Kritik boleh, menghina jangan?

Kritik boleh, menghina jangan?


Seringkali tanpa sadar, kita memaksakan baju kita ke tubuh orang lain. Padahal, tubuhnya beda, isi kepalanya beda, lingkungannya beda, dan masanya juga sangat jauh berbeda.

Ekspresi generasi milenial pun beda. 

Di kantor saya, saat aplikasi online bermasalah, dan orang-orang kelimpungan karena pekerjaan terhambat, ada di antara mereka yang bikin video kreatif: menambahkan efek musik, menambahkan celotehan lucu, dll.

Tentu saja mereka dikenai sanksi disiplin. Dianggap melecehkan marwah organisasi yang semestinya mereka jaga. 

Seharusnya, apabila mereka merasa kecewa, mereka menulis usulan nota pendapat kepada Kepala Seksinya, lalu secara berjenjang Kepala Seksi menulis ND kepada Kepala Bidang, Kepala Bidang kepada Direktur, Direktur kepada Dirjen, dan Dirjen kepada Menteri. Menteri akan mendisposisikan kepada Sekjen, Sekjen disposisi kepada Kepala Biro, Kepala Biro kepada Kepala Seksi terkait, dan Kepala Seksi kepada pelaksana di bawahnya untuk melakukan perbaikan aplikasi.

Agak panjang, tapi ya memang prosedurnya seperti itu, bukan lewat "kritik kreatif" melalui media sosial. Status mereka bukan lagi mahasiswa, lho.

Kalo mahasiswa sih, ya boleh-boleh saja. Pake video, atau meme pun boleh. Mengkritik presiden, boleh juga. Bahkan mungkin harus. 

Lah, bukannya suara mahasiswa itu yang paling minim kepentingan, yang paling dekat dengan suara rakyat?

Kritik boleh, menghina jangan? 

Ya tergantung sudut pandang aja, sih. "Video kreatif" bikinan pegawai milenial menurut yang bikin itu kritik. Tetapi menurut Pejabat Pembina Kepegawaian adalah penghinaan. Mirip-mirip itulah.

Yang marah-marah karena merasa presidennya dihina, mungkin lupa, dulu mereka juga pernah menurunkan seorang presiden, dimulai dengan kritikan, yang menurut pejabat pemerintah waktu itu adalah penghinaan, fitnah, atau minimal pembocoran rahasia negara. 😊😊😊

Eh, masih ingat kan, ada buku Gurita Cendana, ada stensilan Asmara Putra Mahkota, dll, dll., yang kita percaya 99 %, tanpa keinginan membaca versi lainnya?

Saya yakin, para mahasiswa saat ini pun "mengoleksi" narasi-narasi semacam yang dikoleksi oleh senior-seniornya puluhan tahun yang lalu. 

Berita media mainstream sudah dianggap omong kosong, sudah dikooptasi oleh kekuasaan. Maka, mereka pun lebih percaya pada narasi-narasi tandingan

Dan, saat ini sudah ada smartphone. Narasi tandingan sangat-sangat mudah didapatkan. Gak perlu lagi, malam-malam ke tukang fotokopi, biar enggak dikuntit sama intel.

Tinggal gugling, apa yang kita mau tahu disajikan di layar kita. Dan sedihnya, smartphone akan menyeleksi "apa" yang ditampilkan sesuai preferensi kita. Sesuai profil kita. Dan bisa ditebak kan, apa yang "diyakini" adik-adik kita itu makin kuat karena yang ditampilkan Google mendukung "keyakinan"-nya itu?. (Algoritma Filter Bubble dan Echo Chamber)*

Dunia selalu berubah. Di mana-mana. Bukan hanya di kota-kota besar.  

Di Jogja, tahun 2002, toko buku Vox Populi yang saya kelola terpaksa tutup karena saya harus bekerja di Jakarta.

Sebenarnya sewa tempat masih 2 tahun lagi, tapi penjualan tidak terlalu menggembirakan. Terpaksa dioperkontrakkan. Kios buku beralih rupa menjadi kios handphone dan pulsa.

Tidak terlalu mengagetkan, karena mahasiswa saat itu baru menemukan mainan baru yang lebih mengasyikkan daripada buku.

Dan sekarang, sembilan belas tahun kemudian, saya tidak kaget saat ada mahasiswa menyampaikan aspirasinya melalui meme. 

Ah, biasa aja kale...


Penulis: Heri Winarko 
Selasa, 29 Juni 2021.


----------------
* catatan dari cikarangindustrial.com

Filter Bubble

Istilah Filter Bubble diciptakan oleh aktivis internet Eli Pariser dalam bukunya, "The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You" (2011).  Filter Bubble singkatnya di mana situs menggunakan algoritma secara selektif mengasumsikan informasi yang ingin dilihat oleh user dan kemudian memberikan informasi sesuai dengan asumsi tersebut

Media sosial yang menggunakan algoritma ini biasanya menggunakan data-data user berdasarkan data browsing history, lokasi atau penelusuran sebelumnya. Hal ini mengakibatkan, akun media sosial hanya memberikan informasi-informasi yang sesuai dan berkaitan dengan history sebelumnya. Tidak  ada keberagamaan informasi mengakibatkan pengguna menjadi terisolasi secara intelektual.

Misalnya saja, Anda sering melakukan penelusuran terkait topik tertentu contohnya: calon Presiden no.17, maka di akun sosial media Anda akan banyak informasi-informasi yang berkaitan dengan calon Presiden no.17 tersebut tanpa konfirmasi Anda sebelumnya. 

Atau misalnya saja Anda sering melakukan pencarian tentang topik "Conspiracy Theory" maka topik ini akan sering pula muncul di akun sosial media Anda. Inilah yang disebut pengguna menjadi terisolasi secara intelektual, artinya pengguna hanya menerima informasi yang sama. Informasi yang disesuaikan dengan data-data pencarian Anda sebelumnya, dan ini sangat mempengaruhi kesan Anda terhadap informasi.

Eco Chamber

Eco Chamber adalah ruang atau medium di mana orang hanya menerima informasi yang sama, dan memperkuat pendapat sendiri. Hal ini sangat berbahaya khususnya bagi pengguna sosial media yang dapat menimbulkan bias konfirmasi. 

Bias konfirmasi di sini berarti Anda hanya menginginkan atau menyukai informasi yang hanya dapat memperkuat keyakinan anda terhadap informasi tersebut. Di media sosial Anda akan sangat mudah menemukan orang-orang atau informasi yang sependapat dengan Anda dari berbagai latar belakang.

Eco Chamber ini berkaitan erat dengan Filter Bubble yang telah dibahas di atas. 

Jika Filter Bubble berdasarkan data atau history pengguna, maka Echo Chamber berdasarkan kesamaan informasi antar pengguna. 

Contohnya: informasi dan orang-orang yang mendukung calon Presiden no.17 akan sering ditampilkan kepada Anda. Dengan tidak adanya informasi tandingan atau keberagamaan informasi di luar perspektif Anda, hal ini akan mengakibatkan Anda semakin terjebak dalam bias konfirmasi.


comments

Lebih baru Lebih lama