DILEMA SURYA - Masalah idealisme, itu jadi urusan kamu dengan Tuhan


“Oke Dakota Lovers, sebagai lagu penutup, saya mau kasih kamu-kamu semua satu lagu manis dari Geisha, check it outand good day for you all.”

Surya menutup siarannya siang itu. Melepas headset, dan keluar dari studio. Harry mengacungkan jempol manisnya di balik ruang programmers. Surya membalasnya dengan senyum lebar sambil mendongakkan kepala. Di meja depan, dilihatnya Yanti yang seksi melambaikan surat keterangan siaran yang harus ditanda tangani.

“Cerah banget Mbak….” Canda Surya sambil membubuhkan paraf.
“Alaaaah, jangan ngegombal lah….. Tuh dipanggil Bang Tobing…” ucap Yanti sambil mendongakkan dagunya ke arah ruangan di ujung lorong.
“ Ada apaan ya Mbak,? Perasaan minggu ini gue full siaran,” tanya Surya sedikit wondering.
“Mene ke tehe….. tanya aja langsung sama orangnya,” jawab Mbak Yanti sedikit genit.

Surya bergegas menuju ruang pimpinan sekaligus pemilik stasiun Radio Dakota yang telah 2 tahun menjadi tempat kerjanya.

“Eeeehhh…ballpoint-nya jangan dikantongin doong,” seru Yanti.
“Oooiyaaa…sori Mbak..”
Yanti memanyunkan bibirnya.

Surya mengetuk pintu.
“Ya masuk…” terdengar suara dari dalam. Surya membuka pintu.
“Abang panggil saya?” tanya Surya.
“Oh iya….duduklah Sur.” Bang Tobing membalik badannya dari posisi semula menghadap komputer.

“Begini, Sur. Kemarin ada Pak Djuanda dari agency datang ke mari. Dia sudah mendengar contoh vokal dari semua penyiar Radio Dakota. Katanya dia butuh contoh vokal buat jingle iklan kliennya.” terang Bang Tobing.
“Terus bang, kenapa? Saya suruh rekam suara saya waktu siaran?” tanya Surya antusias.
“ Bukan,Sur…..begini, dia butuh secepatnya, kalau perlu senin depan kita udah take. Ceritanya kemarin sekalian, semacam audisi lah….Pak Djuanda cocok sama suara kamu. Katanya suara kamu tuh berkarakter, lugas,nge-beat nya pas…”

“ Jadi Bang..?”
“Ya,besok sore, Pak Djuanda dan klien nya yang mau take vokal kamu mau datang ke mari. Gimana.?”
” Wwwahhh…ya mau banget dong Bang,” seru Surya girang.
“Oke, jam 3 besok kamu siap ya.Kita mau omong-omong teknis dan masalah kontraknya.”
“Siipplah Bang, ehm,by the way busway, untuk iklan apa ya?” Tanya Surya.
“ Iklan rokok, Sur. Rokok Super Bye,” Jawab Bang Tobing mantap.

Hmmmmm.......

Malam itu nyaris Surya tak mampu memejamkan mata. Pikirannya melayang, ngenes, tepatnya. Bagaimana tidak, ini kesempatan emas bagi seorang penyiar radio seperti dirinya. Mengisi narasi untuk iklan, suaranya akan meng-Indonesia. 

Bukan itu saja, kesempatan ini bakal jadi membuka lebar kesempatan buatnya untuk iklan-iklan berikutnya, atau menjadi batu loncatan menuju cita-cita besarnya sebagai penyiar televisi. Full action, full expression!, tapi kenapa harus iklan rokok sih?.

Surya membalik badannya menghadap tembok, matanya tertumbuk pada poster sebuah LSM gerakan anti rokok dan merokok. Terbayang hari-hari yang telah ia lewati dalam gerakan mengkampanyekan kepada masyarakat tentang bahaya merokok, baik bagi perokok itu sendiri juga bagi orang di sekitarnya. Ia juga tercatat sebagai pengurus inti LSM tersebut.

“Tapi mereka kan gak tahu  kalo kamu yang mengisi vokal iklan rokok itu,” kata batinnya.
“Sampai kapan mereka gak tahu?, lama-lama mereka pasti tahu,” kata hatinya yang lain.
“Beri saja mereka uang hasil iklan itu. Kamu tahu kan sebuah gerakan butuh biaya operasional yang besar, mereka pasti senang kalo ada yang kasih uang.”

“Tapi itu tidak jujur!.”

Mata Surya terasa berat sudah. Dan perang batin itupun tak juga menemukan pemenang.

Setengah hati Surya ikut meeting di Ruang kerja Bang Tobing dengan Pak Djuanda, rapat itu juga dihadiri beberapa staf dari agency, tak luput juga pihak dari Rokok Super Bye.

