti Allah jadikan rasa harap kepada apa yang kita inginkan di dunia.

Allah SWT lah yang mengaruniakan rasa, Maka mustahilah Allah mengaruniakan yang buruk kepada hamba-Nya. Dan hakikat rasa itu luas, maka jangan lah kita mempersempitnya dengan kenafsuan, maka dari itu janganlah karena maksiat lantas kita merendahkan kasih sayang Allah yang teramat tinggi pada hambanya. 

Karena Islam mengajarkan bahwa rasa adalah kasih dan mengasihi seperti hal layaknya yang selalu kita rasakan, mulai dari seorang Ayah kepada ibu dan kepada kita sebagai anaknya.

Apakah Rasa Harap itu adalah bagian dari sebuah kemaksiatan? Tentu tidak!

Islam selalu memberikan kita kompas untuk menjadi arah laju rasa agar selalu berjalan pada koridor yang semestinya, Menyediakan aturan agar kita tahu bagaimana cara kita menunaikan rasa harap kepada suatu hal yang kita inginkan. 

Rasa harap kepada apa yang kita harapkan, maka berbicara perihal rasa harap kepada suatu hal yang ingin sekali kita gapai, pilihan terbaiknya adalah harapkanlah apa apa yang bisa kamu harapkan dan apa apa yang bisa kamu ikhtiarkan dengan baik agak berkah lagi barokah, Insyaallah.

Berbalik dari apa yang kita bahas di atas, Islam tentu melarang keras segala sesuatu bentuk pengaplikasian rasa harap yang tak baik, Mengapa?  

Karena Islam itu adalah agama yang memiliki jalan keluar yang baik dan mencegah sebuah suatu hal yang dirasa kurang tepat, dari para rasa harap yang tidak semestinya dan harap yang tidak baik adalah bagian dari harap yang merusak.

Tak Semua Jalan Itu Membawa Pada Apa Yang Diinginkan

Sayang demi sayang, umat islam di zaman sekarang hidup dalam kelilingan masyarakat yang sebagian besar salah dalam memahami rasa harap. Hidup dalam orang-orang yang memiliki harapan yaitu kepuasan diri dengan melakukan perbuatan yang Allah tak suka, yang mereka anggap itulah sebuah rasa dari harapan.

Kesucian dan kebaikan dari sebuah rasa harap sudah tidak ada lagi muka di sisinya, kemuliaan dan marwah diri tak ada daya dalam pikirnya dan telah berganti dengan pergaulan yang tak bisa menjunjung harapan yang dimiliki. 

Nongkrong tiap hari, menghabiskan sisa waktunya dengan bercanda gurau sambil meminum kopi dan menghabiskan malam dengan itu.

Apapun kegiatannya. Berusaha memuaskan kesenangan diri mereka dengan harapan-harapan yang tak mereka salurkan menjadi sebuah aksi nyata yang dengan itu kita akan dapatkan harapan yang kita inginkan dan kita butuhkan, bukan dengan perbuatan yang kita rasa hal itu bahwa Allah tak akan mempertimbangkanya. 

Akan tetapi sayang demi sayang aksi yang kita kemukakan di hadapan Allah tidak ada yang menjunjung sebuah harapan yang kita inginkan dan seharusnya itu menjadi alasan mengapa Allah memberikan apa yang kita harapkan.

Maka sedari dinilah kita mendidik didik rasa agar ia menjadi sebuah aksi nyata dan dapat dinilai oleh Allah sebagai suatu kesungguhan dalam diri untuk menjadi baik dan semakin baik pada ketaatan, bukanlah diinjak oleh ketidakbaikan dalam pengharapan. 

Bimbinglah harapan agar menjadikanmu seseorang yang layak untuk mendapatkan apa yang kamu harapkan. Bukan hina yang ditanggung karena maksiat yang tak baik.



Penulis: Abdullah Al Faruq 
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Syariah STEI SEBI

Posting Komentar

No Spam, Please.