Fiksi Tanpa Judul

*** Fiksi Tanpa Judul ***


Fiksi Tanpa Judul

Suami

Aku terpekur di sisi tempat tidur. Kulihat derai airmata istriku masih membekas di bantal. 
Basah. Aku kecut sekali. Entah apa yang kurasa saat ini. Marah, kecewa, sedih.... nyerinya luar biasa. 

Malam ini sudah kali ke-tiga hp istriku kubuat berantakan dengan sim card yang patah jadi 2. Tapi anehnya, ia tak jera. Selalu dan selalu saja aku menemukan sms atau riwayat telpon dengan seseorang. Ya, seseorang yang disebutnya sebagai ayah ihsan. Laki-laki beristri yang sekarang menjadi teman curhat istriku. 

Nanar kutatap tembok kamar, aku tak mengerti.... sungguh .... aku tak melihat kekurangan dalam diriku. Sudah 12 tahun memang, pernikahanku dengannya tanpa kehadiran seorang anak. Tapi, itu sudah tidak kujadikan masalah. Lalu...???


Istri

Dengan wajah sembab aku pergi mengajar. Entah bagaimana bisa aku sembunyikan. Siapkah aku dengan pertanyaan murid-murid ku nanti???

Tak bisa kubayangkan bagaimana bibir-bibir mungil itu berebut mengajukan tanya. Dengan mata heran melihat gurunya. 

Ahh... berat kuhampiri sebuah warung penjual pulsa. Aku membeli kartu baru. Kucoba di hp yang sudah longgar di beberapa bagiannya itu. Alhamdulillah, its work. Dengan susah aku tekan keypad dengan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. 

Yap... tak ada yang bisa membuyarkan ingatanku padanya, dan segala tentangnya. Kudengar suaranya dari jauh, "Assalamualaikum sayang......."

Dan pagi itu aku tak meneruskan niatku mengajar. Aku ingin mencari ketenangan. Dengan berbagi dengan seseorang yang telah lama mengisi mimpiku siang dan malam. Ya, siang dan malam.....


Sahabat - Istri

"Aku ga ngerti apa yang kamu cari..?? Kalau memang dia lelaki sholeh seperti yang kamu yakini, apa dia mau melakukan ini ???

Lihat diri mu... kau muslimah berhijab... ilmu mu sudah mantap... Memiliki suami yang sudah mencukupkanmu... lahir dan batin. "Apa lagi yang kau cari...???"

Aku diam... penuh penolakan. Aku tak tahu, apakah cintaku pada suami sudah padam

Perapian itu hangat untuk orang lain. Aku sadar itu. Sahabatku, kau tak tau apa yang kurasakan. Suami yang seperti seseorang yang lewat, dan buang hajat. Aku adalah wc umum baginya. Tak ada sentuhan hangat, kecupan manja, kata-kata mesra.....

Bahasanya hanya kata-kata terlampau biasa. Bahkan penuh caci dan hina... guoblookk.... dengan logat jawa timur yang khas. 

12 tahun aku berhadapan dengan itu semua. Ayah ihsan berbeda. Kata-kata lembut menghujam sukma. Terlebih ungkapan manis dengan bahasa arab yang sangaaatt kusuka. Melelehkan rasa. Seperti siraman air di tengah padang savana. Air mata ku bisa menitik... air mata bahagia yang kurindu bagaimana rasanya. 

Maafkan sahabat... kau tak kan mengerti....
Aku pun tersenyum . Namun kali ini... hampa. 

"Aku mencintaimu dengan segala kekhilafanmu,  sekarang segeralah sadar saudariku. Sayangilah diri dan hijabmu. "

Hati ku tak lagi berbunga.


Fiksi Tanpa Judul


Suami - Istri

"Ayo...aku bawa kau ke rumahnya.... kalau dia benar-benar mencintaimu... akan aku serahkan kamu padanya. Aku ikhlaskan kamu buat dia. Ayoo.... kasih tahu di mana alamatnya...!!!!"

Lelaki itu dengan kasar menarik tangan istrinya. Jilbabnya koyak. Sementara sang istri menjerit meronta tak berdaya. Menangis.... marah, sedih... kecewa ....

Hancur hati....laksana gelas pecah berkeping. Meninggalkan luka...periihhh....

Terlebih sang kekasih telah memilih, untuk tidak melanjutkan lagi kisah indah yang telah terlanjur menjadi angan yang melenakan hari.... Lelaki lembut itu.... tak sanggup berpisah dengan sang istri. Bunda ihsan terkasih... tak sanggup ia menyakiti....

Laksana karang ia telah terbelah... takkan sanggup untuk dibayangkan. Tembok perkasa bernama mahligai pernikahan itu tumbang di depan mata. Setelah 12 tahun susah payah dibangunnya. 

Hilang sudah harapan...
Punah segala harga diri dan perasaan...
Tercabik... lara... teronggok tak berharga...
Sungguh durjana....

Kini hijab itu telah ternoda...
Karena pernah terlelap dalam belai manja.
Kekasih yang tiada hak menjamahnya...

Rabbi...
Wajah itu tak sanggup menunduk lagi...

Tenggelam...
Jauuuhh ke dalam tanah nan kelam..
Entah ke mana kini mencari pembenaran...
Andai kata maaf dan pengampunan tak lagi bisa didapatkan...

Kucari wajah kekasih sekali lagi...
Entah mengapa cengkraman tangan itu tak lagi bisa terasa sakitnya...
Karena nyerinya sudah berpindah...
Masuk ke dalam jiwa...
Yang kini hampa...
Sehampa-hampanya....


based on true story - berdasarkan kisah nyata
***- tadzkiroh buatku.


Penulis: Sri Suharni Maks 
Sabtu, 15 November 2014




comments

Lebih baru Lebih lama