Surya menerima teks narasi yang harus ia pelajari dan juga kontrak iklan yang harus ditandatangani. Dengan gemetar surya memegang pena, nanar di tatapnya jumlah uang yang tertera dalam kontrak itu. Rp 55 juta, belum termasuk komisi bila ia ikut tour promo bagi produk rokok yang ia iklankan.

Hadduuhhh, terbayang ucapan Bang Tobing tadi siang saat briefing.

"Pokoknya Sur, Abang bahagia banget dengan proyek kita ini. Ini akan jadi langkah yang sangat baik sekali untuk kelangsungan hidup radio kita. Kau tahu lah, sekarang pendengar radio sekarang gak seperti era 80-an, waktu Bapakku masih pegang ini stasiun radio. Bahkan beberapa competitor kita sudah banyak yang gulung tikar…bla…bla.” 

Kalau Bang Tobing sudah menceritakan idealismenya saja yang membuatnya masih bertahan mengelola stasiun radio ini, tak mengikuti jejak para pesaing-pesaingnya menjual stasiun radio untuk dijadikan ruko, atau ceritanya tentang cita-cita besarnya dengan radio Dakota miliknya. Aarrghhh, sudah hafal benar dengan cerita usang itu dari bibir Bang Tobing. Tak tega rasanya mengkhianati.

"Tapi, ini kan idealisme kamu juga, Surya," bisik batinnya.

Surya menghembuskan nafasnya kuat-kuat, tak sengaja matanya tertuju pada mata Bang Tobing yang kepalanya mengangguk-angguk padanya, seolah memberi kekuatan. Terbayang wajah Yanti yang tersenyum seksi, terbayang pula wajah Rafly yang setia di ruang Programmers. Aahhh,tak tega rasanya Surya menjejakkan kecewa buat mereka. Dan tangannya pun menari di atas selembar surat kontrak iklan.
---
Mana yang terbaik yang mau kamu lakukan. Urusan itu membebani jiwa kamu, mungkin kamu butuh waktu lagi saja untuk menentukan pilihan. Masalah idealisme, itu jadi urusan kamu dengan Tuhan.

"Sebenarnya, kami, khususnya saya pribadi, tak menuntut loyalitas berlebihan kepada setiap anggota Sur. Saya sendiri mengandalkan kesadaran moral masing-masing individu saja. Mereka bergabung dengan gerakan ini secara sukarela, tanpa intervensi, apalagi paksaan. Masalah motivasi dan bagaimana mereka ke depan, dengan urusan domestik masing-masing aktivis, itu sama sekali di luar kewenangan kami. Jadi, yaaa, saya gak bisa memberi kamu saran apa-apa, soal kamu harus bagaimana. Hanya saja, saya meminta dengarkan sajalah kata hati kamu. Mana yang terbaik yang mau kamu lakukan. Urusan itu membebani jiwa kamu, mungkin kamu butuh waktu lagi saja untuk menentukan pilihan. Masalah idealisme, itu jadi urusan kamu dengan Tuhan.”

Demikian kata Firman, ketua gerakan masyarakat anti rokok dan merokok, panjang lebar. Pria berkacamata yang usianya baru sekitar 35 tahun itu memang selalu bijak bila memberikan pandangan atas suatu masalah. Memang pantas ditunjuk sebagai ketua.

Surya menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghempaskannya tertahan, hatinya mulai goyang. Tapi kontrak sudah terlanjur diberi tanda tangani. Harus bagaimana? Matanya nanar menatap kumpulan anak-anak kampung yang bertelanjang dada sedang bermain sepak bola di kejauhan sana. Ahhhh senangnya menjadi mereka.


“Ayo Sur, dari tadi ketinggalan terus nih.”

Teriak Firman, sepedanya sudah jauh meninggalkan sepeda yang Surya naiki.

Setengah terengah Surya mempercepat kayuhannya, “Haahhh, nafasmu sudah senen kemis begitu, jarang olah raga sih, atau, jangan-jangan kamu udah mulai ngerokok lagi ya?” tebak Mas Firman.

“Engga lah... bang... aku... cuma.. jarang.. olah raga .. lagi... ajah.... udah... gitu... aku... sekarang sering... siaran... malam.... hhhhhh” jawab surya dengan nafas terputus-putus yang disambut dengan derai tawa Firman. Dalam hati Surya mendapat ide cemerlang.

“Ayyyyooooookkkkk......  serang... oper... oper.... ahkkkkhhhh... dodol.....” Dengan suara lantang surya menyemangati pemain sepak bola di sebuah stadion olahraga lokal. Full teriak,f ull action... lebbbayy pokoknya.

