No Body Perfect

No Body Perfect

No Body Perfect



Meutia..
Aku memandangmu dari jauh, dari balik cermin itu agar kau tak melihatku.
mengapa kau gelisah, kau tampak merasa tertekan, seperti ada kehampaan dalam hatimu.
Apa yang ingin kau raih? kau bingung .. seakan hatimu ingin menjerit..

Dan kau berkata padaku,
"Aku tak tahu, sebenarnya apa yang ingin ku raih dalam hidup ini?.“

Ku mengernyitkan dahi, mengapa dia bertanya seperti itu? Ku tahu jalan hidupnya nyaris sempurna, sejak masa muda ia menempuh jalan yang lurus, pribadi yang baik tidak pernah menyimpang dari yang dibenarkan, orang di sekelilingnya pun sangat menyayanginya.

"So?" tanyaku bingung sambil mengangkat bahu.

"Aku cinta Tuhanku.. aku menyukai kehidupanku, duniaku... namun mengapa masih banyak yang belum kumengerti, mengapa masih begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku.. 

Seandainya aku bisa berpikir sederhana saja... Seandainya aku bisa memahami arti hidup ini yang sebenarnya.. Aku masih terus mencari jawaban.. 


Kebenaran itu. Apakah kebenaran itu? Apakah selama ini aku sudah benar? Mengapa aku masih ragu..."

Suasana terasa hening..

Meutia..
Kau punya konsep keimanan yang berbeda, dan aku suka itu. Suatu ketika kita pernah membahas tentang wanita. Bagimu adalah sangat wajar jika seorang wanita menjadi terpelihara dengan cara mengurungnya dalam rumah dan menghindarinya dari buruknya dunia, lalu menutupinya dengan pakaian yang tertutup rapat ketika dia keluar, dan menundukkan kepalanya agar tidak melihat dan dilihat. Katamu,

”Kalau sampai ada yang tidak terpelihara dengan cara itu.. berarti kebangetan!..” Namun kau menjadi tidak yakin. mengapa ternyata masih banyak juga yang terpeleset dalam arti yang lain, akhirnya kau berkata,

"Tapi.. aku kurang setuju dengan cara itu, walau cukup banyak yang berhasil. Tapi apakah itu benar? Keberhasilan berdasarkan pengekangan? Kecuali wanita itu menyukai diperlakukan demikian, tidak lah masalah.... karena bagiku ibadah adalah membangkitkan rasa syukur.. dan rasa syukur itu timbul jika si pelaku senang melakukannya tanpa paksaan atau penderitaan tapi atas dasar kesadaran diri."

"Namun apakah semua wanita suka dituntut seperti itu? Apakah wanita-wanita itu kelak bisa menjadi bijak? Dan bisa berfikir positif bagi orang lain di luar dunianya? Mengapa masih banyak wanita di kalangan itu mudah sekali mencibir dan merendahkan orang lain yang kebetulan bukan dari kalangannya? 

Seakan-akan hanya orang-orang seperti mereka yang akan menghuni surga? Dan apakah benar surga tempat orang-orang yang suka mencibir dan kurang bijak menilai orang lain?...mengapa aku jadi bingung.. di mana yang salah...?"

Meutia.. pemikiranmu membuatku terbawa bingung..

Kau coba memahaminya dengan bergaul dengan segala kalangan, mencari tahu. Dan kau temukan walaupun ada yang memang dasarnya tidak baik, namun tidak seburuk yang dinilai orang. Katamu,

”Bila saja kita mau memahami latar belakang mereka, alasan mereka, sebab akibat, pasti kita akan bisa memahami mereka, dan tidak memvonis mereka dengan cibiran dan hinaan. Namun bagaimana bisa memahami mereka jika kita terkurung dan tidak masuk dalam dunia mereka?.”

Bagimu yang lebih baik adalah bila seorang wanita bisa ditempatkan di lingkungan atau situasi apapun dia akan tetap survive sebagai seorang yang terpelihara tanpa terbawa arus.. walau cara ini beresiko tinggi.


No Body Perfect

Namun sampai suatu hari kau bercerita tentang seorang ibu jalanan, memakimu ketika kau berusaha menghentikan pukulan ibu itu terhadap anaknya yang baru berusia sekitar 3 tahun, dengan kayu gagang sapu berkali-kali hingga kayu itu patah.

