Eksotisme Muara Gembong yang Tak Pernah Kehilangan Pesonanya

Eksotisme Muara Gembong yang Tak Pernah Kehilangan Pesonanya


Eksotisme Muara Gembong yang Tak Pernah Kehilangan Pesonanya



Jumat ini, 24 Agustus 2021 dapet kesempatan sowan lagi ke Muara Gembong, ujung utara Kabupaten Bekasi. Bukan relawan kalo ngayab jauh gini dengan tangan kosong. Tandang ke gelanggang pake tangan kosong emang hestegnya pendekar aja. Relawan jangan 😂✌. 

Setelah kali pertama ke Muara Gembong di momen pilkada kabupaten tahun 2016 lalu, gak pernah terlewatkan yang namanya berpetualang di tempat ini. Aslinya, udah kadung jatuh hati, soale jatuh bangun biar ngejar kamoh aja. #eaaqqq

Kesan gw tentang Muara Gembong masih sama gak pernah kehilangan eksotismenya

Pesona alam dan lautnya, menyajikan kehidupan masyarakat yang sangat stagnan, kontras dengan pembangunan infrastruktur yang gencar banget digalakkan ama presiden RI sejak 8 tahun terakhir. 

Jalanan yang mulus nyaris menyeluruh, jembatan besar dan kokoh yang jadi sarana penghubung yang vital antara pusat "keramaian" Muara Gembong dengan Desa Pantai Bakti yang dibelah Sungai Citarum. Toh Muara Gembong tak pernah bisa lepas dari transportasi utama masyarakatnya sejak dulu, perahu. 

Kayak hari itu, gw en the gank team 4 relawan emak-emak rempong dikawal ama 3 cowok relawan setempat, ditambah 2 potograper en 1 driver ambulan ngucluk dari Setu, Jatiasih dan Babelan ke Kp. Vietnam / Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong. 


Kenapa namanya Muara Bendera (yang jadi nama resmi kampung ini) ? 


Karena kampung yang wilayahnya meliputi Daerah Aliran Sungai Citarum menuju laut ini dipenuhi dengan jajaran kapal-kapal nelayan dengan aneka bendera yang menghiasinya. Dari bendera merah putih, bendera tauhid, bendera parpol, bahkan bendera hitam polos yang mengingatkan gw ama buku Bidayah wal nihayah 😂😂😂. Meriahhh ! 

Trus kenapa nama lainnya adalah kampung Vietnam ? Menurut inpo Tatang Sutrisna 🤣, bukan dink, info warga setempat karena kampung ini isinya kebanyakan bukan orang aslu Muara Gembong meskipun bukan asal Vietnam juga 😂. 

Seperti daerah muara-muara lain yang ada di Muara Gembong ( Muara Kuntul, Muara Bungin, Muara Pecah, Muara Mati, Pantai Beting ) masyarat di tempat ini adalah pendatang yang berlayar / melaut dari daerah semisal Cirebon, Indramayu, Banten dan lain-lain. 

Dan tersebab jarak yang lebih dekat ke Jakarta dari pada ke Cikarang, maka warga lebih banyak bermuamalah ke daerah utara Jakarta. 

Gak heran kapal-kapal kayu di tempat ini jadi alat transportasi yang mengantarkan orang-orang Muara Bendera belanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tangguh yaa 😍. Bayangin aja, sekedar ke kantor kecamatan aja, dari Muara Bendera kita kudu nempuh perjalanan sekitar 1 jam sekali jalan dengan naek perahu. Akibatnya, gw ngerasain jetlag plus kuping budegh pas mendarat. Yaa salaammm. 

Biar gitu, gw sih gak kapok 😆 apalagi perahu kita sarat ama 90 paket sembako dari Sebar Nabung, 17 daster mood boosternya emak-emak, 100 paket nasi, kue-kue, teh kotak ampe es rujak, kayak bakalan sowan ke hutan 😆, plus rombongan "orang gila " yang gak berenti ngocol sampe ngakak. Adaa baee siy tema lawakannya. 

Eksotisme Muara Gembong yang Tak Pernah Kehilangan Pesonanya


Eksotisme Muara Gembong juga jadi tempat hunting foto yang ajib buat 3 potograper yang ikut bareng gw en teman-teman. Gak aneh kalo nanti akan banyak foto-foto asoyy yang bertebaran di time line. 

Ohh iyaa, kita juga sekalian berkunjung ke Tempat Konservasi Lutung Jawa loohhh, yang letaknya diujung Muara Bendera. Sayangnya dimari cuman bisa ngeliat kawanan monyet jenis Monyet Ekor Panjang yang lumayan agresif kalo ketemu orang. Next yaa ceritanya. 

Alhamdulillah, jazakumullah khairan buat teman-teman en para donatur. Barakallahu fiik. 
#ceritamaks
#ceritarelawan
#sinergiHebat

Penulis: Sri Suharni
Sabtu, 25 September 2021

comments

Lebih baru Lebih lama