“Hhaaahhhhh .... tendang... ke kiri-ke kiri.... tendang.... aahhhh....” teriaknya dengan keras.

Rafly geleng-geleng kepala melihat kelakuan Surya. Yanti dan Lia sahabatnya, ngerasa bete habis. Di sms Surya bilang mau ngajak nonton bareng. Tapi sumpah gak bilang kalo nonton bola gini. Mending kalo yang bertanding tim nasional, bisa liat yang keren dikit, lha..ini, sepak bola kelas tarkam di tonton, mubazir udah dandan rapi jali gini. Untung ga hujan, becek, ga ada ojek... halah.

“Sur... udah dong... ngapain sih kamu teriak-teriak gitu... emang yang main siapa sih? Saudara kamu?” ujar Yanti putus asa.

“Bukan sih Mba, yaa namanya cinta tanah air Mbak, kita kan kudu dukung kegiatan positif gini. Siapa tahu mereka juga bisa jadi atlet nasional yang akan membela negara kita Mbak.Yang kita bisa lakukan ya begini ini,” ucap Surya sok nasionalis.

"Tapi Sur, gua gak lihat supporter lain yang teriaknya se heboh elo deh. Malah gua liat, elo yang jadi tontonan karena teriak-teriak ga jelas dari tadi,” timpal Mas Rafly.

“Ya justru itu mas,biar mereka semangat main nya,” jawab Surya sambil menenggak es teh yang merknya ga jelas karena ada dalam bungkus plastik kiloan.

“Tapi, Sur...kamu kan harus jaga suara kamu.. Tuh.. udah teriak-teriak ga jelas dari tadi, minumnya es gituan lagi... besok kamu kan harus take vokal iklan kamu....” Kata Yanti.

“Ahhh, ga papa Mba....” Jawab Surya

“Tuh kan suara lo udah serak gitu. Lagian elo tuh dukung kesebelasan yang mana sih? Kok ke kanan teriak, ke kiri lo juga teriak,” Timpal Rafly. Sedangkan Lia, asyik sendiri dengan HPnya.

“Dua-duanya Mas......Ayyyyoooo.. oper... oper... tembaakkkk.... ahhhhh.....” Surya mulai lagi.

Mbak Yanti dan Mas Rafly pun pasrah melihat kelakuan Surya.

---

Esok hari nya.
"Oke,Surya.....take.....1..2...3..."
“Rokok Super Bye.... rokok kita... aroma nya man...ttaapp.”
“Cut....cut....”
“Surya...suaranya kok begitu...ulang lagi ya....take...1...2...3....”
“Rokok Super Bye....sensasi...ra...s..aa....” Vokal Surya tercekat, makin tinggi makin tak sedap didengar.... Berulang diulang, malah makin parah.

Bang Tobing keluar dari ruang kantornya. Ia menjabat tangan Pak Djuanda, beberapa anak buah Pak Djuanda dari agency, serta pihak perusahaan rokok. Sepeninggal mereka, Bang Tobing melambaikan tangan kepada Surya.

Surya mengetuk pintu. “Yak..masuk....”

“Kemari kau duduk.... Haduh Sur, Abang minta maaf. Pihak perusahaan berubah pikiran rupanya. Mereka tak mau pake suara kau untuk jingle iklan....” ucap Bang Tobing prihatin.
“ Wwwahh, emang kenapa Bang..?” Surya berlagak kecewa.
“ Itu....katanya suara kau aneh...sudahlah...mungkin lain kali ya....” Ucap Bang Tobing.
“Hhhhh...ya sudahlah Bang..belum rezeki...” Jawab Surya melow
“Ya....”
“ya sudah permisi lah Bang...” Surya pamit.

Ketika hendak beranjak, Bang Tobing berkata,”Ehhh,aku heran dengan suara kau.. kok jadi cempreng gitu, pecah kayak suara orang habis di cekik Suzana?”
Uppsss...”Di Cekik Julia Perez sama Dewi persik Bang. Dia yang pada berantem, tapi saya yang di cekik. Katanya sayang, leher mereka kan aset Bang...” Surya berkilah.
Bang Tobing ketawa...”Ah,bisa saja kau...”
Surya ketawa,lega....”Eh,ke dokter kau sana,aku kasih ijin kau 2 hari ya..tapi tetap masuk lah,Cuma tak siaran saja...” Seru Bang Tobing.
“Oke Bang.Terima kasih banyak ya...Abang emang top dah...”
Surya menutup pintu. Hatinya berbunga. Dia kepalkan tinju nya ke udara.
Yanti geleng-geleng kepala, heran, orang kehilangan kontrak puluhan juta malah bahagia.


Penulis: Sri Suharni Maks

komentar

Lebih baru Lebih lama