”Dia membentakku.. dia bilang apakah aku sudah merasa benar? Apakah aku merasa hebat seperti seorang pahlawan hanya karena bisa membela anak kecil dari pukulan?.”

Sejenak kau terdiam dan menghela nafas panjang, lanjutmu,

”Kata ibu itu, tahu apa kau dengan kehidupan di sini! situ dengan keberuntungan dan bernasib baik, dilahirkan dari keluarga yang baik, kehidupan yang baik, wanita terhormat dan tercukupkan… apakah situ merasa lebih baik dari saya…?."

Kata-katanya menusuk hatimu… kau bilang dengan lirih,
”Benarkah yang dikatakannya..? tahu apa aku dengan kehidupannya? aku tidak bedanya dengan wanita-wanita pencibir itu, menilai perilaku dia buruk atas perlakuannya terhadap anaknya, tanpa mencari tahu bagaimana kehidupan yang dihadapi ibu itu?. 

Bagaimana ibu itu mengurus anaknya? Apa yang ada di pikirannya? Apa betul ibu itu seburuk yang kuanggap? Karena aku tidak pernah menjadi mereka....ironis sekali.”

Matamu mulai berkaca,
"Tadinya aku kesal dengan orang-orang banyak di sekitar situ.. yang menyaksikan kejadian pemukulan.. tidak ada satupun yang perduli.. atau setidaknya menegur ibu itu... apa yang mereka khawatirkan? Nama baik? Atau memang betul-betul tidak mau peduli atau pura-pura tidak peduli atau tidak mau repot... apakah itu baik?. 

Namun aku pun tidak lebih baik dari mereka.. apakah aku menegur ibu itu dengan bijak? Dan memahami alasannya? Tidak juga.. aku hanya menganggap perbuatannya salah dan orang-orang di sekitar juga salah.. yang ada aku menyalahi semua, seakan-akan aku yang paling benar.”

Meutia kau panik..
Tiba-tiba tubuhmu menggigil.. wajahmu hampa..
Baru kali ini dalam hidupmu ketika melakukan perbuatan yang kau anggap betul.. tapi kau merasa sangat salah..

Kau bilang..
"Selama ini dalam hidupku aku memilih di pihak yang dianggap benar.. jalan yang benar, tidak pernah mau berada di pihak yang salah dan jalan yang salah, dan itu sudah kuanggap prestasi yang cukup baik sebagai manusia. Aku bangga bisa tetap berada di jalan yang benar walau bila dalam lingkungan yang salah.. aku merasa menang.. tapi benarkah..? 


Apakah itu kebenaran yang hakiki? Bagaimana kita bisa merasa benar jika kita tidak pernah berada dalam pihak yang salah? 

Bagaimana rasanya di pihak yang salah, bagaimana perasaanmu? Aku tidak tahu.. karena aku selalu di pihak yang menang.. tak mau berada di pihak yang kalah.. apakah aku sudah benar ? TIDAK...!!  aku menjadi tidak peka dan tidak bijak!."

”Meutia... aku tidak mengerti .. kau terlalu ekstrim.. bisakah kau jalani hidupmu biasa-biasa saja? terkadang ada hal-hal yang tak perlu kita pahami terlalu dalam.. biarlah semua berjalan apa adanya.. jadilah dirimu sendiri.. kau tak perlu jadi mereka untuk dapat empati mereka.. cukup kau lihat .. kau dengar .. dan kau pahami.. dan kau hormati mereka dengan apa adanya..”

Kau terdiam..tertunduk lesu..
"Kau betul.. aku hanya dalam kebingungan... entahlah..."
" No body perfect.."
" Yeah.."

Dan kami saling melepas senyum.. senyum hangat persahabatan..


===

Apakah Kau Merasa Benar?
24 Mei 2009
Penulis: Sarojini Imran 



4 Komentar

  1. Hi meutia, kenalan yuk wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak Kelvin, yuuuk kenalan hahaha

      Hapus
  2. aku suka bentuk tulisannya kak :D sukses selalu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kak terima kasih sudah mampir, btw kenapa kalau komentar di dunia masak selalu error yah, masalah captcah

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama